Thursday, March 28, 2019

Gambaran pertandingan & Penguasaan diri


Gambaran pertandingan & Penguasaan diri
1 Korintus 9 : 24-27

Pemberitaan Injil adalah keharusan. Itu bukan pilihan. Itulah sebabnya, Paulus berkata, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Dalam rangka pemberitaan Injil itu, tidak mudah dilaksanakan. Perlu berusaha keras seperti orang yang bertanding dalam suatu perlombaan yang disertai dengan penguasaan diri. Secara gamblang dan lugas, Paulus menjelaskan bagaimana hal itu dilakukan:
Pertama : Tidak mengutamakan hak tetapi kewajiban. Paulus sesungguhnya berhak untuk menerima upah, tetapi ia dengan sukarela untuk tidak menerimanya [ayat 14,18-19]. Menuntut hak hanya akan mempersulit banyak orang dimenangkan untuk Injil. Sebaliknya, menekankan pemberitaan Injil sebagai kewajiban, Paulus meyakini bahwa hal itu akan memenangan sebanyak mungkin orang. Pertanyaan, adakah hak yang harus kulepaskan?
Kedua : Perlu pendekatan yang  tepat sehingga membuat Injil dapat sampai dan diterima oleh mereka yang mendengarnya [20-23]. Pendekatan Paulus yang penuh pengorbanan yakni: bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi; bagi orang yang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat; bagi orang yang lemah aku menjadi seperti orang lemah; bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya. Intinya, demi pemberitaan Injil, aku rela mengorbankan diriku. Pertanyaan, adakah yang harus kusesuaikan dengan orang demi Injil?
Ketiga     : Perlu penguasaan diri [24-27]. Penguasaan diri digambarkan seperti seorang yang bertanding: pelari dan petinju. Tidak ada seorang pelari yang dapat mencapai garis akhir dalam pertandingan tanpa disiplin dalam menguasai diri. Tentu hal itu berkenaan kedisiplinan dalam berlatih dan mengikuti aturan pertandingan yang sering bertentangan dengan keinginan daging. Tidak ada seorang petinju hanya sekedar melayangkan tinjunya dengan sembarangan. Tidak hidup dengan asal-asalan. Gambaran itu menjadi pedoman bagi mereka yang akan menjadi pemberita Inji atau bagi mereka yang rindu menjadi terang. Mengikuti keinginan daging hanya akan menggagalkan pencapai tujuan. Demi tujuan, tidak ada jalan lain kecuali rela mengorbankan segala sesuatu yang perlu. Pertanyaan, adakah yang harus kuhindari, kutinggalkan, dan mengikuti hal-hal sulit demi pemberitaan Injil yang berhasil?

Read more

Kewajiban untuk memberitakan Injil


Kewajiban untuk memberitakan Injil
1 Korintus 9: 16-23

     Pemberitaan Injil merupakan amanat yang Tuhan telah berikan kepada murid-murid-Nya, “Karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu, …” (Matius 28:18-20). Mereka memberitakan Injil yang adalah kekuatan Allah  (Roma 1:16) di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8).
     Rasul Paulus yang merupakan hamba Kristus menyadari kewajibannya dalam dunia ini. Kewajibannya dalah memberitakan Injil. Dia memberitakan tentang Kristus. Pusat pemberitaannya adalah Kristus bukan dirinya. Hari ini kita dapat merenungkan beberapa hal mengenai kewajiban memberitakan Injil :
a.     Rasul Paulus tidak memusingkan dirinya mengenai upah (ayat 17-18).
Rasul Paulus menyadari sebagai pemberita Injil, dia mempunyai hak dan memperoleh hak itu tetapi hal itu tidak dipergunakannya. Hal itu dilakukannya supaya tidak menjadi rintangan dalam pemberitaan Injil (ayat 12b).
b.    Pembritaan Injil tujuannya untuk memenangkan jiwa-jiwa (ayat 19-23).
Injil yang adalah kekuatan Allah tidak hanya untuk orang Yahudi saja tetapi juga bagi orang non Yahudi. Rasul Paulus memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan non Yahudi. Rasul Paulus menjadi sama seperti mereka dengan tujuan untuk memenangkan mereka tetapi tidak berkompromi dengan cara hidup mereka.
     Pemberitaan Injil adalah kewajiban kita semua. Mari kita memberitakan Injil kepada semua orang supaya banyak orang yang dimenangkan dan nama Tuhan di permuliakan.

Read more

SENSITIF TERHADAP HATI NURANI SESAMA


SENSITIF TERHADAP HATI NURANI SESAMA
(1 Korintus 8:1-13)

     Kota Korintus adalah pusat kota Perdagangan Yunani dan membuatnya kaya secara ekonomi pada saat Rasul Paulus meberitakan Injil dan Gereja Tuhan berdiri sekitar antara tahun 50-an Masehi, dan juga sebagai pusat lahir dan berkembangnya filsafat Yunani dengan pengajaran gnostik yang menekankan segala sesuatu berdasarkan logika sehingga membuat masyarakat pada umumnya berpusat kepada kemampuan diri sendiri, dan kehidupan manusia secara moral sangat dipengaruhi oleh penyembahan Dewi Asmara, yang melahirkan praktek hidup seks bebas yang merusak perkawinan secara normal di tengah-tengah masyarakat pada umumnya. Kondiri ini sangat mempengaruhi kehidupan orang Kristen di kota Korintus dengan merosotnya kehidupan kerohanian anggota jemaat pada umumnya dengan bentuk-bentuk dosa antara lain sebagai berikut : Masalah moral, Hukum, perkawinan, penyembahan berhala, perpecahan dalam jemaat karna mempertentangkan kerasulan Paulus, karunia-karunia roh.
     Itulah sebabnya ketika keluarga Kloe mengutus beberapa orang (1 Kor 1:11) kepada rasul Paulus yang sedang berada di kota Efesus untuk memberitahukan permasalahan kehidupan rohani jemaat. Ketika rasul Paulus mendengar tentang kondisi jemaat di Korintus seperti itu, ia sangat bergumul dan menulis surat Korintus dalam bentuk peringatan, pengajaran dan nasehat berdasarkan iman Kristen yang berpusat kepada  Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus untuk membedakan cara hidup orang Kristen dan yang bukan orang Kristen,  dengan sebutan orang Kristen adalah ”manusia rohani” dengan ciri hidup sudah percaya kepada Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, hidup dalam pimpinan dalam Roh Kudus, hidup bersama sebagai keluarga Allah, memiliki pikiran Kristus, hidup dalam kasih tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk Tuhan dan sesama dalam “waktu yang singkat” (1 Korintus 2:15,16; 6:19,20; 1 Kor 7:29; 5:16; 2 Korintus 5:16, 17), sedangkan yang bukan Kristen dengan sebutan “manusia duniawi” dengan ciri hidup berpusat pada diri sendiri dan hidup dalam dosa (1 Korintus 2:14). Itulah sebabnya tema ibadah minggu seluruh jajaran GMII pada hari ini berbicara tentang “SENSITIF TERHADAP HATI NURANI SESAMA.”  Ada 2 pokok perenungan khusus untuk kita :
1


2
Apa artinya sensitif?
Peduli/Care: Memperhatikan, Mengetahui, mengerti dan bertindak untuk menolong.
Arti Hati Nurani Sesama
-   Secara etimologi dalam bahasa Yunani dipakai kata Syneidesis artinya "kecakapan pengetahuan bersama dengan diri sendiri, yang terkait dengan 'kesadaran' dan 'penginderaan', dan ada hubungannya dengan Penghakiman moral yang di katakan Alkitab.
-   Menurut Alkitab(PL) dan (PB), dalam catatan




New Bible Dictionary (NBD) bahwa "hati nurani" artinya alat bagi penghakiman Ilahi atas moral manusia dihadapan  Allah, diri sendiri dan sesama, hati nurani sebagai saksi untuk tujuan menghindarkan diri dari yang tidak benar, pengudusan diri. 
Dengan demikian Sensitif terhadap hati nurani sesama dalam teks firman Tuhan ini artinya berbicara tentang pengetahuan yang benar tentang Allah dan firman-Nya dalam hidup setiap orang Kristen untuk menolong orang lain dengan dasar iman (Ay 1, 2, 6), kasih (1, 3) dan kebenaran /firman Tuhan (9, 12 dan 13
 Kesimpulan:
Marilah kita sebagai orang Kristen, memiliki pengetahuan yang benar dalam segala hal untuk mengasihi Tuhan, diri sendiri dan orang lain/sesama di dunia ini dengan “waktu yang singkat” dengan dasar Iman, Kasih dan Kebenaran/ Firman Tuhan.

Read more

DUNIA SEDANG BERLALU, WAKTUNYA SANGAT SINGKAT


DUNIA SEDANG BERLALU, WAKTUNYA SANGAT SINGKAT
(1 Korintus 7: 29-31)

Berbicara tentang waktu menunjuk pada suatu masa tertentu seperti : Tahun, Bulan, Minggu, Hari, Jam Detik, dan waktu itu diatur dan ditentukan oleh Tuhan, termasuk terkait juga khusus dengan hidup dan mati manusia dan segala sesuatu yang lain ditentukan dan diatur berdasarkan kehendak-Nya, dan    Waktu yang dimaksud di dalam teks ini menunjuk atau terkait dengan umur dunia.
-     Bagi orang Ibarani yang penting dari waktu ialah lamanya berlangsung berapa lama, lebih lama atau tidak tentu.
-     Dalam Perjanjian Baru (PB) dalam bahasa Yunani chronos digunakan untuk suatu waktu tertentu (Yohanes 7:33) sedang kairos untuk suatu saat yang tepat atau saat memutuskan.
-     Berdasarkan Ensiklopedia, waktu memiliki pengertian:
1.    Penentuan Allah dalam memutuskan saat-saat memulai & mengakhiri segala sesuatu.
2.    Menunjukkan pada kekekalan dimana Allah yang menunjuk kan pada diri Allah bahwa tidak dibatasi oleh waktu manapun karna Dia adalah yang Alfa & Omega.      
3.    Dari kata waktu ini menunjukkan bahwa masa penantian Allah dalam penentuan dan penggenapan segala sesuatu dimana hanya Allah yang tau saat penentuan itu dan Allah menggenapi sekali untuk selama-lamanya di dalam Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 2:17; 1 Yohanes 2:18). Pada ay 29a memakai kata Kairos yang menunjukkan pada kedatangan Kristus yang 1 dan ke-2. (Roma 8:8;13:11; 1 Korintus 4:5) dilihat dari perspektif kekekalan pada ay 29 waktu yang masih sisa saat ini artinya waktu kekekalan menjadi semakin dekat dan semakin jelas bagi kita, kita berada dalam penantia. Konsekwensi nya adalah cara hidup kita tentang kekekalan yaitu harus fokus pada penantian kekekalan tersebut. Selamat beribadah Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

Read more

KEHIDUPAN ORANG KRISTEN SEJATI


KEHIDUPAN ORANG KRISTEN SEJATI
1 TESALONIKA 1 : 2-10

Pertama kali Paulus mengunjungi kota itu pada perjalanan misinya yang kedua. Dia melayani bersama dengan Silas dan hanya sempat melayani beberapa minggu Paulus dan Silas meninggalkan kota Tesalonika karena timbul keributan. Paulus menyuruh Timotius ke Tesalonika untuk menanyakan tentang keadaan mereka dan mengukuhkan iman mereka. Dia membawa laporan yang sangat menggembirakan. Ada beberapa persoalan dalam jemaat ini, baik tentang hal-hal yang menyangkut zaman akhir maupun hal-hal yang menyangkut etika Kristen.
Melalui firman Tuhan ini ada 3 ciri dalam kehidupan orang Kristen sejati, yaitu:
1.     Menerima firman Allah dalam segala keadaan (ayat 6)
Pernyataan Paulus ini berhubungan dengan keadaan di Tesalonika di mana ketika Paulus memberitakan Injil di sana telah terjadi keributan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya (1 Tesalonika 17:1-9). Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus tidak disenangi dan dibenci. Inilah penganiayaan, tekanan, kesusahan atau kesulitan yang dialami oleh jemaat Tesalonika dalam mengikut Yesus Kristus. Namun, dalam keadaan seperti ini, iman, kasih dan pengharapan jemaat Tesalonika tidak mundur atau kendor. Sebaliknya, mereka mau menerima firman Allah dan bertumbuh dalam iman, kasih dan pengharapan kepada Yesus Kristus. 
2.     Memiliki kesaksian hidup yang memberkati (ayat 7-8)
Jarak antara Makedonia dan Akhaya begitu jauh dan Pada penduduk kedua daerah tersebut adalah orang-orang yang menyembah berhala. Tetapi kesaksian dalam memberitakan Injil tidak berhenti bahkan iman jemaat Tesalonika tidak hanya bergema di kedua daerah tersebut, tetapi di semua tempat. Di semua tempat di sini menyatakan daerah-daerah di luar daerah Makedonia dan Akhaya. Melalui firman Tuhan ini kita juga bercermin dari kehidupan jemaat Tesalonika bahwa memberitakan Injil itu adalah tanggung jawab semua orang percaya dan didukung oleh kehidupan yang kudus sehingga Injil yang kita beritakan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. 
3.     Memiliki pertobatan yang nyata (ayat 9-10)  
Kata “berbalik” ini penting untuk diperhatikan, di mana Paulus memberikan penekanan yaitu “berbalik dari berhala-berhala kepada Allah”. Pernyataan ini menunjukkan suatu pola atau cara hidup yang jelas berbeda dari sebelumnya. Kalau dulu jemaat Tesalonika menyembah berhala-berhala maka sekarang mereka menyembah dan melayani Allah yang hidup dan yang benar. Mereka juga menaruh pengharapan mereka kepada Tuhan di mana mereka menantikan kedatangan Yesus Kristus, yang menyelamatkan mereka. Inilah pertobatan yang nyata dalam kehidupan jemaat Tesalonika. 
Orang Kristen sejati adalah orang yang menyadari dan memahami bahwa dirinya telah kembali kepada Allah yang hidup dan yang benar. Kesadaran ini akan membuat dia melakukan segala yang Tuhan mau dalam hidupnya. Ia tidak lagi melakukan segala hal yang dulu ia lakukan sebelum kembali kepada Allah. Sebagai contoh: tidak lagi pergi ke dukun atau ke kuburan untuk meminta pertolongan, tidak lagi bersungut-sungut dalam hidupnya. Intinya bahwa orang Kristen sejati memiliki pertobatan yang nyata. Maka, jadilah orang Kristen sejati yang mau menerima firman Allah dalam segala keadaan, memiliki kesaksian hidup yang memberkati dan juga pertobatan yang nyata. Dengan demikian, melalui kehidupan kita orang lain dapat mendengar, percaya dan menyaksikan kasih Tuhan yang sungguh teramat besar.

Read more

MENGENAKAN SELURUH PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH


MENGENAKAN SELURUH PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH
EFESUS 6:10-20
Diakhir suratnya kepada Jemaat di Efesus, Rasul Paulus menyampaikan hal yang sangat penting sehubungan dengan bagaimana orang percaya menjalani kehidupan di dunia yang dikuasai oleh sijahat. Orang percaya dipilih dan di panggil Allah untuk menerima segala kekayaan rohani di dalam Kristus Yesus (Efesus 1:3-8) bukan untuk menikmati hidup yang tenang, nyaman dan bergelimang harta selama di dunia namun untuk berperang melawan tipu muslihat iblis yang tidak pernah berhenti berusaha menyesatkan manusia. Sebagai orang percaya kita di ingatkan Allah bahwa ada 3 musuh yang harus kita hadapi, yaitu : Dunia, Kedagingan kita dan Iblis (Efesus 2:1-3).
Beberapa hal yang harus di ingat supaya orang percaya bisa menang dalam perjuangan selama hidupnya adalah :
1.     Menyadari kekuatan kita hanya ada didalam Tuhan Yesus (ayat 10).
Banyak orang berpikir asal sudah menerima Tuhan Yesus sudah pasti masuk sorga. Namun mereka masih memelihara apa yang dipantangkan oleh orang tuanya, takut terjadi celaka dalam hidupnya. Mereka tidak bersemangat menyambut hari Minggu, terlebih ketika hujan. Mereka takut bersaksi kepada orang-orang terdekat yang dikasihinya. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan Yesus selalu hadir dimanapun dan kapanpun dalam hidupnya karena tujuan hidupnya semata-mata hanya untuk memperkenan hati Tuhan.
2.     Mengenali Strategi dan kekuatan musuh (ayat 11-13)
Iblis dan pengikut-pengikutnya selalu berada dimana-mana untuk berusaha menjatuhkan orang yang percaya. Dalam Alkitab iblis dan setan sering dicatat sebagai musuh, penuduh, pencoba, pembunuh dan pendusta. Di ibaratkan sebagai Ular, Singa, Malaikat Terang dan Ilah jaman (Kejadian 3:1, 1 Perus 5:8, 2 Kor 11:13-15; 4:4). Perperangan kita bukan melawan manusia tetapi melawan kuasa-kuasa roh jahat.
3.     Menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ayat 13-18)
Dalam sepanjang hidupnya orang percaya harus selalu berjaga-jaga terhadap serangan sijahat dengan senjata yang disediakan Allah sendiri, yaitu :
a.        Melakukan kebenaran dan keadilan (ayat 14)
b.       Rela memberitakan Injil (ayat 15)
c.        Hidup dalam Iman (ayat 16)
d.       Firman Allah sebagai pedang Roh (ayat 17)
e.        Doa (ayat 18)


Seluruh perlengkapan senjata Allah wajib dikenakan setiap orang percaya supaya berhasil menghadapi segala serangan musuh/Iblis dan pasukannya. Kemenangan hanya ada didalam kekuatan kuasa Tuhan. Karena itu kita harus selalu ada didalam kekuatan kuasa Tuhan supaya mengalami kemenangan demi kemenangan.

Read more

Jangan Memandang Muka

Jangan Memandang Muka
(Yakobus 2:1-13)
Bagian dari firman Tuhan ini menyambung pembicaraan tentang kesalehan yang sejati dalam Yakobus Psl 1. Tanda lain dari kesalehan ini adalah tidak memandang muka. Nasehat dalam bagian ini berhubungan dengan kesenjangan ekonomi yang amat menyolok di antara yang kaya dan miskin. Masyarakat yang terdiri atas strata-strata yang berkisar pada patron-patron dan klien-klien membuat sikap memandang muka sesuatu yang lazim pada zaman itu. Kekayaan dan kedudukan menjadi ukuran segala-galanya. Tidak jarang kaum miskin dihina dan ditindas. 
a.     Yakobus 2:1-4
Topik merawat yatim piatu dan janda-janda serta menjaga diri agar tidak dicemari dunia, kini dielaborasi dalam pasal baru ini. Kata-kata "sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia" menunjukkan peran utama iman kristiani dalam kehidupan orang Kristen (ayt 1). Jadi sikap memandang muka merupakan suatu perbuatan yang hina. Kata "kumpulanmu" (ayat 2) dapat diterjemahkan menjadi "sinagoge". Dalam pertemuan di sinagoge dengan suasana beribadah. Kesalehan demikian bertolak belakang dengan kesalehan yang sejati (Yakobus 1:26,27). 
b.     Yakobus 2:5-7
Mengenai orang-orang miskin ini, penulis surat ini bertanya, "Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh (atau diterjemahkan: orang-orang miskin dalam) dunia (atau diterjemahkan: masyarakat) ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris (atau diterjemahkan: orang-orang yang berhak menerima) Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barang siapa yang mengasihi Dia?" (Ayt. 5). Jadi penulis kitab ini menemukan hal-hal yang indah pada orang-orang miskin ini. Allah telah memilih orang-orang miskin ini. Mereka kaya dalam iman. Mereka berhak menerima Kerajaan Surga. Mereka mengasihi Allah. Perhatikan, mereka dipuji bukan karena kemiskinan tetapi karena iman mereka. Sebaliknya, orang-orang yang memandang muka ini menghina orang-orang miskin. Itu sebabnya, penulis kitab bertanya, "Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?" (ayat 6). Hampir dapat dipastikan, mereka ini diperlakukan tidak baik dan tidak adil di pengadilan. Ada dua kejahatan yang orang kaya lakukan. Pertama, mereka menindas orang yang lebih lemah daripada mereka. Kedua, mereka menghina nama Tuhan. Ini berkaitan dengan iman kepercayaan.
c.     Yakobus 2:8-13
Ayat 8 sampai 13 menjelaskan bahwa orang yang memihak kepada orang kaya dengan mengorbankan orang miskin berarti membeda-bedakan orang. Orang yang melakukan hal yang demikian melanggar hukum Allah, karena tidak menunjukkan kasih kepada sesamanya. Setiap orang yang melanggar bagian dari hukum, melanggar seluruh hukum itu dan dihakimi oleh hukum itu. Kasih menjadi dasar untuk kita tidak membeda – bedakan orang lain atas nama apapun. Kasih memandang bahwa setiap orang sama dihadapan Allah baik miskin atau kaya, baik penampilannya mewah atau penapilannya kurang baik.
Saudaraku melalui bagian Firman Tuhan ini kita diajak untuk mengevaluasi diri kita dihadapan Tuhan. Bagaimanakah cara pandang kita, pola pikir kita, sikap kita, bahkan mungkin senyum kita terhadap orang yang kaya dan juga terhadap orang yang miskin. Mari kita memeriksa diri kita agar Tuhan dimuliakan jemaat diberkati
Read more

MENJADI PELAKU FIRMAN TUHAN


MENJADI PELAKU FIRMAN TUHAN.
YAKOBUS 1: 19-27
"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja;  sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."  Yakobus 1:22
Kita sering mendengar banyak orang yang berkata,  "Kalau cuma ngomong sih semua orang pasti bisa.  Coba disuruh melakukan, Tidak mudah!"  Adalah lebih mudah untuk mengoreksi, mengomentari atau menghakimi orang lain daripada memberikan teladan hidup yang baik.  Kekristenan membutuhkan bukti nyata melalui perbuatan, bukan hanya teori, karena orang Kristen adalah garam dunia dan terang dunia.  Artinya kita harus memiliki kehidupan yang berbeda dan berdampak bagi dunia.
Satu perbuatan jauh lebih berharga dari seribu kata-kata.  Setiap orang percaya dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah karena dituntut untuk membuktikan firman Tuhan dalam kehidupan nyata, bukan hanya sekedar fasih mengucapkan firman.  Tuhan Yesus menuntut kita untuk menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar!  Yakobus berkata,  "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu hakekatnya adalah mati."  (Yakobus 2:17).  Jadi, iman itu  "...bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna."  (Yakobus 2:22).  Itulah iman yang diwujudkan melalui perbuatan nyata!
Alkitab menasehatkan kita:  "...hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,"  (Yakobus 1:19).  Tetapi kita memiliki kecenderungan untuk cepat berbicara tapi lamban dalam hal mendengar  (mulut aktif, telinga pasif), padahal  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17).  Banyak dari kita yang mungkin aktif menghadiri kebaktian di gereja, acara KKR dan sebagainya, tetapi mengapa kita tidak pernah bertumbuh dan tetap saja tidak mengalami perubahan?  Karena kita hanya sebatas mendengarkan saja.  Mendengarkan firman Tuhan itu sangat penting, tapi harus disertai dengan melakukan firman yang kita dengar itu.  Mengapa masih banyak orang Kristen yang gagal menaati firman Tuhan?  Karena kita berpikir bahwa mendengarkan sama halnya dengan melakukan. 
Seberapa banyak kita telah mendengar bahkan belajar Firman Tuhan melaui berbagai metode kreatif agar mempermudah kita mengerti apa maksud Firman Tuhan tersebut. Bahkan sebelum kita memulai belajar Firman Tuhan pun kita berdoa minta pimpinan Roh  Kudus agar dapat mengerti apa maksud Tuhan melalui Firman Tuhan yang kita pelajari. Namun sangat disayangkan kita hanya sampai “sangat mengerti” tetapi tidak juga mau melakukannya. Bukan tidak bisa tetapi tidak mau.
Perhatikan!  Kita bukan hanya dengar, tapi juga harus dengar-dengaran  (taat)  untuk melakukan Firman Tuhan.
Mendengar janganlah hanya dengan telinga yang kemudian diproses oleh otak, tetapi biarlah sampai masuk ke hati, renungkan dan kemudian wujudkan melalui tindakan  (action).  Inilah yang dikehendaki Tuhan.

Read more

Home & House


Home & House
Oleh: Jafar Thamrin

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (Matius 7:24-25)
Bagi sebagian orang yang telah belajar bahasa Inggris mungkin masalah ini tidak masalah, tapi bagi yang baru belajar mungkin akan sedikit bingung. Karena kedua kata itu sama-sama artinya "rumah" dalam bahasa Indonesia.
Sebelum lanjut, coba lihat contoh-contoh berikut. ”Where is your house?” [Mana rumahmu?] ”That’s the green one” [Itu yang warnanya hijau] ”When do you go home?” [Kapan kamu pulang (ke rumah)] ”Tomorrow..” [Besok] ”Where are you doing?” [Kamu ngapain?] ”I’m cleaning my house!” [Aku membersihkan rumah] ”Where are you going? [Kamu mau kemana?] ”I’m going home!” [Aku mau pulang ke rumah]. Mudah-mudahan dari contoh di atas kita sudah bisa tahu perbedannya. Kalau pun belum, ini penjelasannya.
Kata HOUSE lebih merujuk kepada pengertian rumah secara FISIK.  Sedangkan untuk HOME lebih merujuk kepada pengertian rumah secara EMOSI/PERASAAN. 
Kata-kata di atas ada hubungannya dengan keluarga, komunitas dan gereja. Kita pernah mendengar ada kalimat yang berkata: “Broken Home”, namun kita tidak pernah mendengar kalimat "Broken House", atau "House Sweet House" tapi yang benar adalah "Home Sweet Home".  House lebih merujuk kepada pengertian rumah secara fisik sedangkan home kepada pengertian rumah secara emosi/perasaan.
Keluarga yang menjadikan Yesus Kristus sebagai pondasi dalam rumah tangga, maka di situ ada perasaan sukacita, ada damai, ada kasih, dan ada ketentraman sehingga rumah itu disebut Home, karena di dalamnya ada perasaan yang membuat orang ingin tinggal di dalamnya. Home bukan kos-kosan, di mana orang datang dan pergi tanpa ada interaksi. Tak heran kalau keluarga hanya menjadikan rumah itu sebagai house, maka yang terjadi adalah kekacauan. Suami lari dari tanggungjawab, istri yang selalu ingin ribut dan anak-anak lari pada narkoba. Home bukan bicara fisik aja tapi di dalamnya ada kebahagiaan ada interaksi dan kita terikat di dalamnya.
Gereja juga seharusnya menjadi home bukan house. Ada banyak pengerja dan jemaat menjadikan gereja itu sebagai house, ia hanya datang dan pergi, tidak mau kenal siapa-siapa dan gereja hanya tempat pelarian atau hanya ingin nebeng ngetop dalam gereja. Mereka menganggap gereja kayak hotel atau bioskop. Padahal kita pernah mendengar sebuah lagu sekolah minggu: gereja bukanlah gedungnya dan juga bukan menaranya, bukalah pintunya, lihat di dalamnya gereja adalah orangnya. Kalau gereja dijadikankan home, tidak akan ada pengerja atau jemaat yang sakit hati atau kepahitan, dan keluar dari gereja. Sebab kalau gereja dijadikan home maka apa yang kita rindu-rindukan pasti terjadi, seperti penuaian jiwa, gereja diberkati luar biasa, ada tali kasih didalamnya, saling menghormati, saling membutuhkan, saling memperhatikan dan orang-orang yang terhisap di dalamnya akan berkata: “My Church, My Home.” 
Mari jadikan keluarga, komunitas dan gereja sebagai home dan bukan house.

Read more

Wednesday, March 27, 2019

Kurang Cerdas : Keunikan atau Kelainan

Salah satu hal yang dapat menimbulkan kekecewaan di hati orang tua adalah menemukan bahwa anak yang kita kasihi ternyata tidaklah secerdas yang kita harapkan. Nilai akademiknya di bawah rata-rata dan hanya akan dapat mencapai nilai rata-rata lewat perjuangan yang berat. Sebagai orang tua, bagaimanakah seharusnya kita menyikapi fakta ini?

Download Audio
Salah satu hal yang dapat menimbulkan kekecewaan di hati orangtua adalah menemukan bahwa anak yang kita kasihi ternyata tidaklah secerdas yang kita harapkan. Nilai akademiknya di bawah rata-rata dan hanya akan dapat mencapai nilai rata-rata lewat perjuangan yang berat. Sebagai orangtua, bagaimanakah seharusnya kita menyikapi fakta ini?
PERTAMA, KITA HARUS DENGAN JELI MELIHAT DI BIDANG APAKAH ANAK MENGALAMI KESULITAN BELAJAR. Ada anak yang lambat menghafal namun cepat mengerti soal matematika. Atau, ada anak yang sukar membaca buku pelajaran sosial tetapi cepat untuk menggambar apa yang ada di imajinasinya. Bila jelas terlihat bahwa memang ia lambat dalam bidang tertentu saja, ini berarti bahwa sesungguhnya masalah utamanya bukanlah masalah tingkat kecerdasan melainkan masalah talenta. Jika demikian halnya kita harus membingkai semua ini dari kacamata yang positif. Kita tidak boleh menyalahkannya atas kekurangannya ini; sebaliknya kita mesti meneguhkan kebisaannya. Kita harus mengedepankan apa yang dapat dilakukannya dengan baik, bukan menyoroti kekurangannya.
Sayangnya kebanyakan orangtua berpendapat bahwa untuk sukses, kita harus menguasai bidang sains dan jika tidak, maka hidup pasti merana. Memang benar bahwa kebanyakan bidang sains membukakan banyak pintu pekerjaan yang baik. Namun pada kenyataannya ada banyak bidang di luar sains yang juga dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang baik. Jadi, janganlah merendahkan anak jika nilai sainsnya lemah, apalagi menakuti-nakuti bahwa masa depannya pastilah suram. Jangan mengkomunikasikan kekecewaan atas talenta yang berbeda dari apa yang diharapkan. Sebab, bila ini yang kita lakukan, anak akan mengembangkan penolakan terhadap diri sendiri dan rasa malu atas keberadaan diri. Sikap negatif ini akan membuatnya lebih terpuruk.
Namun bila ternyata kemampuannya memang kurang pada semua bidang, itu berarti kemampuannya untuk menyerap pelajaran memang kurang. Dengan kata lain, tingkat kecerdasannya di bawah rata-rata. Jika ini faktanya, memang beban akan bertambah, baik buatnya maupun buat kita. Ia akan harus menghabiskan lebih banyak waktu belajar dan kita pun mesti lebih terlibat di dalam studinya. Sebagai orangtua kita tentulah ingin dapat berbangga atas prestasi akademik anak. Itu sebabnya jika anak mempunyai tingkat kecerdasan yang terbatas, pastilah kita merasa sedih. Sungguhpun demikian, seberapapun dalamnya kesedihan, kita tidak boleh memperlihatkannya kepada anak. Apabila ia melihat bahwa kita merasa sedih dan atas keterbatasannya, ia akan mengembangkan rasa sedih dan malu terhadap keberadaan dirinya.
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membingkai kehidupannya secara positif. PERTAMA ADALAH MENGASIHINYA TANPA SYARAT. Ia perlu mengetahui dengan pasti bahwa kita mengasihinya sama seperti kita mengasihi anak yang lain. Itu sebabnya kita tidak membanggakan atau menyebut-nyebut prestasi anak yang lain di hadapannya. Kita mesti memperlakukannya sama seperti kita memperlakukan anak yang lain supaya ia tahu bahwa kita mengasihinya bukan atas dasar prestasi akademiknya.
KEDUA, OLEH KARENA KITA TIDAK BISA MEMASTIKAN MASA DEPANNYA, SEBAIKNYA JANGANLAH MEMBERIKAN KEPADANYA JAMINAN YANG BELUM TENTU DAPAT TERPENUHI. Jangan berkata bahwa pastilah ia pun akan menuai sukses dan sebagainya. Terpenting adalah kita menjanjikan bahwa kita akan senantiasa mendampingi dan menolongnya.
KETIGA, KITA HARUS MULAI MENGEKSPLORASI KEMUNGKINAN LAIN BAGINYA. Mungkin jalur akademik akan menjadi terlalu terjal baginya; mungkin kita harus mencarikan pendidikan khusus yang praktis. Makin cepat ia menemukan kebisaannya, makin cepat mengasahnya.
TERAKHIR, KITA PUN MESTI MULAI MENCARIKAN KOMUNITAS BAGINYA. Mungkin hal ini tidak terlalu menjadi masalah baginya pada usia kecil namun dengan bertambahnya usia, akan makin bertambah pula tekanan sosial yang harus dialaminya. Besar kemungkinan ia akan sulit diterima teman sebaya dan merasa dikucilkan. Itu sebabnya penting bagi kita untuk mencarikan teman yang dapat menerimanya sehingga bersama mereka, ia akan dapat beraktivitas layaknya anak-anak lain.
Firman Tuhan di Mazmur 23 mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah gembala yang baik dan setia. Ia tidak akan meninggalkan kita dan akan terus menuntun langkah hidup kita. Ingatkanlah anak akan janji pemeliharaan Tuhan ini. Sejak kecil ajarkanlah ia untuk datang kepada Tuhan agar ia tahu bahwa ada Tuhan yang mengasihi dan menjaganya.
Read more

Mengapa Masalah Pernikahan Sukar Selesai

Pertama, pada umumnya kita beranggapan bahwa pasangan kitalah yang bermasalah dan harus berubah. Kedua, kita berasumsi bahwa berubah sama dengan mengakui kekalahan. Ketiga, kita beranggapan bahwa masalah yang timbul akan selesai dengan sendirinya asalkan kita bersabar dan menyediakan waktu yang panjang. Keempat, tabungan kasih cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah. Kelima, kebiasaan hidup merupakan campuran antara unsur kepribadian dan bentukan lingkungan yang menahun.

Download Audio
T 208 A "Mengapa Masalah Pernikahan Sukar Selesai?" oleh Pdt. Paul Gunadi
Pertama, pada umumnya kita beranggapan bahwa pasangan kitalah yang bermasalah dan harus berubah. Itu sebabnya kita enggan melakukan perubahan sebab kita beranggapan bahwa tidak ada yang salah dalam diri kita. Jadi, kalau kita tidak salah, mengapa mesti berubah? Paradigma seperti ini dapat dimengerti karena memang itulah yang terjadi dalam hal lainnya. Namun pernikahan bukanlah seperti hal lainnya; pernikahan adalah kehidupan bersama dan masalah yang timbul acap kali tidak berkaitan dengan salah-benar. Kebanyakan masalah pernikahan berhubungan dengan kebiasaan hidup yang berbeda. Itu sebabnya yang dibutuhkan adalah penyesuaian-dari kedua belah pihak.
Kedua, kita berasumsi bahwa berubah sama dengan mengakui kekalahan. Setelah terlibat dalam konflik yang berkepanjangan, pada akhirnya kita terjebak dalam perebutan kekuasaan. Kita makin mempertahankan diri dan enggan berkompromi sebab kita takut dianggap lemah atau takut kepada pasangan. Masalahnya adalah, kebanyakan problem dalam pernikahan menuntut kesediaan untuk mengalah dan berkompromi. Dasar dari konflik biasanya adalah perbedaan dan untuk menjembatani perbedaan dibutuhkan kesediaan mengalah dan berkompromi.
Ketiga, kita beranggapan bahwa masalah yang timbul akan selesai dengan sendirinya asalkan kita bersabar dan menyediakan waktu yang panjang. Kenyataannya adalah, masalah yang didiamkan bukan membaik malah memburuk dengan berjalannya waktu. Kejengkelan makin menumpuk dan penyelesaian makin jauh di mata karena masalah menjadi seperti benang kusut-kita tidak tahu dari mana kita harus memulai.
Keempat, tabungan kasih cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah. Dengan berkurangnya kasih, berkurang pulalah semangat untuk menyelesaikan problem. Pada akhirnya ketidakpedulian menggantikan cinta dan kita pun makin menyesuaikan diri dengan kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain, kita menemukan cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah adalah dengan tidak menyelesaikannya. Ini adalah jalan salah yang sering ditempuh oleh banyak pasangan.
Kelima, kebiasaan hidup merupakan campuran antara unsur kepribadian dan bentukan lingkungan yang menahun. Itu sebabnya mengubahnya memerlukan waktu yang panjang dan kesabaran untuk saling mengingatkan dengan cara yang dapat diterima masing-masing. Kebanyakan kita tidak sabar dan cenderung berhenti mengingatkan setelah beberapa waktu.
Firman Tuhan: "Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka." (Amsal 28:14)
Read more

Komunikasi dalam Keluarga

Komunikasi dalam keluarga dapat disamakan dengan peran jantung dalam tubuh. Sama seperti jantung yang memompa darah ke seantero tubuh, komunikasi memompa kehidupan ke seantero keluarga. Jadi, seberapa sehatnya keluarga dapat diukur dari berapa sehatnya komunikasi dalam keluarga itu. Untuk itu kita perlu berkomunikasi guna memberi dorongan, guna mengungkapkan kasih dan kepedulian. Bagaimana caranya ? Di sini akan diulas secara praktis mengenai hal itu.
Peran komunikasi dalam keluarga dapat disamakan dengan peran jantung dalam tubuh. Sama seperti jantung yang memompa darah ke seantero tubuh, komunikasi memompa KEHIDUPAN ke seantero keluarga. Jadi, berapa sehatnya keluarga dapat diukur dari berapa sehatnya komunikasi dalam keluarga itu.
Makna Komunikasi yang Sesungguhnya
  • Kata "komunikasi" berasal dari kata, koinonia, yang berarti persekutuan dalam arti terdalamnya, yakni berbagi hidup sehingga menjadi suatu kesatuan.
  • Jadi, fungsi komunikasi yang sesungguhnya adalah penyatuan.
Namun, pada kenyataannya lebih sering kita berkomunikasi untuk hal-hal berikut ini:
  • Ingin mengetahui (maka kita bertanya)
  • Ingin orang mengetahui (maka kita bercerita)
  • Ingin memprotes (maka kita berdebat)
  • Ingin menegur (maka kita mengoreksi)
  • Ingin mempengaruhi orang (maka kita membujuk)
  • Ingin membenarkan diri (maka kita menjelaskan)
Tetapi, bagaimanakah dengan:
  • Ingin membangun dan memberi dorongan ?
  • Ingin mengungkapkan kasih dan kepedulian ?
Berapa seringnyakah kita berkomunikasi dengan tujuan tersebut di atas ? 
Berapa besar persentase kita berkomunikasi dengan tujuan seperti itu ? 
Apa penyebabnya, mengapa tidak mudah bagi kita berkomunikasi untuk membangun dan menyatakan kasih kepada satu sama lain ? 
Pada umumnya penyebabnya adalah pengaruh masa lalu, seperti:
  • Kita direndahkan (menjadikan kita mudah tersinggung).
  • Kita dikritik (menjadikan kita mudah defensif).
  • Kita didiamkan (membuat kita menyimpan perasaan di hati)
  • Kita dimarahi (membuat kita mudah memarahi orang)
Jadi, masa lalu yang buruk: 
Membuat kita lebih memfokuskan pada apa yang SALAH tentang diri kita, bukan pada apa yang benar tentang diri kita. Sebagai akibatnya, dalam berkomunikasi kita akhirnya berbuat yang sama: Lebih memfokuskan pada apa yang salah tentang orang, daripada apa yang BENAR tentang orang.
Berkomunikasi yang baik
Pada prinsipnya, kita cenderung berkomunikasi bila:
  • Kita mengetahui bahwa kita sungguh DIKASIHI atau setidaknya, dianggap penting.
  • Kita mengetahui bahwa apa yang kita katakan akan didengarkan dan DITINDAKLANJUTI.
  • Kita mengetahui bahwa kita akan BELAJAR sesuatu atau memeroleh sesuatu yang berguna untuk pertumbuhan diri kita.
Jadi, kita cenderung tidak berkomunikasi bila:
  • Kita TIDAK merasa dikasihi atau dianggap penting.
  • Kita TIDAK yakin bahwa apa yang disampaikan telah didengarkan atau ditindaklanjuti.
  • Kita TIDAK belajar atau memeroleh sesuatu yang berguna untuk pertumbuhan diri.
Nasihat Firman Tuhan dari Efesus 4:25-29
  • Mengatakan "Yang Benar" dan Mengatakan "Dengan Benar."
  • Menjadi sarana KASIH KARUNIA TUHAN.
Pada waktu ini dilakukan, maka:
  • Lebih cepat dan mudah untuk MENYELARASKAN persepsi dan perbedaan.
  • Lebih dapat mempertahankan TALI pengikat di antara kita.
  • Lebih efektif untuk memberi arahan kepada yang BENAR.
Read more

Suami yang Memimpin dan Istri yang Menolong I

Sebagai kepala yang memimpin, suami diminta Tuhan untuk MENGASIHI istri. Sebagai pendamping yang menolong, istri diminta Tuhan untuk TUNDUK kepada suami. Sayangnya tidak selalu suami dan istri berfungsi sesuai peran yang ditetapkan Tuhan. Alhasil muncullah masalah dalam pernikahan. Di sini kita akan melihat bagaimanakah suami memimpin istri dalam kasih dan bagaimanakah selayaknya istri menolong suami dalam ketundukan.
Ada banyak penyebab mengapa timbul masalah dalam pernikahan. Salah satunya adalah kegagalan suami dan istri berperan fungsi sesuai dengan desain yang telah ditetapkan Tuhan. Sebagaimana kita ketahui lewat Firman-Nya di Kejadian 2:18 dan Efesus 5:22-33, Tuhan menghendaki suami bertugas sebagai KEPALA yang memimpin istri dan istri sebagai PENDAMPING yang menolong suami.
Sebagai kepala yang memimpin, suami diminta Tuhan untuk MENGASIHI istri. Sebagai pendamping yang menolong, istri diminta Tuhan untuk TUNDUK kepada suami. Sayangnya tidak selalu suami dan istri berfungsi sesuai peran yang ditetapkan Tuhan. Alhasil muncullah masalah dalam pernikahan. Berikut kita akan melihat bagaimanakah seyogianya suami memimpin istri dalam kasih dan bagaimanakah selayaknya istri menolong suami dalam ketundukan.
MEMIMPIN adalah MENGARAHKAN:
  1. Menjadi PANUTAN yang layak dicontoh. Sangatlah penting bagi suami untuk hidup BERINTEGRITAS, yakni apa yang dikatakan sama dengan apa yang dilakukan. Sudah tentu apa yang dikatakan dan dilakukan haruslah sesuai atau mendekati standar kehidupan sebagaimana ditetapkan Firman Tuhan. Sewaktu istri melihat kehidupan suami yang berintegritas, tidak bisa tidak, ia pun tambah MENGHORMATI suami. Ketika hormat sudah bertumbuh, rasa PERCAYA pun bertunas. Alhasil istri lebih cepat dan lebih mudah MENDENGARKAN arahan suami. Itu sebabnya manakala suami ingin berfungsi sebagai pemimpin yang dapat mengarahkan istri, terlebih dahulu ia mesti mendemonstrasikan kehidupan yang berintegritas.
  2. Mengedepankan kepentingan BERSAMA di atas kepentingan pribadi. Kita adalah makhluk yang BERKEINGINAN dan berusaha untuk mewujudkan keinginan. Itu sebabnya salah satu sumber gesekan dalam pernikahan adalah kegagalan kita MENYELARASKAN keinginan. Istri menghendaki berjalan ke arah kiri, sedang suami ingin mengambil jalan ke kanan. Untuk dapat mengarahkan istri, penting bagi suami menunjukkan kepada istri bahwa dalam pengambilan keputusan, ia telah berusaha sedapatnya untuk MEMPERHITUNGKAN keinginan istri. Singkat kata, suami baru dapat mengarahkan istri bila istri yakin bahwa suami berusaha memperjuangkan keinginannya pula. Jadi, bila suami ingin dapat mengarahkan istri, penting baginya untuk pertama-tama mengenali kebutuhan dan kondisi istri. Setelah mengetahui dengan jelas, berusahalah untuk mengikutsertakan faktor istri ke dalam perencanaan hidupnya.
  3. Dapat bersikap tegas di dalam KEBENARAN, bukan kemarahan. Terlalu banyak suami yang bersikap tegas kepada istri bukan di dalam kebenaran melainkan di dalam kemarahan. Terlalu sering suami bersikap kasar kepada istri bukan karena kebenaran, melainkan karena ketidaksukaan belaka. Bila suami ingin mengarahkan istri, ia harus mengetahui apa yang benar dan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Setelah itu ia mesti menjadi orang pertama yang mengakui kesalahan atau kegagalannya hidup sesuai kehendak Tuhan. Bukan saja ia mengakuinya lewat perkataan, ia pun harus menunjukkannya lewat perbuatan yaitu ia terbuka untuk menerima teguran atau koreksi istri. Nah, didalam keterbukaan dan kesediaannya menerima koreksi atau teguran istri, suami bersikap tegas didalam kebenaran terhadap istri. Jika salah, beritahukanlah dan bila berdosa, tunjukkan dosanya. Namun penting bagi suami untuk melakukannya dengan lemah lembut serta kerendahan hati sebab ia pun manusia berdosa yang tidak luput dari kesalahan. Galatia 6:1memberi panduan yang jelas kepada kita semua, "Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri supaya kamu jangan kena pencobaan."
  4. Membuktikan diri sebagai orang yang berhikmat di dalam hal-hal KECIL. Mustahil bagi suami untuk dapat memberi arahan kepada istri bila rekaman jejaknya sarat dengan kesalahan. Kadang-kadang inilah yang terjadi. Suami memaksakan kehendaknya kepada istri namun masalahnya adalah di masa lampau terlalu sering ia membuat kesalahan. Perhitungannya meleset dan perkiraannya keliru. Jadi, jika suami bersedia mengakui bahwa memang rekaman jejaknya tidaklah mendukung, janganlah tergesa-gesa mengeluarkan pendapat apalagi memaksakan kehendak. Sebaliknya, bermusyawarahlah dengan istri dan sedapatnya buatlah keputusan berdasarkan mufakat bersama.
Read more