Gambaran
pertandingan & Penguasaan diri
1
Korintus 9 : 24-27
Pemberitaan Injil adalah keharusan. Itu bukan pilihan.
Itulah sebabnya, Paulus berkata, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan
Injil. Dalam rangka pemberitaan Injil itu, tidak mudah dilaksanakan. Perlu
berusaha keras seperti orang yang bertanding dalam suatu perlombaan yang
disertai dengan penguasaan diri. Secara gamblang dan lugas, Paulus menjelaskan
bagaimana hal itu dilakukan:
Pertama : Tidak mengutamakan
hak tetapi kewajiban. Paulus sesungguhnya berhak untuk menerima upah, tetapi ia
dengan sukarela untuk tidak menerimanya [ayat 14,18-19]. Menuntut hak hanya
akan mempersulit banyak orang dimenangkan untuk Injil. Sebaliknya, menekankan
pemberitaan Injil sebagai kewajiban, Paulus meyakini bahwa hal itu akan
memenangan sebanyak mungkin orang. Pertanyaan, adakah hak yang harus
kulepaskan?
Kedua : Perlu pendekatan yang tepat sehingga membuat Injil dapat sampai dan
diterima oleh mereka yang mendengarnya [20-23]. Pendekatan Paulus yang penuh
pengorbanan yakni: bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya
aku memenangkan orang-orang Yahudi; bagi orang yang yang hidup di bawah hukum
Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat; bagi orang
yang lemah aku menjadi seperti orang lemah; bagi semua orang aku telah menjadi
segala-galanya. Intinya, demi pemberitaan Injil, aku rela mengorbankan diriku.
Pertanyaan, adakah yang harus kusesuaikan dengan orang demi Injil?
Ketiga : Perlu penguasaan diri
[24-27]. Penguasaan diri digambarkan seperti seorang yang bertanding: pelari
dan petinju. Tidak ada seorang pelari yang dapat mencapai garis akhir dalam
pertandingan tanpa disiplin dalam menguasai diri. Tentu hal itu berkenaan
kedisiplinan dalam berlatih dan mengikuti aturan pertandingan yang sering
bertentangan dengan keinginan daging. Tidak ada seorang petinju hanya sekedar
melayangkan tinjunya dengan sembarangan. Tidak hidup dengan asal-asalan.
Gambaran itu menjadi pedoman bagi mereka yang akan menjadi pemberita Inji atau
bagi mereka yang rindu menjadi terang. Mengikuti keinginan daging hanya akan
menggagalkan pencapai tujuan. Demi tujuan, tidak ada jalan lain kecuali rela
mengorbankan segala sesuatu yang perlu. Pertanyaan, adakah yang harus
kuhindari, kutinggalkan, dan mengikuti hal-hal sulit demi pemberitaan Injil
yang berhasil?
0 komentar