Tuesday, May 1, 2018

Yang Menjadi dampak usia pada Pria dalam pernikahan

Dampak Usia Pria dalam Pernikahan

Pada umumnya kita beranggapan bahwa adalah baik bila seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Namun bagaimana jika ada seorang pria yang menikah dengan wanita yang lebih tua? Perbedaan usia berdampak pada cara berpikir, menyikapi hidup dll. Sebaiknya kita menikah dengan orang yang usianya tidak terlalu jauh berbeda. Pria maksimal 10 tahun lebih tua dari wanita dan wanita jangan sampai 5 tahun lebih tua dari pasangannya.
Pada umumnya kita beranggapan bahwa adalah baik bila seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Berikut akan dibahas dampak perbedaan usia pada pernikahan agar dalam memilih pasangan faktor ini pun dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan.
  • Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah dikarenakan pada umumnya wanita lebih matang atau dewasa daripada pria. Sebetulnya belum tentu wanita lebih dewasa daripada pria yang seusia dengannya. Namun satu hal yang hampir pasti adalah bahwa pada umumnya wanita lebih siap untuk hidup berumah tangga, dalam pengertian lebih siap untuk memenuhi tuntutan berumah tangga. Setidaknya ada dua tuntutan berumah tangga yang lebih sering menjadi problem bagi pria dibanding wanita:
    • Keterikatan. Jika seorang wanita menikah dengan pria yang seusia dengannya, ada kemungkinan bahwa suaminya masih tetap ingin menjalin relasi dengan orang di luar rumah sedangkan bila ia menikah dengan pria yang lebih tua daripadanya, besar kemungkinan si suami akan lebih siap untuk terikat. Kendati semua kemungkinan ini benar namun pada faktanya tidak selalu seperti itu. Pernikahan menuntut keterikatan dan pembatasan sebab di dalam keterikatan barulah akan bertunas benih keintiman dan kepercayaan.
    • Mementingkan keluarga. Dalam usia muda kebanyakan pria akan mementingkan pengembangan kariernya. Itu sebabnya kebanyakan pria pada fase awal pernikahan tersedot pada kegiatan di luar rumah. Tidak bisa tidak, dalam pengambilan keputusan pun, pria cenderung lebih memerhatikan kepentingan kariernya dan kurang mementingkan keluarganya. Sebaliknya, wanita akan jauh lebih siap untuk memertimbangkan kepentingan keluarganya. Hal inilah yang kerap kali diasosiasikan dengan kematangan dan memang dalam hal ini, wanita jauh lebih matang daripada pria.
  • Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah secara fisik wanita lebih cepat memperlihatkan ciri penuaan. Pada kenyataannya kita semua-pria dan wanita-mengalami proses penuaan. Ada alasan mengapa kita cenderung melihat penuaan pada wanita dibanding pria:
    • Kecantikan fisik lebih merupakan identitas wanita ketimbang pria.
    • Wanita harus mengandung dan melahirkan anak.
    • Wanita mengalami mati haid. Tatkala wanita mengalami mati haid, hormon progesteron dan estrogen juga mengalami penyusutan sehingga sering kali diikuti dengan perubahan kondisi fisik pula.
  • Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah wanita itu sendiri memang membutuhkan figur pengayom bak seorang bapak kepada anak. Secara naluriah wanita cenderung tertarik dengan pria yang matang dan kurang tertarik dengan pria yang dianggapnya tidak dewasa
Firman Tuhan: "Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari". (Amsal 4:18) Hidup benar adalah hidup takut akan Tuhan dan hidup berhikmat. Memilih pasangan hidup memerlukan keduanya. Namun satu hal yang perlu dicamkan adalah sebaiknya janganlah memilih pasangan hidup yang jauh berbeda usia dari kita. Perbedaan usia yang terlalu jauh memisahkan dua dunia yang berbeda pula.
Read more

Pria berkomunikasi dengan lembut, apa bisa?

Pria:Berkomunikasi Lebih Lembut

Salah satu kelemahan pria adalah berkomunikasi dengan istri secara lembut. Pria bisa menjadi seorang orator yang baik namun belum tentu ia dapat berkomunikasi dengan istri secara lembut. Mengapakah demikian? Pembahasan ini menjelaskan cara-cara agar suami belajar berkomunikasi secara lembut .
Salah satu kelemahan pria adalah berkomunikasi dengan istri secara lembut. Pria bisa menjadi seorang orator yang baik namun belum tentu ia dapat berkomunikasi dengan istri secara lembut. Mengapakah demikian?
Berikut akan dipaparkan anatomi bicara dan emosi pria yang mengatur jalannya komunikasi.
·         Penyebab Mental
Kita mafhum bahwa bicara merupakan sebuah proses fisik dan mental. Bukan saja kita menggerakkan lidah dan mulut, kita pun menggunakan pikiran sewaktu berbicara. Makin erat jarak antara aktivitas mental atau pikiran dengan pergerakan lidah, maka makin cepat dan mudah terurai perkataan.
Entah mengapa, bagi kebanyakan pria, mengeluarkan sederet gagasan yang telah tersusun dalam benaknya, tidaklah semulus yang diinginkan. Singkat kata bagi kebanyakan pria, berbicara bukanlah sebuah aktivitas yang alamiah—yang dapat begitu saja mengalir keluar dari pikiran ke lidah. Sebaliknya dengan wanita. Bagi kebanyakan wanita, berbicara merupakan aktivitas yang begitu alamiah sehingga dapat dilakukan dengan mudah.
·         Penyebab Emosional
Bagi kebanyakan pria, emosi bukanlah sesuatu yang merupakan bagian hidupnya yang alamiah. Hanya dalam waktu dan kondisi tertentu pria merasa bebas untuk mengungkapkan emosinya, terutama emosi negatif, seperti kemarahan. Bagi kebanyakan pria, hidup yang diidamkan adalah hidup tanpa gejolak emosi. Itu sebabnya sewaktu merasakan emosi (negatif), pria berusaha keras untuk meredamnya. Sebaliknya dengan wanita. Bagi kebanyakan wanita, emosi merupakan bagian dirinya yang hakiki. Emosi bukanlah sesuatu yang dianggap asing atau berasal dari luar dirinya. Nah, ketika hendak berbicara tentang suatu hal yang bermuatan emosi, kesulitan pria untuk mengungkapkannya menjadi dobel. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, secara mental, tidak mudah dan tidak cepat buat pria mengatakan isi hatinya. Nah, ditambah dengan kesulitan dan keengganannya mengutarakan emosi, akhirnya pria mengalami kesukaran besar untuk mengutarakan pikiran yang bermuatan emosi.
Inilah yang kerap melahirkan kekasaran pada pria. Oleh karena ia sukar dan lambat berkata-kata, ia mudah frustrasi. Oleh karena ia sukar mengelola emosi, ia cenderung marah dan kasar ketika harus menyampaikan sesuatu yang bermuatan emosi. Alhasil tatkala bicara dengan istri, nada tinggi dan kasar kadang muncul.
Bagaimana Berkomunikasi dengan Lembut
·         PERTAMA, PRIA MESTI LEBIH MENYADARI APA YANG TERJADI PADA DIRINYA. 
Ia harus menyadari bahwa untuk ia berkata-kata, ia perlu waktu dan usaha. Ia tidak bisa dengan begitu saja mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya apalagi bila bermuatan emosi tanpa ledakan emosi.
·         Nah, setelah menyadarinya, PRIA HARUS MENYESUAIKAN DIRINYA DENGAN KONDISI TERSEBUT. Misalnya, jika pria sudah merasakan bahwa besar kemungkinan bila ia bicara, ia akan bersikap kasar, sebaiknya ia meminta pasangan untuk memberinya waktu terlebih dahulu. Dan, sudah tentu ia harus meminta pasangan untuk tidak memborbardir dirinya dengan kemarahan atau serangan lain.
·         PADA SAAT TENANG KEMBALI, ADA BAIKNYA PRIA MEMINTA ISTRI UNTUK PERTAMA-TAMA, HANYA DUDUK MENDENGARKANNYA, TANPA MEMBERI REAKSI APA-APA. 
Ketika suami melihat bahwa istri tidak akan menyerangnya, besar kemungkinan ia akan lebih tenang. Dalam situasi tenang TANPA TEKANAN, pria akan dapat mengutarakan isi hatinya dengan lebih lembut.
·         Pria memang mempunyai keterbatasan dalam hal bicara lembut namun itu tidak berarti pria boleh terus bersikap kasar. PRIA HARUS MELIHAT INI SEBAGAI KELEMAHAN YANG PERLU DIPERBAIKI, BUKAN KEUNIKAN YANG MESTI DIPERTAHANKAN. Firman Tuhan di Matius 5:5 berkata, "Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi." Juga, dalam Galatia 5:23, kelemahlembutan dicantumkan sebagai wujud nyata dari buah Roh yakni kasih. Jadi, dari sini jelas terlihat bahwa Tuhan menghendaki kita menjadi orang yang lemah lembut, bukan kasar. Teruslah berusaha untuk berkomunikasi dengan istri secara lebih lembut.
Read more

Apa konflik pria dan pasangannya dalam Rumah Tangga?

Konflik Rumah Tangga antara Pria dan pasangannya

Ada banyak soal yang membuat pria terlibat konflik dengan istrinya. Sudah tentu penyelesaian konflik beragam dan tidak dapat diseragamkan secara sederhana. Namun pada akhirnya bagaimanakah kita berkonflik dan apakah kita dapat menyelesaikannya bergantung pada diri kita sendiri, yaitu apakah kita bisa mengendalikan diri. Langkah menuju pengendalian diri bertahap dan melewati proses namun langkah awalnya adalah sama yaitu mengenali diri terlebih dahulu. Berikut akan dipaparkan beberapa hal yang pada umumnya dialami oleh pria sebelum dan pada waktu konflik.
Ada banyak soal yang dapat membuat kita terlibat konflik dengan istri. Sudah tentu penyelesaian konflik beragam dan tidak dapat diseragamkan secara sederhana. Namun pada akhirnya bagaimanakah kita berkonflik dan apakah kita akan dapat menyelesaikannya bergantung pada diri kita sendiri, yaitu apakah kita bisa mengendalikan diri. Langkah menuju pengendalian diri bertahap dan melewati proses namun langkah awalnya adalah sama yaitu mengenali diri terlebih dahulu. Berikut akan dipaparkan beberapa hal yang pada umumnya dialami oleh pria sebelum dan pada waktu konflik.
  • Pada umumnya KITA TIDAK BEGITU CAKAP MENGHADAPI KEJUTAN YANG BERSIFAT EMOSIONAL,
    seperti letupan kemarahan, kebingungan, tuduhan dan sebagainya. Kecenderungan kita sewaktu istri tiba-tiba meletup adalah melihatnya sebagai sebuah krisis yang mesti dikendalikan. Tidak heran dalam kondisi "terkejut" kita lebih memfokuskan energi untuk mengendalikan emosi istri ketimbang membereskan masalah yang diangkatnya.
  • Mungkin kita bertanya-tanya, mengapakah kita tidak begitu cakap menghadapi kejutan emosional? Jawabannya adalah, untuk dapat menghadapi masalah kita membutuhkan ketenangan. Singkat kata, sebagai laki-laki kita memunyai kebutuhan akan ketenangan yang besar. Itu sebab kita tidak begitu mudah menghadapi gangguan yang mengusik ketenangan.
  • Hal kedua yang perlu kita ketahui adalah PADA UMUMNYA KITA TIDAK FASIH LIDAH MENGUTARAKAN SEGALA HAL YANG BERMUATAN EMOSI.
    Sewaktu sedih dan kecewa, kita sukar mengatakannya. Pada saat takut, kita sulit mengakuinya. Dan tatkala marah, kita tidak mudah mengungkapkannya lewat kata-kata.
  • Masalahnya adalah kita cenderung diam ketika merasa sedih, kecewa, dan takut tetapi cenderung bertindak agresif sewaktu marah. Singkat kata oleh karena kita tidak dapat mengutarakan kemarahan dengan tertata lewat perkataan, kemarahan itu cenderung meletup secara fisik. Itu sebabnya penting bagi kita untuk dapat mengenali dorongan adrenalin sewaktu mengalir dengan lebih cepat di dalam tubuh dan berbuat sesuatu supaya tidak berakhir dengan ledakan.
  • Hal ketiga yang penting kita sadari adalah PADA DASARNYA KITA MEMBUTUHKAN INSTRUKSI ATAU PENJELASAN KONKRET DARI ISTRI UNTUK DAPAT MEMAHAMI APA YANG DIPIKIRKAN DAN DIHARAPKANNYA.
    Kata-kata seperti, "butuh disayangi" atau "butuh dimengerti" tidaklah bermakna terlalu jelas buat kita. Jadi, janganlah ragu untuk bertanya dan meminta contoh konkret akan apa yang diharapkannya.
  • Hal keempat yang perlu kita ketahui adalah SEBENARNYA KITA ADALAH ORANG YANG SENSITIF JIKA TOPIK KONFLIK MENYANGKUT TANGGUNG JAWAB DAN KEMAMPUAN KITA.
    Besar kemungkinan ini berkaitan dengan dunia kita sebagai laki-laki yang dinilai berdasarkan prestasi kerja. Tampaknya kita membawa konsep kerja ini ke dalam pernikahan sehingga keluhan istri menjadi tidak beda dengan evaluasi kerja yang tidak memuaskan. Tidak heran mendengar keluhan istri, reaksi kita biasanya adalah menarik atau menyalahkan diri ("tidak berguna" dan "tidak cukup baik") atau bersikap defensif alias membenarkan diri. Itu sebab penting buat kita menyampaikan kepada istri bahwa dalam menyampaikan keluhan atau tuntutan, tolong katakan pula hal lain yang telah kita lakukan dengan baik. Jangan sampai perhatiannya hanya terfokus pada yang "kurang" saja.
  • Hal kelima yang perlu kita sadari adalah PADA HAKIKINYA KITA ADALAH MANUSIA YANG LEBIH RASIONAL DARIPADA SPIRITUAL.
    Jauh lebih mudah buat kita berpikir daripada berdoa; mencari jalan keluar daripada mencari Tuhan; memecahkan masalah daripada menyerahkan masalah kepada Tuhan. Itu sebabnya acap kali Tuhan memakai konflik rumah tangga untuk menumbuhkan iman dan buah roh di dalam hidup kita.
  • Lewat konflik, Tuhan mengingatkan kita bahwa kita terbatas, bahwa kita bisa salah, bahwa kita telah gagal, dan bahwa kita membutuhkan Tuhan—dan istri kita—untuk mengarungi lautan kehidupan ini. Itu sebab Firman Tuhan di I Petrus 3:7 haruslah kita ingat selalu: "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."
Read more

Apa ciri Pria yang Setia

Ciri Pria yang Setia

Sering kali kita menjumpai banyak istri yang mengeluh karena figur suaminya yang negatif. Dan ini membawa dampak yang negatif pula, baik untuk istri maupun anak-anaknya. Melalui materi ini, kita ingin mengerti bagaimanakah pria yang setia kepada Tuhan dan keluarganya.
Dewasa ini kita mengalami krisis figur pria yang layak menjadi panutan. Terlalu banyak pria yang justru menyebarkan citra negatif; akibatnya, kita kehilangan kesempatan belajar dari figur pria yang positif.
Beberapa citra negatif yang kerap merebak adalah:
  1. Tidak setia
  2. Kasar
  3. Semena-mena
  4. Mau menang sendiri
  5. Mementingkan diri dan tidak memikirkan orang
  6. Kejam
  7. Penipu, tidak jujur
  8. Berkedok kebaikan untuk mencapai maksudnya
  9. Tidak rohani
  10. Tidak bisa mengusai diri
  11. Mudah jatuh ke dalam pencobaan.
Sebenarnya, pria seperti apakah yang mencerminkan citra kristiani?
  1. "Rohani-mengutamakan Tuhan di dalam hidupnya dan takut akan Tuhan. Yusuf berkata, "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kejadian 39:9)
  2. Rendah hati-bersedia mengakui dan belajar dari kesalahan, bersedia meminta maaf. Daud berkata kepada Nabi Natan, "Aku sudah berdosa kepada Tuhan." (2 Samuel 12:13)
  3. Peduli dengan yang lain-tidak mementingkan diri melainkan memikirkan kepentingan orang. Doa Musa kepada Tuhan untuk umat Israel yang tengah memberontak, "Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari." (Bilangan 14:19)
  4. Lembut-tidak menyalahgunakan kekuatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bisa menguasai emosinya. Daud melarang orang-orang-Nya membunuh Saul, "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan …" (1 Samuel 24:7)
  5. Berani-berprinsip dan rela membayar harga untuk keyakinannya. Sikap Mordekhai kepada Haman, "Pada hari itu keluarlah Haman dengan hati riang dan gembira; tetapi ketika Haman melihat Mordekhai di pintu gerbang istana raja, tidak bangkit dan tidak bergerak menghomrati dia, maka sangat panaslah hati Haman kepada Mordekhai." (Ester 5:9)
  6. Setia-kepada Tuhan dan keluarganya. "Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa." (Ayub 1:5)
Read more

Pria tanpa pasangan

Kenapa Pria Tanpa Pasangan

Mendapatkan jodoh tidaklah semudah yang dibayangkan, pria pun juga mengalami kesulitan di dalam mendapatkan jodoh. Apa saja yang membuat pria susah untuk mendapatkan jodoh? Dan apa yang yang harus dilakukan jika masih belum memiliki jodoh?
Salah satu misteri dalam hidup adalah perjodohan. Ada orang yang dapat menemukan pasangan hidupnya dengan mudah, tetapi ada pula yang mesti bersusah payah menemukannya, bahkan tidak jarang, pada akhirnya tidak menemukannya sama sekali. Alhasil ia harus menjalani hidup tanpa pasangan. Marilah kita melihat mengapakah bagi sebagian pria jodoh begitu susah ditemukan.
  • • Ada pria yang susah menemukan jodoh karena memang ia mempunyai STANDAR YANG TIDAK REALISTIK. 
    Sebagai contoh, mungkin ia mengharapkan istri yang mandiri sekaligus tunduk kepadanya, tanpa berani menggugat pendapatnya. Itu sangatlah sulit. Jadi, bila kita mengharapkan istri yang mandiri, kita pun mesti siap untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang dua arah, bukan searah. Singkat kata, dalam pemilihan jodoh kita harus memahami bahwa tidak ada seorang pun yang 100% sesuai dengan pengharapan kita. Yang mesti kita tanyakan adalah, apakah kita dapat atau bersedia hidup bersama dengan bagian yang tidak sesuai dengan pengharapan itu.
  • • Ada pula pria yang susah mendapatkan jodoh karena ia merasa MINDER DENGAN DIRINYA.
    Mungkin ia memunyai penampilan yang tidak menarik atau berprestasi akademik yang rendah, atau berlatar belakang sosial-ekonomi lemah. Sebagai akibatnya ia tidak berani mendekati wanita dan bersikap pasif. Bahkan kalaupun ada wanita yang mendekatinya, ia takut untuk menunjukkan rasa sukanya sebab ia beranggapan bahwa pastilah wanita itu tidak tertarik kepadanya. Singkat kata, masalah utamanya adalah takut penolakan.
  • • Berikut ada pria yang susah mendapatkan jodoh karena ia BERKONSEP DIRI KELIRU. 
    Maksud saya, ia beranggapan bahwa ia adalah seorang pria yang tampan, berkualitas dan layak mendapatkan wanita yang cantik, cerdas, baik dan sebagainya. Masalahnya adalah, ia tidak seperti itu. Namun berhubung ia beranggapan diri setinggi itu, pada akhirnya ia tidak akan pernah menemukan jodoh yang dianggapnya sepadan dengan dirinya.
  • • Terakhir ada pria yang susah mendapatkan jodoh oleh karena KARAKTERNYA YANG TIDAK BAIK.
    Sebagai contoh ia adalah seorang pemarah sehingga membuat wanita takut bersamanya. Mungkin ia seorang yang kikir sehingga perempuan tidak suka dekat dengannya. Atau, mungkin ia seorang yang sombong. Alhasil ia kesulitan mendapat jodoh.
Bila demikian, apakah yang mesti dipersiapkan oleh pria sehingga ia dapat memperoleh pasangan hidupnya. Berikut adalah beberapa saran:
  • • Pertama, ia harus berdoa dan meminta Tuhan MEMBENTUK DIRINYA AGAR SIAP MENIKAH. Maksud saya, sebelum ia berdoa meminta pasangan hidup, terlebih dahulu ia mesti meminta Tuhan untuk menyiapkan dirinya supaya jika ia bertemu dengan orang itu, ia telah siap untuk menjadi seorang suami dan ayah baik. Galatia 5:22-23memuat buah Roh Kudus yang dijabarkan secara lebih terperinci dalam sembilan karakteristik, "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." Bila kita memiliki kualitas ini, kita pun siap untuk berumah tangga.
  • • Kedua, ia mesti berdoa untuk MEMINTA HIKMAT sebagaimana dikatakan dalam Yakobus 1:5, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadamu." Mintalah hikmat kepada Tuhan untuk melihat dengan jernih. Kadang kita terperosok ke dalam sikap "menggampangkan" sehingga mengabaikan ketidakcocokan atau terkuasai oleh nafsu sehingga hanya melihat faktor penampilan fisik.
  • • Ketiga, BERGAULLAH SECARA NORMAL, dalam pengertian jangan memandang setiap wanita sebagai calon istri. Jadikan pertemanan sebagai tujuan perkenalan sebab relasi yang sehat diawali oleh pertemanan, bukan pertunangan. Wanita ingin tahu dengan pasti bahwa kita dengan tulus mengasihinya karena dirinya apa adanya, bukan karena kita butuh kawin.
Kesimpulan
Kita mesti beriman bahwa Tuhan memelihara hidup kita dengan sempurna. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar kehendak-Nya. Jadi, bila saat ini kita masih belum mendapatkan pasangan hidup, kita pun mesti percaya bahwa semua ini berada dalam kehendak Tuhan yang bukan saja sempurna, tetapi juga baik. Ia tidak merancang sesuatu yang jahat. Dengan kata lain, tidak memunyai pasangan hidup bukanlah rancangan Tuhan yang jahat. Sebaliknya, ini adalah rancangan Tuhan yang baik.
Read more