Thursday, March 28, 2019

Gambaran pertandingan & Penguasaan diri


Gambaran pertandingan & Penguasaan diri
1 Korintus 9 : 24-27

Pemberitaan Injil adalah keharusan. Itu bukan pilihan. Itulah sebabnya, Paulus berkata, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Dalam rangka pemberitaan Injil itu, tidak mudah dilaksanakan. Perlu berusaha keras seperti orang yang bertanding dalam suatu perlombaan yang disertai dengan penguasaan diri. Secara gamblang dan lugas, Paulus menjelaskan bagaimana hal itu dilakukan:
Pertama : Tidak mengutamakan hak tetapi kewajiban. Paulus sesungguhnya berhak untuk menerima upah, tetapi ia dengan sukarela untuk tidak menerimanya [ayat 14,18-19]. Menuntut hak hanya akan mempersulit banyak orang dimenangkan untuk Injil. Sebaliknya, menekankan pemberitaan Injil sebagai kewajiban, Paulus meyakini bahwa hal itu akan memenangan sebanyak mungkin orang. Pertanyaan, adakah hak yang harus kulepaskan?
Kedua : Perlu pendekatan yang  tepat sehingga membuat Injil dapat sampai dan diterima oleh mereka yang mendengarnya [20-23]. Pendekatan Paulus yang penuh pengorbanan yakni: bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi; bagi orang yang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat; bagi orang yang lemah aku menjadi seperti orang lemah; bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya. Intinya, demi pemberitaan Injil, aku rela mengorbankan diriku. Pertanyaan, adakah yang harus kusesuaikan dengan orang demi Injil?
Ketiga     : Perlu penguasaan diri [24-27]. Penguasaan diri digambarkan seperti seorang yang bertanding: pelari dan petinju. Tidak ada seorang pelari yang dapat mencapai garis akhir dalam pertandingan tanpa disiplin dalam menguasai diri. Tentu hal itu berkenaan kedisiplinan dalam berlatih dan mengikuti aturan pertandingan yang sering bertentangan dengan keinginan daging. Tidak ada seorang petinju hanya sekedar melayangkan tinjunya dengan sembarangan. Tidak hidup dengan asal-asalan. Gambaran itu menjadi pedoman bagi mereka yang akan menjadi pemberita Inji atau bagi mereka yang rindu menjadi terang. Mengikuti keinginan daging hanya akan menggagalkan pencapai tujuan. Demi tujuan, tidak ada jalan lain kecuali rela mengorbankan segala sesuatu yang perlu. Pertanyaan, adakah yang harus kuhindari, kutinggalkan, dan mengikuti hal-hal sulit demi pemberitaan Injil yang berhasil?

Load disqus comments

0 komentar