Monday, April 30, 2018

Apa sih masalah Ego Pria?

Seperti apa Masalah Ego Pria

Sebenarnya istilah ego berarti diri.Namun dalam perkembangannya, istilah ini dipakai untuk merujuk kepada sikap mementingkan diri. Dalam pembahasan kali ini penggunaan istilah ego diartikansebagai sesuatu yang kita kenali sebagai diri. Secara khusus saya akan menyoroti hal ego pada pria, yang sayangnya kerap berkonotasi negatif, terutama bila dikaitkan dengan keluarga. Apa yang perlu kita ketahui tentang ego atau diri pria ?
Sebenarnya istilah ego berarti diri. Namun dalam perkembangannya, istilah ini dipakai untuk merujuk kepada sikap mementingkan diri. Dalam pembahasan kali ini saya akan menggunakan istilah ego sebagai sesuatu yang kita kaitkan dengan dan kenali sebagai diri. Secara khusus saya akan menyoroti hal ego pada pria, yang sayangnya kerap berkonotasi negatif, terutama bila dikaitkan dengan keluarga.


Yang perlu kita ketahui tentang ego atau diri pria adalah :


(1)TERBENTUK LEWAT PERLAKUAN LINGKUNGAN. Pada masa kecil ego pria terbentuk dalam relasinya dengan orang tua dan setelah itu, ego pria terbentuk lewat interaksinya dengan teman maupun guru di sekolah. Nah, pada umumnya lingkungan--baik keluarga maupun guru dan teman di sekolah--memperlakukan anak lelaki sebagai diri yang kuat atau tangguh. Itu sebabnya mulai dari permainan sampai olahraga untuk anak lelaki, hampir semua bersifat fisik dan menuntut ketahanan serta kekuatan.


Sudah tentu perlakuan dan tuntutan lingkungan tidaklah salah. Kelebihan kekuatan fisik pria menjadikannya cocok berperan sebagai pelindung wanita dan anak-anak. Juga kelebihan fisik pria menjadikannya sanggup melakukan pekerjaan berat guna menafkahi keluarga. Tidak heran, sejak anak kecil lingkungan sudah mulai mempersiapkan anak lelaki untuk menjadi kuat dan tangguh sehingga pada akhirnya mampu mengemban peran sebagai PELINDUNG dan PENCARI NAFKAH bagi keluarga. Dalam prakteknya untuk menjadi kuat dan tangguh anak lelaki dibentuk untuk TIDAK MUDAH AMBRUK DALAM TEKANAN dan dapat BERTAHAN DALAM PENDERITAAN. Anak lelaki pun dibentuk supaya TIDAK GAMPANG MENYERAH--sebesar apa pun rintangan yang mesti dihadapi. Alhasil setelah besar anak lelaki mempunyai diri atau ego yang kuat dan tangguh--tidak mudah ambruk, tidak gampang menyerah dan tahan menderita.


(2) Cenderung KEHILANGAN KEPEKAAN TERHADAP PENDERITAAN DAN KELEMAHAN. Singkat kata untuk dapat bertahan dalam penderitaan dan sanggup menahan sakit maka anak lelaki terpaksa MENGABAIKAN penderitaan dan rasa sakit itu sendiri. Inilah yang membuat diri atau ego pria secara alamiah sulit memahami dan menyelami penderitaan dan rasa sakit. Tidak heran di dalam pernikahan, istri sering mengeluhkan KEKURANGTANGGAPAN SUAMI terhadap perasaan sedih atau sakitnya. Tidak jarang istri pun marah kepada suami karena suami bersikap tidak peka dan terlalu keras kepada anak. Nah, semua itu adalah akibat dari pembentukan diri atau ego pria yang mengharuskannya untuk tidak terlalu memberi perhatian terhadap perasaan--baik itu rasa sakit atau kesedihan.


(3) PEMBENTUKAN EGO JUGA MENGALAMI PENYIMPANGAN. Mari kita perhatikan kembali ketiga karakteristik ego pria yang telah kita bahas tadi: (a) tidak mudah ambruk dalam tekanan, (b) sanggup bertahan dalam penderitaan dan (c) tidak gampang menyerah dalam menghadapi rintangan.


Sesungguhnya tidak ada satu rumus atau tuntutan yang mengatakan bahwa untuk dapat kuat dan tangguh maka anak lelaki tidak boleh MENGAKUI bahwa ia tertekan, bahwa ia menderita dan bahwa ia tengah berjuang melawan rintangan. Sayangnya itulah yang dikomunikasikan oleh lingkungan kepada anak lelaki. Ia harus kuat dan tangguh tanpa boleh mengakui bahwa ia letih dan kesakitan. Penyimpangan yang terjadi adalah bahwa diri atau ego pria tidak semestinya mengakui adanya KELEMAHAN dan KEBUTUHAN.


Tidak heran dalam pernikahan masalah ini menjadi wilayah konflik. Sering kali istri mengeluh bahwa suami sulit meminta maaf, bahwa suami menuntut tapi tidak memberitahukan kebutuhannya dan bahwa suami marah bila dianggap tidak bisa. Ya, inilah akibat dari penyimpangan. Akhirnya untuk menjadi kuat dan tangguh, ego pria menjadi diri yang sulit mengakui kelemahan dan kebutuhan, padahal MENGAKUI tidak sama dengan MENYERAH.


(4) MEMBUTUHKAN PENEBUSAN KRISTUS YANG MENYEDIAKAN KEMERDEKAAN DAN KEKUATAN. Penebusan Kristus di kayu salib memberikan kepada kita, orang percaya, kehidupan yang baru. Di dalam kehidupan yang baru ini kita memperoleh--dan seyogianya--menikmati kemerdekaan untuk menjadi diri apa adanya. Kita tidak diselamatkan oleh karena perbuatan melainkan oleh karena kasih karunia Allah. Tuhan menerima kita apa adanya. Inilah kemerdekaan sejati.


Karya penebusan Kristus memberi KEMERDEKAAN kepada ego atau diri pria untuk menjadi diri apa adanya, lengkap dengan kelemahan dan kebutuhannya. Roma 5:8 mengingatkan, Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Kristus mati dan sudah menerima kita apa adanya bahkan sewaktu kita tidak kuat dan tidak tangguh--sewaktu kita lemah dan hampir menyerah.


Karya penebusan Kristus juga memberi KEKUATAN kepada ego atau diri pria untuk menjadi kuat dan tangguh menghadapi tekanan dan rintangan kehidupan. Pada saat lemah dan hampir menyerah, datanglah kepada Kristus dan Ia akan memberi kekuatan. Singkat kata sewaktu kita mengakui kelemahan dan kebutuhan, justru di saat itulah Tuhan mengaruniakan kekuatan kepada ego atau diri pria. II Korintus 4:7 meneguhkan, Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Ya, sesungguhnya kita adalah bejana untuk Tuhan, yang terbuat dari tanah liat.

Read more

Gimana sih Pria tengah baya?

Pria Tengah Baya

Pada mulanya sebagian besar pasangan muda merintis perkawinan mereka sebagai pasangan yang serba terbatas, yang menatap masa depan dengan penuh harapan. Namun, ketika mereka sudah hidup berkecukupan ternyata kebahagiaan yang telah diperoleh dengan susah payah itu dikacaukan oleh orang ketiga. Mengapa hal ini sering terjadi pada setiap pasangan suami istri (pasutri) yang bertahun-tahun sebelumnya hidup bersama dalam hubungan yang harmonis?
Persoalan ini ternyata bukan hanya terjadi di negara-negara yang sedang berkembang saja, melainkan juga terjadi di negara-negara maju, bahkan menjadi masalah internasional.
Usia Krisis Pria
Beberapa riset menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen pria mengalami masa transisi (peralihan) tengah baya. Menurut Daniel Levinson dari Yale University, yang menghabiskan satu dasawarsa untuk mengikuti 40 pria dengan cermat, menyimpulkan bahwa perkembangan paling berbahaya adalah sekitar usia 40 tahun dan hal itu berlangsung sekitar lima tahun. Ada yang mengalaminya pada usia lebih tua atau lebih muda dan ada yang mengalaminya dalam masa yang lebih lama.
Pria berusia 40-an telah merasa adanya perubahan pada tubuhnya. Ia telah mencapai puncak dalam berkarier dan merasa bahwa ia sudah berganti generasi. Ia dapat melakukan sesuatu untuk memelihara kesegaran tubuh dan penampilannya, tetapi ia tak mampu menghentikan proses menjadi tua.
Harga diri pria sangat tergantung pada karya dan kemampuannya untuk terus maju dan berkreasi. Pada usia 40-an ia tahu bahwa ia mudah mencapai kariernya atau justru tidak memiliki banyak waktu lagi untuk mencapai puncak karier yang diinginkannya. Ia juga mulai menyadari bahwa tak lama lagi akan menjadi kakek-kakek yang sangat tergantung pada anak-anaknya. Sekarang, ia mulai memikirkan makna tentang apa yang telah dilakukan selama ini.
Perkawinan mungkin merupakan sumber kerisauan yang paling besar. Selama ini ia sibuk mengejar karier sementara istrinya sibuk mengurus anak-anak. Ia berpikir mungkin hubungan mereka selama ini tidak pernah berkembang, dan oleh sebab itu menjemukan perkawinan mereka.
Ada tipe pria tengah baya yang gemar berada di antara wanita lain hanya untuk membuktikan pada sang istri bahwa dirinya bukan semata-mata milik istrinya. Makin banyak ditentang oleh istrinya, akan semakin kuat usaha suami untuk "melepaskan" diri. Salah satu bentuk pemberontakannya adalah dengan sengaja menjalin "affair" (selingkuh) dengan wanita lain. Bila istri tahu sang suaminya ada affair, ia merasa tersinggung, bingung, marah atau mengasihi diri sendiri.
Dalam keadaan panik seperti ini, ia bisa berbuat sesuatu yang disesali seumur hidupnya. Misalnya ia berulah dengan cara langsung meninggalkan rumah dan anak-anaknya. Nah, dalam kondisi semacam itu sebaiknya sang istri berpikir dengan realistis dan sabar. Rita R. Rogers, profesor psikiatri dari Universitas Kalifornia, Los Angeles, menyarankan bahwa hal penting yang harus dilakukan ialah dengan mulai mawas diri. Jangan langsung bertindak. "Nilailah apa artinya semua itu, baik bagi si suami maupun bagi sang istri sendiri."
Richard Fisch, dari Stamford University Medical School, menyarankan untuk mengambil keputusan dasar. Apakah perbuatan affair suaminya itu demikian fundamental, sehingga pernikahan tidak dapat diselamatkan lagi? Dan demi mempertahankan keutuhan perkawinan itu sendiri, istri jangan coba-coba memaksa suami untuk mengaku dengan cara menjebaknya. Dr. Fish menyarankan agar menunggu sampai keterkejutan pertama lewat sebelum mulai berbicara. Dan, ini harus dilakukan dengan penuh kehalusan bukannya pembalasan atau pembuktian bahwa istri terluka, merasa dikhianati atau merasa ditelantarkan.
Banyak pria yang terjebak affair tetapi dapat kembali berubah dan pernikahannya menjadi lebih kokoh daripada sebelumnya. Para istri yang mungkin heran bahwa sebenarnya affair itu sering terjadi bukan karena suami mencari kepuasan seks di luar. Pria mungkin membutuhkan perhatian yang tidak diperoleh dari istri. Dengan kenyataan ini, baik dalam tindakan pencegahan maupun pemecahannya, istri harus bersedia mengerti suami agar dia dengan leluasa mencurahkan isi hatinYa mungkin mengenai pekerjaan atau keinginan, dan hal lainnya.
Bisa Lebih Rumit
Wanita yang disakiti perasaannya oleh sang suami yang terlibat affair dengan wanita lain memerlukan cara untuk melampiaskan emosinya. Namun, pelampiasan itu sering menciptakan kesulitan baru yang semakin rumi karena hal itu bisa mengakibatkan rumah tangga menjadi barantakan karena keduanya mengabaikan rumah tangga mereka, atau menceritakan terlalu banyak hal-hal pribadi sang suami dan merusak nama baik suami. Satu hal yang harus diputuskan ialah apakah istri bisa memaafkan atau tidak atas perbuatan yang dilakukan suaminya. Bila tidak mau memaafkan dan mengampuninya, maka masalahnya semakin rumit.
Dalam beberapa hal, mungkin sang suami ingin menguji apakah istrinya masih memperhatikannya sehingga masalah yang menjadi akar kerumitan itu masih dapat dibuang dengan perlahan-lahan tetapi pasti. Dengan sikap sabar dan penuh pengertian dari pihak suami untuk menunggu ia sadar, justru suami akan pulih lebih cepat daripada yang diduga.
Bila suami sedang mengalami krisis tengah baya, hidup dengan anak-anak akan semakin rumit. Sebab, hubungan antara kedua orang tua yang kacau membuat anak-anak menderita. Anak kecil sering menyalahkan diri kalau ayahnya pergi. Mereka juga takut bila ibunya pun ikut meninggalkan mereka. Karena itu, mereka perlu diyakinkan bahwa hal demikian tidak akan terjadi.
Istri harus banyak memberikan perhatian kepada anak-anaknya, tetapi tak boleh memburuk-burukkan nama suami di depan anak-anak, agar mereka tetap menyayangi ayah mereka. Sebab, pada saat suami kembali setelah "bertobat" hidup akan lebih mudah karena anak-anak belum terlanjur membenci ayah mereka. Seberapa besar keberhasilan istri mengatasi situasi ini tergantung kematangan emosional mereka.
Hanya Sementara
Yang paling membesarkan hati bahwa masa krisis tengah baya pada pria ini hanya sementara. Dan hampir dapat dipastikan di kalangan Kristen, jika sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan hukum Allah, si suami tidak sampai melakukan penyelewengan seperti yang dilakukan oleh umum. Akan tetapi, banyak kaum ibu kurang mengetahui tentang hal ini sehingga mereka mengira bahwa hal itu berlangsung selamanya. Istri pun minta cerai
.
Menurut Dr. Levin, masa peralihan itu normal. Keinginan untuk mempersoalkan dan mengubah cara hidup merupakan bagian dari proses perjalanan hidup manusia. Pada masa seperti itu pria ingin kembali ke masa lampau. Ia ingin melihat kembali daerah yang penuh kenangan manis sebelum ia mulai dengan lembaran baru.
Kecuali itu, pada masa transisi itu pria menjadi pemarah dan mudah tersinggung. Ia marah karena bertambah tua, atau karena kondisi keuangan tidak seperti yang diharapkan, marah karena tidak dihargai anak-anaknya dan berbagai alasan. Bila kemarahannya ditekan, ia dipenuhi dengan pikiran negatif yang akhirnya membuat dia depresi.
Kemarahan, menurut Dr. Paul Warner, secara psikologis, fisik, dan emosional merupakan hal yang normal. Demikian pula godaan yang muncul karena perasaan. Istri dapat membantu bila ia membiarkan dirinya dimarahi selama masa itu berlangsung dan mendengarkannya dengan sabar dan penuh pengertian.
Salah satu hadiah cinta dan buah kasih terbesar dari seorang istri ialah memberi suami kebebasan untuk mencari kepribadiannya sendiri. Hadiah cinta yang dimaksud tidaklah berarti bahwa sang istri membiarkan suaminya berbuat amoral, tetapi istri memberi kesempatan kepada suami agar memilih jalan hidupnya dengan benar sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Pria tengah baya yang selama ini selalu memikirkan keluarga tiba-tiba ingin berbuat sesuatu yang besar untuk dirinya sendiri. Mereka mengalami obsesi untuk memiliki sesuatu yang hanya bagi dirinya sendiri.
Wanita memang harus menjalankan multi peran: sebagai istri, pengurus rumah tangga, pacar, ibu bagi anak-anak, tetapi dalam kondisi ini yang paling penting ialah sebagai teman bagi sang suami. Teman yang baik adalah selalu berupaya memberi semangat, mendengarkan, memberi stimulus, kesetiaan, memberi wawasan, dapat dihubungi setiap saat, pendamping, memperhatikan pekerjaannya, memiliki hobi yang sama, dan tahu caranya untuk diam bersama.
Istri memang tidak dapat membantu mencegah proses penuaan suaminya, tetapi ia dapat membantu menanggulangi masalah yang dihadapinya. Wanita cenderung memiliki kelebihan untuk membuktikan bahwa ia adalah teman sejati bagi suaminya, karena ia tahu kelemahannya dan tetap loyal serta penuh cinta kasih. Istri dapat menghargai suaminya apa adanya dalam keadaan apa pun, karena ia telah mendampingi suaminya selama masa berkembang dan tumbuh sampai ia mencapai usia tengah baya. (dedesuri)
(Sumber: You and Your Husband's Life Crisis, oleh Sally Conway)
Diambil dari:
Judul majalah:Kalam Hidup edisi Januari 1998
Penulis:Tidak dicantumkan
Penerbit:Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1998
Halaman:26 -- 29
Read more

Masturbasi Pada Pria pengaruhnya pada pernikahan

Pengaruh Masturbasi Pria pada Pernikahan

"Pria melihat seks di mana-mana dan di dalam segala hal. Di rok mini, celana jeans ketat, keramahan, dan bahkan senyuman. Pria memiliki kemampuan mengubah hampir segala hal ke dalam obsesi yang dapat memuaskan dorongan-dorongan erotis. Tapi di sisi lain, ada semacam memori di dalam pikiran pria yang mengatakan bahwa ia harus mengendalikan hormonnya. Jadi, tidak mengherankan jika pria suka bingung dengan seksualitas diri mereka," kata Dr. Archibald D. Hart, dekan Graduate School of Psychology di Fuller Theological Seminary di California, yang juga penulis buku "The Sexual Man".
Dan khusus bagi pria lajang, umumnya akan mengalami masalah dengan urusan onani (masturbasi). Di mata medis, efek jelek bermasturbasi lebih pada kerisauan batin pada diri pelaku sendiri. Orang yang rajin beronani menjadi "sakit" bukan lantaran onani mengakibatkan dengkul menjadi kopong, melainkan karena kegundahan akibat ia merasa yakin dirinya sedang dipelototi Tuhan.
Secara medis, tidak ada alasan yang bisa mendasari larangan untuk beronani, tapi sebaliknya, tidak ada dasar medis juga yang menganjurkan agar orang berbondong-bondong melakukan masturbasi.
Sperma yang tidak tersalurkan tidak bakal menjadi batu atau berubah menjadi jimat. Tanpa perlu diperintah lagi, sperma ini dengan sendirinya akan diserap oleh tubuh, tanpa menyisakan efek buruk.
Jadi, masalahnya cuma pada bagaimana setiap pria lajang bisa cerdas mengendalikan diri. Saya rasa itu lebih pada soal muatan niat saja. Selama pria lajang tidak rela terbawa terus oleh preokupasi seks dari waktu-waktu luangnya, ia tidak bakal mudah terhanyut oleh dorongan hormon testosteron yang membuat gairah seksnya meningkat.
Pengaruhnya pada Keintiman Pernikahan
Walau tidak memberi dampak secara medis, masturbasi dapat memberi dampak pada keintiman dan kelanggengan pernikahan. Dari penelitian yang dilakukannya, Dr. Archibald mengatakan bahwa pria yang bermasturbasi akan terus melakukannya sekalipun telah menikah. Mereka bermasturbasi karena ketagihan. Kecanduan ini terbentuk sejak masa remaja, biasanya dalam konteks disalahkan atau tabu yang kuat.
Obsesi ini menjadi tidak sehat untuk pernikahan karena para suami akhirnya merasa bahwa hubungan seks kurang memuaskan. Penggunaan fantasi membawanya kepada pelukan orang lain atau kepada film porno favoritnya. Ia tidak memprioritaskan hubungan seks dan keintiman yang semestinya dengan pasangannya. Padahal, hanya keintimanlah yang dapat membangun ikatan seksual yang lebih baik antara suami dan istri.
Read more

Cara Memahami Pria

Bagaimana Memahami Pria ?

Oleh: Dr. Paul Gunadi
Sekalipun Firman Tuhan menjabarkan dengan jelas bahwa di dalam dan melalui pernikahan pria dan wanita akan "menjadi satu daging" (Kejadian 2:24), namun pada kenyataannya, mengejawantahkan kesatuan ini tidaklah mudah. Saya kira, salah satu sumber kesulitannya adalah pria dan wanita memiliki kualitas-kualitas yang berbeda. Masalahnya ialah, pria tidaklah selalu berhasil memahami wanita, demikian juga sebaliknya. Kejadian 1:27 memaparkan bahwa Tuhan memang menciptakan manusia,"laki-laki dan perempuan", dua jenis manusia, bukan satu. Di samping persamaan, juga terdapat perbedaan di antara pria dan wanita. Pernikahan yang berciri, "satu daging", ditandai oleh kuatnya pemahaman dan penerimaan akan perbedaan-perbedaan ini. Khusus dalam edisi ini, saya membatasi ulasan saya pada satu kualitas pria saja. Mudah-mudahan informasi ini dapat membantu pria memahami dirinya secara lebih akurat dan menolong wanita, terutama istri, mengerti serta menerima para suami dengan penuh kasih sayang.
Pada dasarnya pria adalah makhluk yang angkuh. Sebelum para rekan pria menyanggahnya, terlebih dahulu saya akan menjelaskan alasan dan latar belakang pemikiran saya. Sejak kecil, lingkungan sudah mengkondisikan pria untuk menjadi seseorang yang tegar. Kehormatan seorang pria terletak pada kekuatan atau ketegarannya. Pria dididik untuk bisa mengatasi segala sesuatu sehingga tanpa disadarinya, ia pun mulai menyakini bahwa kehormatan dirinya bertumpu pada kemampuannya. Ketidaksanggupannya mengatasi tantangan diidentikkan dengan kelemahannya. Kegagalan merupakan suatu aib yang memalukan harga dirinya. Prinsip hidupnya dapat disarikan dalam satu kalimat, "Saya bisa melakukannya." Berlandaskan pandangan inilah saya mendasarkan pengamatan saya tadi tentang keangkuhan pria. Menurut saya, keangkuhan pria sangat berkaitan dengan kemampuannya, atau lebih tepat lagi, dengan keengganannya mengakui kekurangmampuannya.
Di dalam pernikahan, keangkuhan pria biasanya mempengaruhi dua aspek kehidupan, yakni finansial dan seksual. Di dalam kedua hal ini pria berupaya keras agar ia mencapai puncak keberhasilan yang selayaknya. Kegagalannya atau perasaan bahwa ia telah gagal dalam kedua hal ini dapat membuatnya depresif. Kedua aspek kehidupan ini acap kali berperan sebagai tolok ukur harga dirinya. Tatkala ia merasa bahwa istrinya terpuaskan baik secara finansial maupun seksual, ia pun merasa bangga. Sebaliknya, ketidakpuasan istri dalam kedua areal kehidupan ini bisa mendorongnya menjadi minder. Alhasil, ia pun mulai meragukan kelaki-lakiannya atau lebih spesifik lagi kemampuannya menjadi seorang laki-laki.
Di sinilah letak salah satu perbedaan antara pria dan wanita. Untuk menjadi seorang wanita, perempuan tidaklah perlu "menjadi" wanita karena secara alamiah (biologis) ia sudah wanita. Tidak demikian halnya dengan pria. Meski secara jasmani ia sudah seorang pria, namun secara sosiologis dan psikologis ia perlu membuktikan dirinya terlebih dahulu sebelum ia memperoleh pengakuan bahwa ia adalah seorang pria. Pembuktian dirinya itu biasanya dialaskan atas keberhasilan dan kemampuannya. Pembuktian dirinya sebagai pria pada umumnya berkisar pada keberhasilannya dalam kedua hal tadi, yakni finansial dan seksual.
Kegagalannya memenuhi kebutuhan finansial dan seksual istrinya sesungguhnya melukai kehormatan dirinya. Ada pria yang berhasil mengalahkan keangkuhannya dengan cara mengakui keadaan diri yang sebenarnya di hadapan istri terkasih. Namun tidak sedikit yang menempuh jalan belakang. Ada yang berkompensasi berubah menjadi kasar, seakan-akan ia tidak membutuhkan istrinya; ada yang menarik diri dan hidup bak pertapa di rumah tangganya sendiri.
Keengganan pria mengakui kekurangmampuannya bersumber dari ketakutannya bahwa ia tidak lagi "dianggap pria". Satu komentar tentang wanita yang adakalanya saya dengan dari sesama pria adalah, "Wanita itu materialistik." Sudah tentu keabsahan persepsi ini dapat diperdebatkan siang dan malam, tetapi yang penting ialah, persepsi ini ada di benak sebagian pria. Tidak bisa tidak, bagi sebagian pria jalan untuk mengendalikan istri adalah melalui cara materialistik. Tujuan pertama-nya memang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun tujuan utama-nya belum tentu itu. Bisa jadi, tujuan utamanya adalah untuk menjaga wibawa atau kehormatan dirinya di mata istrinya. Oleh sebab itulah, keluhan istri yang berbau finansial mudah sekali ditafsir sebagai penghinaan terhadap dirinya.
Pria juga ingin berhasil secara seksual. Masalahnya ialah, secara jasmani pria berlari ke arah klimaks, sedangkan wanita berjalan ke arah klimaks. Maksud saya, wanita membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding pria untuk mencapai puncak kepuasan seksual. Akibatnya, acap kali pria mencapai klimaks terlebih dahulu sendangkan wanita tertinggal di belakang. Hal ini dapat melahirkan perasaan cemas pada diri pria sewaktu berhubungan dengan istri, apalagi jika pria melihat rona kekesalan atau kejengkelan pada istrinya. Komentar istri terhadap performa suaminya di tempat tidur mudah sekali menimbulkan rasa minder pada diri si suami. Jalan terbaik mengatasi masalah ini adalah dengan memperlambat tingkat perangsangan pada diri pria dan sekaligus memberi prioritas pada perangsangan istri.
Salah satu kemalangan yang saya lihat di dalam hidup ini ialah pria kerap kali terjebak di dalam keangkuhannya sendiri. Pria merindukan kemerdekaan; pria ingin hidup bebas dan apa adanya, tanpa embel- embel pembuktian diri. Namun apa ada daya, ia pun harus hidup di dalam lingkup sosialnya. Konsep dirinya yang beralaskan pekikan "Aku bisa!" menyulitkannya berbisik dengan lirih,"Aku tak bisa." Ia pun akhirnya memilih menjauh dari hidup merdeka dan otentik. Sayang sekali, kemerdekaan terlalu dikaitkan dengan kemenangan. Tantangan hidup pria sekaligus pertanyaan yang saya ingin ajukan kepada sesama rekan pria adalah, "Bolehkah kita merdeka untuk kalah?"
Sebelum Getsemani, Petrus dengan gegap gempita berseru, " Tuhan, aku siap mengikuti-Mu ke penjara bahkan sampai kepada kematian" (Lukas 22:33). Setelah Getsemani, di dalam gelap gulita Petrus bersumpah, "Aku tidak mengenal-Nya"(Lukas 22:57). Kemenangan pun menggeliat berubah menjadi kekalahan. Puji Tuhan, Petrus tidak berhenti di situ. Ia memutuskan untuk menjadi bebas bahkan dalam kekalahannya. Tatkala Tuhan Yesus memandangnya usai ia bersumpah, Petrus pun keluar dan menangis dengan sedihnya(Lukas 22:61-62).
Pria tidak selalu keluar dari arena finansial dan seksual sebagai pemenang; sebaliknya, tidak semua tanggapan istri (bahkan sedikit lagi yang) bertujuan untuk mempermalukan atau menghina kehormatan dirinya di hadapan Tuhan, yakni dengan cara hidup menyenangkan hati Tuhan. Integritas pria di hadapan Tuhan adalah kehormatan dirinya, lepas dari kemungkinan apakah wanita akan menghargainya ataukah tidak. Saya percaya pada prinsip Firman Tuhan yang mengemukakan bahwa siapa menabur, ia menuai. Apabila pria menabur pola,"Hormatilah diriku karena aku kaya dan jantan", maka tanpa disadarinya, ia pun sedang mengkondisikan istrinya untuk menghormatinya atas dasar kekayaan dan ketangguhan seksualnya belaka. Akhirnya, ia pun hanya akan menuai respek istri yang dangkal dan terkotak-kotak, yang tidak melihat dan menerima dirinya secara utuh.
Keangkuhan menuntut penghormatan,kerendahan diri yang tepat membuahkan keagungan ilahi. Sebagai duta Kristus di rumah tangga kita, seyogianyalah kita, para pria, mencerminkan keagungan Tuhan.
Read more

Keunikan Wanita bisa Mengendalikan Emosinya

Keunikan Mengendalikan Emosi

Salah satu keunikan yang dimiliki wanita adalah kehidupan emosi yang dinamis. Namun kalau tidak berhati-hati, keunikan ini dapat pula menjadi kelemahan yang berpotensi menciptakan masalah. Misalnya seringkali suami dikejutkan dengan betapa cepatnya istri mengeluarkan reaksi emosional. Sudah tentu suami tidak akan berkeberatan dengan reaksi spontan dan cepat yang bersifat positif. Namun bila reaksi ini bersifat negatif, pada umumnya suami bersikap takut dan defensif. Kecenderungan pria menghadapi hal ini biasanya adalah menjauh atau berusaha meredam. Itu sebabnya penting bagi istri untuk belajar mengendalikan reaksi yang bermuatan emosi kuat.
Salah satu keunikan yang dimiliki wanita adalah kehidupan emosi yang dinamis. Tanpa kehidupan emosi yang dinamis, hidup terasa kering dan membosankan. Namun kalau tidak berhati-hati, keunikan ini dapat pula menjadi kelemahan yang berpotensi menciptakan masalah.
Salah satu hal yang kerap mengejutkan suami adalah betapa cepatnya istri mengeluarkan reaksi emosional. Sudah tentu suami tidak akan berkeberatan dengan reaksi spontan dan cepat yang bersifat positif. Namun bila reaksi ini bersifat negatif, pada umumnya suami bersikap takut dan defensif. Kecenderungan pria menghadapi hal ini biasanya adalah menjauh atau berusaha meredam. Itu sebabnya penting bagi istri untuk belajar mengendalikan reaksi yang bermuatan emosi kuat.
Berikut akan dipaparkan beberapa saran untuk mengendalikan lonjakan emosi :

·   KUNCI PERTAMA DALAM PENGENDALIAN EMOSI ADALAH PENGENDALIAN PIKIRAN.

Salah satu penyebab mengapa emosi mudah keluar tak terkendali adalah dikarenakan berkembangnya pemikiran secara ekstrem. Sebagai contoh, istri melihat suami berbicara secara akrab dengan seorang wanita. Begitu melihat, istri tanpa sadar dan dengan cepat membayangkan skenario terburuk yaitu bahwa si suami sebenarnya menyukai perempuan itu, bahwa si suami tidak lagi menyukainya (si istri), bahwa si wanita juga menyukai si suami, dan bahwa si suami akan dan pasti meninggalkannya bila pertemanan ini berlanjut.
Ketika pemikiran liar muncul, ia mesti berdialog dengan diri sendiri. Sebagai contoh, ia harus mengajukan bukti terlebih dahulu, sebelum memberi kesimpulan sejauh itu. Ia mesti menimbang apa yang dilihatnya dari konteks yang lebih menyeluruh dan tidak hanya menyoroti dari satu sudut saja.
·         KEDUA, UNTUK DAPAT MENGENDALIKAN EMOSI DIPERLUKAN TINDAKAN ANTISIPATIF ATAU PERENCANAAN. 
Kebanyakan reaksi emosional keluar tanpa kendali oleh karena kita merasa bahwa situasi telah lepas kendali. Itu sebabnya sebelum menghadapi sesuatu penting bagi kita untuk mengantisipasi situasi yang akan dihadapi itu. Sebagai contoh, ibu hendak mengajak anak pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu. Nah, si ibu harus mengantisipasi situasi tersebut sebelum pergi. Jika ada toko mainan, kira-kira apakah yang akan dilakukan anak. Atau, jika ada arena bermain, apakah yang akan dilakukan anak. Bila waktu tersedia, mungkin ada baiknya bagi si ibu untuk merencanakan
, memberi kesempatan kepada anak untuk bermain sejenak. Bila memang sudah waktunya bagi anak untuk membeli mainan, pikirkan mainan apakah yang dapat dibelikan. Semua perencanaan ini memudahkan si ibu untuk bereaksi ketika anak meminta untuk dibelikan mainan atau untuk bermain.
·         KETIGA, ISTRI PERLU MENUNJUKKAN SIKAP SEDIA UNTUK DIKOREKSI ATAU BERUBAH. 
Mungkin istri masih memerlukan waktu yang lama untuk berubah. Mungkin ia tumbuh besar dalam keluarga yang kerap konflik atau lingkungan yang keras sehingga emosi mudah tersulut dan lidah sukar terkendali. Jika itu situasinya, jangan ragu untuk menyampaikan kepada suami bahwa ia sadar akan kelemahannya dan bahwa ia menerima teguran suaminya. Namun ia perlu waktu untuk berubah. Jadi, kendati sedikit, usahakanlah perubahan. Sewaktu suami melihat perubahan pada istri, ia pun terdorong untuk menerima istri dengan kelemahannya. Terlebih penting lagi, ia merasa bahwa perkataannya telah didengarkan oleh si istri. Sebaliknya, bila suami merasa bahwa istri tidak menggubris tegurannya dan terus berkelakuan seenaknya tatkala marah, pada akhirnya suami putus asa dan tidak lagi mau menyampaikan teguran. Komunikasi terganggu dan relasi pun retak.
·TERAKHIR, SEBELUM MENGELUARKAN PERKATAAN APA PUN, SEDAPATNYA PIKIRKAN DAMPAKNYA: PANJANG ATAU PENDEK. 
Dengan kata lain, selalu pikirkan tujuan mengapa kita mengatakannya. Jangan mengeluarkan perkataan hanya untuk memuaskan hasrat di hati. Adakalanya istri mengeluarkan perkataan yang melukai hati suami sehingga akhirnya suami menjadi tawar hati. Atau, memarahi anak sampai-sampai anak terus memendam luka di usia dewasa. Ingat, perkataan dapat membangun dan menghancurkan jiwa seseorang. Firman Tuhan mengingatkan, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." (Amsal 15:1)
Read more

Kemuliaan Ibu Rumah Tangga

Kemuliaan Ibu Rumah Tangga

Peran sebagai ibu rumah tangga seringkali dianggap kurang penting karena tidak bisa menghasilkan apa-apa. Dan wanita jaman sekarang sudah jarang yang menjadi ibu rumah tangga secara penuh waktu. Perubahan ini di akibatkan karena tuntutan ekonomi dan juga kemajuan pendidikan serta terbukanya pekerjaan untuk perempuan. Namun tanpa disadari peran sebagai ibu rumah tangga sebenarnya sangatlah besar dan berharga. Apa saja peran yang besar itu? Dan seberapa berharganya peran itu?
Pada masa lampau hampir dapat dipastikan seorang wanita akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai ibu rumah tangga. Pada masa sekarang hanya sebagian yang akan berperan sebagai ibu rumah tangga purnawaktu. Sebagian lainnya akan memikul peran ganda--sebagai ibu rumah tangga dan pekerja di luar rumah. Selain dari tuntutan ekonomi, pada umumnya perubahan ini disebabkan oleh makin terbukanya pendidikan dan lapangan pekerjaan bagi perempuan.


Salah satu akibat dari pergeseran peran ini adalah timbulnya anggapan bahwa peran sebagai ibu rumah tangga bukanlah sebuah pilihan yang mulia. Bahkan ada sebagian wanita yang merasa tidak berguna dan tidak berharga bila harus berperan sebagai ibu rumah tangga tanpa berkarier lain di luar rumah.


Kemuliaan pertama menjadi seorang ibu rumah tangga adalah KEMULIAAN MELAYANI. Tuhan Yesus berkata (Matius 20:26-27), "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Panggilan Tuhan kepada kita orang percaya adalah panggilan untuk melayani dan mungkin, di antara semua pekerjaan melayani, tidak ada yang lebih mulia daripada tugas melayani sebagai ibu rumah tangga. Sebagaimana kita ketahui kemuliaan pelayanan terletak pada seberapa sedikitnya pamrih dan seberapa besarnya pengorbanan. Menjadi ibu rumah tangga menuntut banyak pengorbanan. Begitu banyak yang mesti dikerjakan namun hampir semuanya bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk kepentingan suami dan anak-anak. Begitu besar pengorbanan yang sering kali dibayar oleh ibu rumah tangga namun begitu sedikit pamrih yang diterimanya. Sebaliknya tidak jarang, kritikan dan kemarahanlah yang diterima, baik dari suami maupun anak. Namun di sinilah letak kemuliaan ibu rumah tangga.


Kemuliaan kedua ibu rumah tangga adalah KEMULIAAN MENANAM DAN MENUMBUHKAN. Kita tahu bahwa menanam dan menumbuhkan adalah tugas yang memakan waktu jauh lebih lama daripada menuai. Kita harus terus memperhatikan tanaman yang mulai bertunas dan merawatnya sehingga dapat bertumbuh dan berbuah. Dapat dikatakan, menuai dan memetik membawa sukacita sedangkan menanam dan menumbuhkan membawa peluh. Menjadi ibu rumah tangga dapat disamakan dengan pekerjaan menanam dan menumbuhkan. Setiap hari ibu mesti memperhatikan keperluan, baik suami maupun anak. Sama seperti menanam dan menumbuhkan, ibu tidak dapat melihat hasil pekerjaannya dengan segera. Hari ini sama seperti kemarin dan hari esok akan sama seperti hari ini. Dan, sama seperti petani yang menanam pohon sampai berbuah, kebanyakan ibu rumah tangga tidak dapat mencicipi hasil pelayanannya. Orang lainlah yang lebih sering mencicipi buah pekerjaan yang dihasilkan, baik oleh suami maupun anaknya. Namun di sinilah letak kemuliaan ibu rumah tangga. Apa yang dilakukannya di belakang layar menjadi berkat buat banyak orang.


Kemuliaan ketiga ibu rumah tangga adalah kemuliaan yang berasal dari KEHORMATAN MEMBENTUK ANAK. Kita tidak bisa mencetak anak; kita hanya bisa membentuk anak -- memengaruhi anak untuk bertumbuh sesuai dengan harapan. Pada akhirnya apakah anak akan menjadi sesuai bentukan, itu di luar kendali kita. Namun di dalam keterbatasan ini, Tuhan memercayakan pengasuhan anak kepada ibu rumah tangga, terutama pada masa anak kecil. Makin banyak waktu yang diberikan kepada anak, makin tersedia kesempatan bagi ibu untuk memengaruhi anak. Apa yang dilihat dan didengar anak, akan tercatat dalam memori anak. Sewaktu anak bertindak, materi yang tersimpan itu akan keluar dan mempengaruhi tindakannya.


Inilah letak kemuliaan ibu rumah tangga. Tuhan memercayakan anak kepadanya dan memberikannya kesempatan langka dan berharga untuk membentuknya menjadi seorang anak Tuhan. Kepada Timotius (4:14), gembala sidang di Efesus, Paulus berpesan, "Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu . . . ." Pesan yang sama dapat diterapkan kepada para ibu rumah tangga. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu. Gunakan kesempatan dan kepercayaan yang berharga ini untuk membentuk anak menjadi anak Tuhan.
Read more

Mencari Wanita sayang Anak

Mencari Wanita yang Sayang Anak

Di zaman sekarang ini banyak suami-istri yang bekerja, sehingga hak asuh anaknya diserahkan kepada orang lain, misalnya suster. Melalui materi ini kita diberikan saran-saran agar kedua orangtua terlibat dalam mengasuh anaknya terutama ibu, karena ini akan berpengaruh terhadap proses perkembangan anak jika nanti dewasa.
Dewasa ini makin banyak perempuan yang menyerahkan tugas membesarkan anak kepada perawat. Sebagian wanita memang jauh lebih efektif sebagai ibu bila ia bekerja di luar daripada bila ia tinggal di rumah sepenuhnya. Faktanya adalah, tidak semua wanita dipanggil dan sanggup untuk diam di rumah penuh waktu; kita harus memaklumi hal ini. Masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah sebagian wanita menolak untuk menjadi ibu yang membesarkan anak; mereka hanya bersedia menjadi ibu yang melahirkan anak. Bekerja atau tidak, mereka tidak bersedia turun tangan merawat dan membesarkan anak. Mereka menyerahkan tugas itu kepada perawat yang tidur dengan anak, memandikan, memberi makan anak, dan mengajarkan pelajaran sekolah anak.
Beberapa hal yang mesti dipertimbangkan:
  1. " Rasa sayang kepada anak bergantung pada kedekatan dengan anak. Semakin jarang kita bersama anak, semakin berkurang rasa sayang kita terhadapnya.
  2. Wibawa orang tua di hadapan anak bergantung pada kedekatan dengan anak. Semakin tidak dekat, semakin tidak berwibawa kita di hadapannya. Anak menganggap kita tidak mempunyai hak mengatur hidupnya, apalagi mendisiplinnya. Ini berarti, tatkala anak besar, kita tidak mempunyai kendali atas hidupnya.
  3. Kendati kehilangan ayah berdampak pada pertumbuhan anak, namun kehilangan ibu berdampak lebih besar terhadap anak. Pada tahap awal pertumbuhan, ibu berperan sebagai pengasuh dan peran ini merupakan peran yang paling dominan dalam kehidupan anak. Biasanya peran ayah menjadi lebih besar pada tahap berikutnya. Dengan kata lain, peran ibu membangun fondasi struktur jiwani anak. Itu sebabnya tanpa ibu, anak bertumbuh rapuh.
  4. Anak menyerap terbesar pada masa kanak-kanak dan apa yang terhilang pada masa ini tidak tergantikan pada masa berikutnya. Jika kita tidak dekat dengan anak, kedekatan ini tidak bisa diciptakan lagi.
  5. "Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya … Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: 'Ibu, inilah anakmu!' Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" (Yohanes 19:26-27)
Read more

Makna di Temani seorang Wanita

Yang menjadi Makna Ditemani bagi Wanita

Ada perbedaan antara makna ditemani pada pria dan wanita. Dan inilah yang sering kali menimbulkan kesalahpahaman dan masalah dalam pernikahan. Dan melalui materi ini kita akan mengetahui perbedaan-perbedaan tesebut.
Makna ditemani bagi wanita:
  1. Aku ingin dikenal (dikenal dengan mendalam), wanita ingin suaminya mengenal dia, sehingga apa yang ada dalam pikirannya sudah bisa terbaca oleh si suami.
  2. Aku ingin dikasihi, pasangan kita memperlakukan kita berbeda daripada dia memperlakukan orang lain. Menempatkan kita secara spesial, membuat kita merasakan jelas bahwa kita yang paling utama baginya.
  3. Aku ingin diperhatikan, wanita menginginkan suaminya memperhatikan secara fisik atau jasmaniah.
Dampak:
Apabila wanita tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhannya ini, yang terjadi adalah dia akan merasa kosong, artinya dia seolah-olah kehilangan pegangan dalam hidupnya.
Makna ditemani atau didampingi bagi Pria:
  1. Pria menginginkan istrinya di rumah.
  2. Pria mengharapkan istri bisa memahami pikirannya.
Dampak:
Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, pria akan merasa kesepian. Ini kadang-kadang kita temukan dalam keluarga. Ada ayah atau suami yang di rumahnya sendiri merasa sebagai orang asing. Karena dia merasa istrinya tidak mau mengerti dia.
Firman Tuhan: "Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan, ia memperdengarkan suaranya."
Ini diambil dari kitab Amsal 1-2. Kita perlu hikmat, hikmat tidak memfokuskan pada yang besar-besar tapi pada yang kecil, namun berarti. Dan Tuhan memberikan hikmat itu asal kita juga mencarinya dan bertanya kepada Tuhan.
Read more

Seorang Wanita harus Tunduk

Wanita harus Belajar Tunduk dalam Alkitab

Dewasa ini emansipasi wanita sudah berjalan dan hak untuk wanita maupun pria cenderung disetarakan. Perintah untuk tunduk kepada suami menjadi perintah yang tampaknya atau kedengarannya tidak terlalu relevan. Tapi melalui topik ini kita akan belajar dan menggali konsep tunduk dengan lebih dalam.
"Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat." Efesus 5:22-23
Adakalanya tunduk dikaitkan dengan "lemah, tidak bisa apa-apa, tidak berdaya, dikuasai atau di bawah" suami. Itu sebabnya kata tunduk kurang mendapat tempat dalam hati banyak wanita modern dewasa ini.
Hal-hal yang istri pelajari untuk tunduk:
  1. Arahkan mata kepada Tuhan: tunduk kepada Tuhan yang memerintahkan istri untuk tunduk kepada suami. Dengan kata lain, tunduk kepada suami merupakan hasil kepatuhan kepada Firman Tuhan.
  2. Tunduk kepada suami membuahkan hasil yakni bertambah harmonis dan buah inilah yang makin memacu istri untuk tunduk kepada suami.
  3. Tunduk tidak berarti tidak berpendirian atau dikuasai; tunduk lebih sering berarti bijaksana dalam penyampaian.
Kebanyakan suami menginginkan istri yang dapat membantunya, bukan yang sama sekali diam. Jalan terbaik bagi istri adalah mengarahkan dan bukan mengkonfrontasi suami.
Read more

Peran Wanita: Karier atau Keluarga?

Peran dalam wanita: Karier, atau Keluarga

Berbeda dengan pria, acap kali peran istri dan karier tidak berjalan harmonis. Ada empat prinsip yang bisa digunakan untuk mempertimbangkan hal ini. 
Yaitu 
(1) Tetapkanlah prioritas tujuan hidup,
 (2) Tuhan tidak menetapkan satu model pernikahan, (3) Perhatikan dan terimalah kodrat masing-masing, (4) Gantilah apa yang telah kita ambil dari keluarga.
Berbeda dengan pria, acap kali peran istri dan karier tidak berjalan harmonis. Ada orang yang berkeyakinan bahwa sepatutnyalah istri diam di rumah dan mengurus keluarga. Berikut ini adalah beberapa prinsip yang dapat kita pertimbangkan.
  1. Tetapkanlah prioritas tujuan hidup. Baik pria maupun wanita harus memiliki sistem prioritas yang jelas dan alkitabiah. Tuhan lebih mementingkan manusia dan pertumbuhannya dibandingkan pencapaian atau perbuatannya.
    Jika inilah sistem nilai Tuhan, seyogianyalah kita mengikutinya dan ini berarti, dalam pengambilan keputusan, manusia atau keluarga akan kita dahulukan di atas pekerjaan atau karier. Dan ini berlaku baik bagi pria maupun wanita, tanpa kecuali. Secara praktisnya, setiap keputusan yang mengharuskan kita memilih antara karier dan keluarga, pilihannya adalah keluarga. Sudah tentu kewajiban memenuhi kebutuhan dasar keluarga merupakan tuntutan yang harus kita upayakan namun di atas kebutuhan dasar, keluargalah yang mesti kita utamakan. Jika Tuhan mementingkan faktor manusia, kita pun harus mementingkannya pula.
  2. Tuhan tidak menetapkan satu model pernikahan. Mungkin ada di antara kita yang langsung berkomentar bahwa sudah seharusnyalah perempuan tidak berkarier sebab Tuhan menghendaki wanita menjadi ibu rumah tangga dan suami menjadi pencari nafkah. Kendati keyakinan ini terdengar rohani namun kenyataannya adalah, keyakinan ini tidaklah alkitabiah, dalam pengertian Alkitab sendiri tidak pernah menawarkan rumus ini.
    Sesungguhnya Alkitab sendiri menyediakan pelbagai contoh peran wanita. Amsal 31 yang sering kali diidentikkan dengan amsal wanita bijak, justru memperlihatkan peran wanita sebagai pekerja, bukan hanya sebagai ibu rumah tangga.
    Contoh lain dari wanita yang bekerja sebagai pengusaha adalah Lidia, seorang "penjual kain ungu dari kota Tiatira" (Kisah 16:14); Priskila, istri Akwila, yang kadang keduanya pergi bersama Paulus mengabarkan Injil (Kisah 18:19). Dari semua contoh ini terlihat jelas bahwa para wanita ini adalah orang-orang yang terlibat aktif dalam pelayanan atau bekerja di luar rumah.
  3. Perhatikan dan terimalah kodrat masing-masing. Janganlah kita menggantungkan penghargaan diri pada penilaian orang; terimalah kodrat masing-masing dan berkembanglah sesuai dengan kodrat itu. Ada satu pepatah berbahasa Inggris yang layak kita simak, "Be yourself, but be the best of you!" (Jadilah dirimu sendiri, namun jadilah dirimu yang terbaik.) Kita tidak akan dapat memberi yang terbaik apabila kita sendiri tidak menjadi diri yang terbaik.
  4. Gantilah apa yang telah kita ambil dari keluarga. Tidak bisa tidak, waktu dan keberadaan kita di dalam rumah akan terbatasi berhubung meningkatnya tuntutan untuk berada di luar rumah. Ini berarti, kita mengambil sesuatu dari dalam rumah untuk kepentingan di luar rumah.
    Jika ini yang harus kita lakukan, rencanakan dan persiapkan segalanya dengan sebaik mungkin.
Read more

Bagaimana Membentuk A Girl A Women yang baik?

 Membentuk A Girl A Women 

Dalam topik ini kita akan mempelajari bagaimana mendidik anak-anak wanita kita khususnya di dalam pergaulan dengan lawan jenisnya. Dalam usia berapa dan dengan siapa.
Membesarkan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal-hal yang prinsiple memang tidak ada beda tapi dalam hal-hal yang menyangkut budaya dan keadaan sosial akan ada perbedaan. Bagi orang tua yang membesarkan anak perempuan cenderung memiliki ketakutan yang lebih spesifik. Pada anak laki-laki, mungkin orang tua mempunyai ketakutan tertentu misalnya kalau anak itu jadi nakal, tidak sekolah, memakai obat terlarang atau pada masa kecil kita takut misalnya anak kita mendapatkan kecelakaan. Tapi khusus untuk anak-anak perempuan, orang tua rupanya mempunyai ketakutan yang lebih spesifik yaitu jangan sampai anak perempuan kita ini menderita kerugian-kerugian, ada yang melukai atau merugikan dia.
Apa yang harus dilakukan orangtua untuk memantau anak:
  1. Kita melihat dengan siapa dia pergi atau ke rumah siapa dia bermain. Jadi yang kita ingin tahu dengan siapanya, apa yang dia lakukan itu kita perlu ketahui secara garis besar. Jangan sampai sebagai orang tua melewati garis yaitu terlalu mau tahu dan bertanya-tanya ngomongin apa, bicara apa dsb.
  2. Kita ingin memantau atau memonitor teman-temannya dengan cara lebih banyak berbicara tentang karakter teman. Siapakah teman yang baik, siapakah orang yang baik sebab ada perbedaan antara teman yang baik dengan orang yang baik. Teman yang baik belum tentu orang yang baik karena teman yang baik bisa saja sama-sama rusaknya dengan kita. Kita perlu tegaskan orang yang baik adalah orang yang mencintai Tuhan, takut akan Tuhan dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak menjerumuskan teman-temannya dalam hal yang jahat atau yang salah.
Seorang anak perempuan itu memang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang wanita. Yang paling tepat untuk mempersiapkannya adalah:
  1. Nomor 1 ibunya sendiri, karena ibu sudah menjadi seorang wanita.
  2. Nomor 2 ayahnya, sebab seorang ayah adalah seorang anak laki-laki yang telah mengenal wanita-wanita yang sudah dewasa, sehingga dia pun bisa memberitahukan si anak bagaimanakah seorang pria berpikir, bagaimana seorang pria mengungkapkan dirinya atau perasaannya atau kebutuhannya. Dengan kata lain masukan-masukan dari si ayah ini akan menolong si anak wanita mengerti tentang pria sehingga waktu dia sudah mulai besar dia tidak akan terlalu asing bergaul dengan pria.
Amsal 3:1-4, "Hai anak-Ku, janganlah engkau melupakan ajaran-Ku dan biarlah hatimu memelihara perintah-Ku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu."
Ada dua hal yang bisa ditinggalkan oleh orangtua pada anak di sini yaitu kasih dan setia, jadi itu mungkin juga yang bisa kita tinggalkan kepada anak-anak wanita kita, apapun yang terjadi kita perlu mempunyai kasih dan setia di dalam hidup ini. Karena mengasihi orang dan setia adalah dua karakteristik yang kekal yang pasti akan bisa menjembatani hubungan dia dengan siapapun.
Prinsip yang diberikan kepada anak-anak wanita dalam bergaul dengan teman-teman prianya: adalah sebaiknya tidak pacaran terlalu dini, karena itu akan membuka peluang kontak seksual yang lebih pagi, terlalu prematur.
Wanita perlu diajarkan untuk mandiri secara emosional karena:
  1. Sebab ada kecenderungan kalau seorang wanita terlalu bergantung itu bukannya menjadi daya tarik baginya, justru itu menjadi kelemahan baginya. Kelemahan dalam pengertian pria sebetulnya menghargai wanita yang mandiri, justru wanita yang terlalu bergantung pada akhirnya kurang dihormati oleh pria.
  2. Sebab dia membuka peluang untuk dimanfaatkan, tatkala seorang pria melihat dia adalah wanita yang begitu membutuhkan pria. Jadi mudah sekali dimasuki oleh pria yang bermaksud buruk dan akhirnya memanfaatkan. Jadi saya kira sejak kecil atau sejak usia remaja penting bagi seorang ibu dan ayah menanamkan konsep ini kepada mereka. Engkau seorang yang lengkap, engkau memerlukan pria sama seperti pria memerlukan engkau, tapi engkau tetap adalah seorang yang matang dan lengkap, meskipun kalau misalnya nanti engkau sendirian tanpa pria.
Wanita cenderung memiliki rasa bersalah yang lebih besar dari pada pria, hal ini disebabkan:
  1. Dipengaruhi oleh emosi.
  2. Sejak kecil anak wanita sudah dididik untuk lebih bertanggung jawab. Kita orang tua cenderung membolehkan anak pria tidak terlalu bertanggung jawab, terutama dalam hal-hal yang berkenaan dengan pekerjaan rumah. Sedangkan anak wanita lebih dituntut untuk bertanggung jawab akan pekerjaan rumahnya.
Amsal 3:11,12, "Hai anak-Ku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan dan janganlah engkau bosan akan perintahnya atau peringatannya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi."
Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah memberikan teladan kepada anak-anaknya. Dan saya kira teladan, berbicara jauh lebih banyak dari pada perkataan atau instruksi-instruksi. Jadi bagaimana orangtua hidup, bagaimana dia memperlakukan satu sama lain dan juga orang-orang di luar, bagaimana dia melakukan tanggung jawab di rumah dan juga di luar, itu semua merupakan didikan atau ajaran yang akan diserap oleh anak-anak kita.
Read more

Romans pada Wanita

Pria dan Romans pada Wanita

Romans adalah suatu peristiwa atau suatu tindakan yang memang mengandung unsur romantis yang membuat seseorang merasa diri itu sangat spesial dan dikasihi. Romans bagi wanita identik dengan seks bagi pria, jadi pria membutuhkan seks seperti wanita membutuhkan romans.
Roman adalah suatu peristiwa atau suatu tindakan yang memang mengandung unsur romantis yang membuat seseorang merasa diri itu sangat spesial dan dikasihi. Dalam hal ini istri kita merasa bahwa mereka itu sangat-sangat diperhatikan oleh kita dan sungguh-sungguh spesial di hati kita.
Apa itu roman, apa itu romantis, dan apa yang harus saya lakukan untuk menjadi romantis? Untuk memudahkannya saya akan memberikan pengibaratan. Yaitu roman bagi wanita identik dengan seks bagi pria. Jadi pria membutuhkan seks seperti wanita membutuhkan romans.
Romans dalam pernikahan sebenarnya bukanlah tonggak yang menyanggah berdirinya pernikahan. Yang menyanggah pernikahan kita adalah
  1. Iman kita pada Tuhan,
  2. Kasih kita pada pasangan kita
  3. Kepercayaan kita pada pasangan kita
  4. Respek kita pada dia
Roman diumpamakan seperti dekorasi yang membuat pernikahan itu indah, yang membuat rumah tangga itu menjadi sebuah rumah yang nyaman untuk kita huni.
Ada 3 saran khususnya bagi suami-suami adalah:
  1. Pria perlu memahami sebagaimana dia membutuhkan seks demikian pulalah istrinya membutuhkan roman dalam pernikahannya.
  2. Pria perlu menyadari bahwa seperti seks roman tidak harus diberikan terus-menerus namun harus diberikan secara tetap dan berkala. Yang diminta oleh wanita adalah secara berkala pria itu melakukan sesuatu yang romantis dan itu tidak harus setiap hari. Sama seperti seks bagi banyak pria, satu, dua tiga kali paling banyak dalam seminggu yang dibutuhkan oleh pria dan begitu pula dengan roman, wanita mungkin membutuhkan seminggu sekali atau dua kali yang penting teratur secara berkala.
  3. Penolakan atau sikap suami yang mengabaikan istri itu luar biasa dampaknya, itu akan membuat istri merasa tidak berharga.
Roman memang tidak penting bagi pria harus kita akui itu, tetapi kita mesti sadari itu penting dan bukankah istri kita bersedia melayani secara seksual, meskipun bagi istri hal itu tidaklah sepenting seperti untuk kita. Jadi memang itulah pernikahan masing-masing mengerjakan atau melakukan hal yang tidak terlalu penting bagi dirinya tapi penting untuk pasangannya.
Yang perlu dilakukan oleh seorang suami adalah:
  1. Pria harus melihat romans sebagai suatu tindakan tertentu yang dilakukan untuk istri, bukan sebagai sikap yang selalu ada pada setiap saat.
  2. Berikanlah pujian tentang keindahan istri kita dan bukan hanya karakternya. Misalkan matanya, rambutnya alisnya, waktu engkau pakai baju itu engkau tampak cantik, waktu engkau memakai perhiasan ini engkau tampak sangat cantik jadi tetap berikan pujian tentang keindahan istri kita secara jasmaniah pula.
Roman tidak hanya terdiri dari kata-kata yang mesra dan puitis, bisa dengan kata-kata : saya senang bisa berjalan denganmu, saya senang malam ini kita bisa berdua, hal seperti itu atau pelukan di pundak kemudian membisikkan sesuatu yaitu saya sayang padamu, tidak usah kata-kata yang terlalu muluk.
Roman manfaatnya sangat besar: yaitu hati yang terpenuhi menjadi hati yang tidak mudah menuntut dan tidak mudah tersulut, hati yang tidak terpenuhi menjadi hati yang mudah menuntut dan mudah tersulut. Maka dalam keluarga atau pernikahan yang terpenuhi, maka emosi tidak mudah tersulut, tuntutan lebih realistik .
Kidung Agung 4:1, "Lihatlah, cantik engkau manisku, sungguh cantik engkau bagaikan merpati matamu dibalik telekungmu." Tuhan mengizinkan bagian ini dicatat dalam Alkitab untuk juga mengemukakan sesuatu yang sangat manusiawi bahwa wanita membutuhkan roman.
Read more

Apa sih dampak usia dalam pasangan?

Dampak Usia dalam Memilih pasangan

Pada umumnya kita beranggapan bahwa adalah baik bila seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Namun bagaimana jika ada seorang pria yang menikah dengan wanita yang lebih tua? Perbedaan usia berdampak pada cara berpikir, menyikapi hidup dll. Sebaiknya kita menikah dengan orang yang usianya tidak terlalu jauh berbeda. Pria maksimal 10 tahun lebih tua dari wanita dan wanita jangan sampai 5 tahun lebih tua dari pasangannya.
Pada umumnya kita beranggapan bahwa adalah baik bila seorang pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Berikut akan dibahas dampak perbedaan usia pada pernikahan agar dalam memilih pasangan faktor ini pun dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan.
  • Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah dikarenakan pada umumnya wanita lebih matang atau dewasa daripada pria. Sebetulnya belum tentu wanita lebih dewasa daripada pria yang seusia dengannya. Namun satu hal yang hampir pasti adalah bahwa pada umumnya wanita lebih siap untuk hidup berumah tangga, dalam pengertian lebih siap untuk memenuhi tuntutan berumah tangga. Setidaknya ada dua tuntutan berumah tangga yang lebih sering menjadi problem bagi pria dibanding wanita:
    • Keterikatan. Jika seorang wanita menikah dengan pria yang seusia dengannya, ada kemungkinan bahwa suaminya masih tetap ingin menjalin relasi dengan orang di luar rumah sedangkan bila ia menikah dengan pria yang lebih tua daripadanya, besar kemungkinan si suami akan lebih siap untuk terikat. Kendati semua kemungkinan ini benar namun pada faktanya tidak selalu seperti itu. Pernikahan menuntut keterikatan dan pembatasan sebab di dalam keterikatan barulah akan bertunas benih keintiman dan kepercayaan.
    • Mementingkan keluarga. Dalam usia muda kebanyakan pria akan mementingkan pengembangan kariernya. Itu sebabnya kebanyakan pria pada fase awal pernikahan tersedot pada kegiatan di luar rumah. Tidak bisa tidak, dalam pengambilan keputusan pun, pria cenderung lebih memerhatikan kepentingan kariernya dan kurang mementingkan keluarganya. Sebaliknya, wanita akan jauh lebih siap untuk memertimbangkan kepentingan keluarganya. Hal inilah yang kerap kali diasosiasikan dengan kematangan dan memang dalam hal ini, wanita jauh lebih matang daripada pria.
  • Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah secara fisik wanita lebih cepat memperlihatkan ciri penuaan. Pada kenyataannya kita semua-pria dan wanita-mengalami proses penuaan. Ada alasan mengapa kita cenderung melihat penuaan pada wanita dibanding pria:
    • Kecantikan fisik lebih merupakan identitas wanita ketimbang pria.
    • Wanita harus mengandung dan melahirkan anak.
    • Wanita mengalami mati haid. Tatkala wanita mengalami mati haid, hormon progesteron dan estrogen juga mengalami penyusutan sehingga sering kali diikuti dengan perubahan kondisi fisik pula.
  • Mengapa orang berpandangan adalah baik bila pria menikah dengan wanita yang lebih muda daripadanya ialah wanita itu sendiri memang membutuhkan figur pengayom bak seorang bapak kepada anak. Secara naluriah wanita cenderung tertarik dengan pria yang matang dan kurang tertarik dengan pria yang dianggapnya tidak dewasa
Firman Tuhan: "Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari". (Amsal 4:18) Hidup benar adalah hidup takut akan Tuhan dan hidup berhikmat. Memilih pasangan hidup memerlukan keduanya. Namun satu hal yang perlu dicamkan adalah sebaiknya janganlah memilih pasangan hidup yang jauh berbeda usia dari kita. Perbedaan usia yang terlalu jauh memisahkan dua dunia yang berbeda pula.
Read more

Melancarkan Arus pembicaraan dalam berpasangan

Memperlancar Gaya Komunikasi Pria dan Wanita

Salah satu sumber konflik dalam rumah tangga adalah komunikasi yang tidak tepat sasaran. Meski kita tidak dapat menggeneralisasi semua, namun ada pola komunikasi tertentu yang lebih sering ditemukan pada pria dan wanita. Memahami pola ini bisa membantu kita memperlancar arus komunikasi, seperti dalam berkomunikasi dengan pasangan, pada umumnya istri lebih mementingkan proses pembahasannya dibanding hasil akhir atau keputusannya .
Salah satu sumber konflik dalam rumah tangga adalah komunikasi yang tidak tepat sasaran. Meski kita tidak dapat menggeneralisasi semua, namun ada pola komunikasi tertentu yang lebih sering ditemukan pada pria dan wanita. Memahami pola ini bisa membantu kita memperlancar arus komunikasi.
  1. Dalam berkomunikasi dengan pasangan, pada umumnya pria menuntut ketundukan istri kepadanya. Jadi, sebaiknya istri tidak langsung menyatakan ketidaksetujuannya melainkan meminta waktu untuk memikirkan ulang usulan suami. Atau, di awal bantahannya, istri langsung menyatakan kesediaannya untuk mematuhi kehendak suami namun ia ingin mengungkapkan pikirannya terlebih dahulu. Biasanya jika suami tahu bahwa istri sedia mematuhinya, ia pun akan lebih siap untuk bernegosiasi. Sebaliknya, bila ia sudah membaca bantahan dari istri, ia cenderung bersikeras memaksakan kehendaknya. Alhasil konflik pun terjadi.
  2. Dalam berkomunikasi dengan pasangan, pada umumnya istri lebih mementingkan proses pembahasannya dibanding hasil akhir atau keputusannya. Selama istri memperoleh kesempatan untuk berunding dan mengungkapkan pikirannya, selama itu pulalah ia siap untuk mengikuti kehendak suaminya. Dalam pengertian ini, wanita lebih siap untuk menghadapi konflik sebab terpenting baginya adalah proses berkomunikasi itu sendiri. Sebaliknya pria cenderung memandang konflik sebagai sinyal ketidakpatuhan dan ketidakadaan dukungan istri terhadapnya.
  3. Pria cenderung berpikir praktis, jadi, jika ia menduga bahwa istri akan tidak setuju, daripada terlibat dalam konflik, ia memilih berdiam diri. Sebaliknya, oleh istri sikap diam ini diartikan putusnya relasi (bukan hanya komunikasi). Konflik yang lebih besar pun tak terhindarkan. Bagi istri, ketidaksetujuan dalam berkomunikasi merupakan dinamika sehat, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
  4. Wanita intuitif dan berorientasi pada perasaan, jadi bila ia melihat sikap atau penampakan suami yang menunjukkan ketidaksenangan, itu akan sangat mempengaruhi nada komunikasi. Dalam pada itu, komunikasi menjadi tidak berdasar fakta lagi; kendati "fakta" yang dibicarakan namun sesungguhnya istri menghendaki sesuatu yang lain-jaminan bahwa suami tetap mengasihi dan bersamanya.
Firman Tuhan:". . . kalau hidung ditekan darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul." (Amsal 30:33)
Read more