Saturday, February 12, 2022

Apakah Anda Mendengarkan Allah?

 

Mereka berkata kepada Musa: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.” — Keluaran 20:19

“Apakah Anda Mendengarkan Allah?”, judul renungan kita hari ini. Chambers mengatakan bahwa apabila kita lebih suka mendengarkan suara hamba Tuhan, lebih suka mendengar kesaksian-kesaksian daripada mendengarkan Tuhan sendiri, hal itu sesungguhnya “menunjukkan betapa kurangnya kasih kita kepada Allah”.



Kita tidak dengan sadar mengingkari Allah, hanya karena kita tidak memperhatikan Dia. Allah telah memberikan perintah-Nya kepada kita, tetapi kita tidak memberikan perhatian, bukan karena ketidakpatuhan yang disengaja, tetapi karena kita tidak benar-benar mengasihi dan menghormati Dia. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15).

Ketika kita menyadari bahwa kita telah terus-menerus menunjukkan rasa tidak hormat kepada Allah, kita akan dipenuhi rasa malu dan terhina karena mengabaikan Dia.

“Engkaulah berbicara dengan kami, ... tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami ....” Kita menunjukkan betapa kurangnya kasih kita kepada Allah dengan lebih suka mendengarkan suara para hamba-Nya daripada mendengarkan Dia sendiri. Kita suka mendengarkan kesaksian-kesaksian pribadi, tetapi kita enggan mendengar Allah sendiri berbicara kepada kita.

Mengapa kita begitu takut bila Allah berbicara kepada kita? Karena kita tahu apabila Allah berbicara, kita harus melakukan hal yang diperintahkan-Nya, atau kita harus mengatakan kepada-Nya bahwa kita tidak mau taat. Namun, jika sekiranya hanya seorang hamba Allah yang berbicara kepada kita, kita merasa bahwa kepatuhan (kepada Tuhan) merupakan pilihan, bukan keharusan. Kita menanggapinya dengan berkata, “Wah, itu hanya gagasanmu sendiri, walaupun aku tidak menyangkal bahwa ucapanmu itu barangkali adalah kebenaran Allah.”

Adakah saya selalu merendahkan Allah dengan tidak mengindahkan-Nya, sedangkan Dia dengan kasih-Nya terus-menerus memperlakukan saya sebagai anak-Nya?

Pada akhirnya, ketika saya mendengar dia, hinaan yang saya timpakan atas diri-Nya berbalik kepada saya. Respons saya kemudian menjadi, “Tuhan, mengapa aku begitu tidak peka dan keras kepala?”

Hal inilah yang selalu terjadi ketika akhirnya kita mendengar Dia. Akan tetapi, kegembiraan sejati ketika akhirnya kita mendengarkan Dia, kegembiraan disertai rasa malu karena perlu waktu begitu lama untuk sadar.

Read more

Wednesday, February 9, 2022

MENDUA HATI

 MORNING SPIRIT


"MENDUA HATI"

Orang yang mendua hati disebutkan sebagai orang yang tidak punya ketetapan hati. Orang yang seperti ini adalah orang yang sulit fokus untuk mencapai sesuatu. 


Yakobus 1:8 "Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya."



Dalam kehidupan iman kristiani sangat dilarang keras sikap yang mendua hati. Alkitab mencatat bahwa tidak boleh ada ada Allah lain dihadapan-Nya seperti hukum pertama dari Dasa Titah:


"jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku. Keluaran 20:3


Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:24 


Hati kita harus lurus dan fokus hanya kepada Allah saja. Jangan andalkan apapun diluar Allah saat ada ujian hidup, saat masalah bertubi-tubi bahkan saat sekalipun berada di ujung tanduk. 

Ketika hati kita mulai mendua maka kita tidak akan bisa tenang. Tuhan tidak akan menjawab permohonan kita. Marilah kita membuang semua tawaran yang membuat hati kita mendua. 


"Allah sangat tahu apakah kita mendua hati atau tidak." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Apakah Anda Lelah Rohani?

 

Allah kekal ... tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu ... — Yesaya 40:28

Semua orang pernah mengalami kelelahan rohani. Dan, menurut Oswald Chambers, “Kelelahan rohani tidak pernah diakibatkan oleh dosa, melainkan oleh pelayanan”. Soalnya, “mengalami atau tidak mengalami kelelahan itu tergantung pada dari mana mendapatkan bekal/suplai kekuatan”. Menarik! Mari, selanjutnya kita ikuti di bawah ini.


Apakah Anda Lelah Rohani?

Kelelahan berarti tenaga utama kita terkuras habis. Kelelahan rohani tidak pernah diakibatkan oleh dosa, tetapi oleh pelayanan. Apakah Anda mengalami atau tidak mengalami kelelahan itu tergantung pada dari mana Anda mendapatkan bekal/suplai kekuatan. Yesus berkata kepada Petrus, “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:17), tetapi Dia tidak memberi apa pun kepada Petrus untuk memberi makan domba-domba itu.

Dalam proses dijadikan menjadi roti yang dipecah-pecah dan anggur yang dituangkan berarti Anda harus menjadi makanan bagi jiwa-jiwa lain sebelum mereka belajar untuk makan dari Allah. Mereka harus menguras Anda habis sampai tetes yang terakhir.

Akan tetapi, usahakanlah untuk mengisi kembali persediaan Anda, atau Anda akan dengan cepat benar-benar mengalami kelelahan/kehabisan tenaga. Sebelum orang lain belajar untuk menyerap kehidupan Tuhan Yesus secara langsung, mereka harus menyerap kehidupan-Nya melalui Anda. Anda harus secara harfiah menjadi sumber persediaan mereka, sampai mereka belajar menyerap makanan mereka dari Allah. Kita berutang kepada Allah untuk berusaha sebaik-baiknya untuk melayani domba-domba Allah seperti kita melayani Allah sendiri.

Sudahkah Anda mengalami kelelahan karena cara Anda melayani Allah? Jika demikian, perbaruilah dan kobarkanlah hasrat dan kasih sayang (afeksi) Anda. Selidikilah alasan Anda untuk melayani. Apakah Anda bersumber pada pengertian Anda sendiri atau berlandaskan penebusan Yesus Kristus?

Lihatlah kembali landasan kasih dan afeksi Anda serta ingatlah letak sumber kuasa Anda. Anda tidak berhak untuk mengeluh, “Ya Tuhan, aku begitu lelah.” Dia menyelamatkan dan menguduskan Anda untuk membuat Anda lelah.

Berlelahlah untuk Allah, tetapi ingatlah bahwa Dialah persediaan Anda. “Segala mata airku ada di dalammu.” (Mazmur 87:7)

Read more

Saturday, February 5, 2022

SALING MEMPERSALAHKAN

 MORNING SPIRIT


"SALING MEMPERSALAHKAN"

Sudah menjadi kebiasaan umum manusia itu sulit menerima kesalahan yang dia perbuat. Sehingga istilah "kambing hitam" seringkali bermunculan. 


Yakobus 5:9 "Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu."



Dalam komunitas anak-anak Tuhan atau para pelayan Tuhan, tak jarang hal bersungut dan saling menyalahkan pun sering terjadi. Setiap menghadapi kesulitan mereka tidak mengoreksi diri, melainkan langsung menyalahkan orang lain dan bersungut-sungut. Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain dari pada melihat keberadaan diri sendiri. Kita merasa paling benar dan orang lain yang selalu salah. Sangat disayangkan padahal mereka dikategorikan sudah bertobat, sudah lama melayani Tuhan tetapi selalu bersembunyi dibalik arogansinya.  

Ingatlah Hakim Agung siap menghukum mereka yang acapkali bersungut dan menyalahkan orang lain. Bertobatlah!!


"Bersungut-sungut dan suka menyalahkan orang lain adalah tanda ketidak dewasaan rohani/kekanak-kanakan." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Belum Waktunya

 Bacaan: HAGAI 1


"Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!" (Hagai 1:2)



Dinamika perkembangan diri remaja sangat unik, kadang mereka merasa diri mereka sudah dewasa dan tidak ingin dikekang. Tatkala saya menasihati mereka saya selalu berkata, "Dik, belum waktunya untuk melakukan ini dan itu"-ada beberapa dari mereka yang mengerti bahwa mereka perlu mengekang hasrat dan keinginan diri sendiri untuk bertindak bebas. Namun adakalanya saat diminta tanggung jawab apalagi untuk persoalan rohani yang berguna bagi hidup mereka, mereka juga bisa pandai beralasan, "Belum waktunya kami, itu tugas orang lain."


Setelah pulang dari pembuangan, bangsa Israel diingatkan kembali untuk membangun kembali rumah Tuhan (ay. 8). Ironisnya, bangsa Israel tidak mengindahkan perintah itu, malahan mereka masih sibuk untuk membangun rumahnya masing-masing (ay. 9) dan berkata bahwa belum saatnya membangun rumah Tuhan (ay. 2). Frasa "perhatikanlah keadaanmu!" (ay. 5, 7) menjadi teguran keras agar mereka peka untuk lebih memprioritaskan hubungan pribadi dengan Tuhan ketimbang persoalan mereka yang lain. Itulah yang membuat berkat Tuhan tidak tercurah bagi hidup mereka (ay. 9-10).


Tuhanlah yang tetap menjadi prioritas utama daripada urusan-urusan pribadi yang lain. Bangsa Israel jatuh karena lebih memikirkan kemapanan diri sendiri, kita pun juga akan seperti mereka jika tidak peka dengan perintah Tuhan. Dalam kehidupan pribadi, hubungan dengan Tuhan itu penting. Siapakah kita selama ini? Hendaknya orang mengenal kita lebih cinta Tuhan daripada cinta kemapanan diri sendiri.

Read more

Tuesday, February 1, 2022

Providensia Dei

 Bacaan: 1 RAJA-RAJA 17:7-16


"... dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu." (1 Raja-raja 17:13)



Puji Tuhan, dalam usianya yang ke-83, ibu saya masih sehat. Dalam suatu percakapan telepon kami, beliau bercerita betapa bahagia dirinya manakala masih sanggup berkeliling bersama dua sahabatnya untuk melakukan kunjungan kepada anggota jemaat usia lanjut atau mereka yang membutuhkan perhatian-sebagaimana yang selalu dilakukannya sejak muda dalam perannya sebagai diaken atau penatua gereja.


Providensia Dei-sebutan latin untuk penyediaan atau pemeliharaan Allah. Ada satu kebenaran yang senantiasa berlaku di dalamnya-yaitu pemeliharaan Allah pasti berjalan seiring dengan prioritas yang dikehendaki-Nya (bdk. Mat 6:33). Penerapan praktisnya ialah memberi itu selalu mendahului menerima. Pelajaran itulah yang diperoleh seorang janda di Sarfat. Tatkala ia mendahulukan yang Allah kehendaki-memberi yang dibutuhkan nabi-Nya-dirinya menerima aliran berkat, tepung dan minyaknya tersedia berkecukupan (ay. 16). Sebab rahasianya adalah di dalam memberi, kita pun menerima.


Di mata saya, ibu adalah sosok beriman yang mengalami pemeliharaan Allah secara luar biasa dalam hidupnya. Kesediaannya untuk melayani pekerjaan Tuhan dengan setia sejak masa mudanya, tanpa disadarinya, telah ikut menghadirkan berkat yang mencukupkan dirinya sendiri hingga usia lanjut. Namun bukan hanya beliau. Tanyakan pada siapa saja yang berani mendahulukan tindakan memberi daripada menuntut untuk diberi, mereka pasti menjadi saksi hidup pemeliharaan Allah.

Read more