Sunday, April 14, 2019

Tahap Pembentukan Relasi

TAHAP PEMBENTUKAN RELASI
Tahap awal konseling biasanya menjadi tahap paling sulit, baik bagi konselor maupun klien. Barangkali ini mengejutkan bagi sebagian orang. Tetapi demikianlah kenyataannya. Ketika itu, untuk pertama kalinya mereka saling bertemu dalam relasi yang dalam arti tertentu bisa dikatakan formal tetapi juga tidak formal; hangat, tapi juga jauh; dan bagi sejumlah orang, bersifat sementara dan tidak alamiah. Mereka harus mengusahakan suatu relasi yang dapat disepakati dan menciptakan suasana kondusif bagi mereka untuk menangani masalah-masalah. Kadang-kadang ini tidak mudah dan konseling mungkin saja gagal jika klien tidak dilibatkan secara tepat dalam kerja sama dengan konselor.
Di beberapa wilayah Asia, mencari suatu pertolongan psikologis dianggap sebagai hal yang relatif baru sehingga konseling terkadang dipandang dengan curiga. Klien tidak cukup tahu dan mungkin saja berusaha mendapatkan konseling tanpa mencari penjelasan sebelumnya. Mereka mungkin saja mengalaminya sebagai sebuah gagasan baru dan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Di atas semuanya itu, jarang sekali orang pergi menemui seseorang yang belum dikenal untuk membeberkan masalah-masalah pribadi.
Kadang-kadang klien mungkin saja memikirkan konselor sebagai seseorang dari kalangan profesi medis atau serikat agama tertentu. Mereka sudah terbiasa mencari pertolongan dari orang-orang ini dan barangkali tidak mengerti peranan para konselor. Ketika mempertimbangkan hal ini, mungkin mereka mengajukan sejumlah pertanyaan tentang konselor, latar belakangnya, pengalaman kerjanya, dan kehidupan pribadinya. Ho (1987) dalam "Family Therapy with Ethnic Minorities" menyarankan agar konselor tidak merasa enggan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan klien agar mereka bisa percaya pada konselor dan hubungan klien-konselor pun dapat berjalan baik. Pokok ini penting untuk diingat sebab para konselor cenderung mengambil sikap budaya Barat, terlebih karena kebanyakkan kepustakaan dan model pelatihan berasal dari Barat. Mereka bisa saja lupa menyesuaikan konteks.
Pada tahap awal konseling ini, konselor harus fokus pada usaha membentuk relasi dengan klien. Ini mencakup usaha melibatkan klien pada suatu kerja sama untuk memulai proses konseling sehingga sasaran-sasaran konseling dapat tercapai. Apa pun nama yang kita berikan pada relasi kerja sama itu, sasarannya adalah agar konselor bisa masuk dalam kehidupan klien untuk membantu dan mengarahkannya pada solusi efektif atas masalah-masalahnya. Inilah tugas konselor dalam pertemuan pertama.
Pesan favorit Jay Haley bagi para stafnya sebelum mereka bertemu dengan klien adalah "Berusahalah mengenal klien dan usahakan agar ia menyukai Anda." Ia yakin, bila pertemuan pertama dapat berjalan lancar dan jika klien dapat merasa senang dengan konselor, intervensi lebih jauh lagi akan dapat dilakukan. Minuchin menyatakan bahwa seorang konselor harus mendapatkan hak untuk bisa masuk ke dalam kehidupan klien dan harus berusaha menarik klien untuk bisa bekerja sama pada tahap awal. Ini menuntut keluwesan sehingga dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan sosok dan situasi klien. Jika klien sedih, konselor harus bersedia bersikap ramah dan memberi perhatian. Jika klien terbiasa memperlihatkan sikap resmi, konselor mungkin perlu bersikap rileks dan tidak formal untuk meredakan ketegangan. Jika klien bersikap bermusuhan, sebaiknya konselor berbicara lembut dan memberi tahu klien, "Saya siap mendengarkan Anda dan bersedia bekerja sama dengan Anda untuk memecahkan masalah apa pun yang Anda hadapi."
Agar dapat bekerja sama secara efektif dengan klien, konselor harus memperlihatkan sikap bahwa ia tertarik pada masalah klien dan sedang berusaha bekerja sama dengan klien. Seperti yang ditekankan Haley, adalah penting bagi klien untuk merasakan kehadiran konselor di sisinya. Ini dapat diwujudkan dengan memperlihatkan minat mendalam kepada klien.
    Orang datang tidak hanya datang untuk meminta pertolongan, tetapi juga untuk dikuatkan dalam sikap-sikap mereka dan agar muka mereka diselamatkan. Saya memperhatikan hal ini dan hampir dapat dipastikan bahwa saya akan berbicara dalam satu cara yang membuat mereka berpikir bahwa saya ada di sisi mereka (Haley, 1973).
Mempersatukan itu butuh waktu. Tidak seorang konselor pun boleh memburu-buru pasien untuk itu. Jika para klien dapat dilibatkan secara tepat, biasanya mereka akan menjadi lebih kooperatif.
  1. Tahap Pertama
    1. Kontak awal
    2. Tahap pertama konseling dimulai dengan berbagai bentuk kontak awal yang dilakukan klien terhadap biro. Sejumlah klien datang begitu saja tanpa membuat perjanjian terlebih dulu sebab mereka mengandaikan bahwa konselor bisa dijumpai kapan pun mereka membutuhkan pertolongan. Jika biro Anda terbuka untuk menerima klien yang datang tanpa perjanjian terlebih dulu, tentunya ada langkah- langkah untuk menerima klien-klien ini, misalnya menjelaskan apa yang dilakukan biro itu dan memperkirakan jenis bantuan yang dibutuhkan.
      Kebanyakan biro menerima klien melalui telepon untuk membuat janji pertemuan terlebih dulu. Kontak telepon ini harus ditangani secara tepat sehingga jauh sebelum pertemuan klien mengetahui apa yang diharapkan dari mereka. Biasanya klien akan dimintai sejumlah keterangan. Baik juga jika mereka bisa menerangkan secara ringkas bagaimana mereka mengetahui pelayanan biro itu dan jenis bantuan yang diperlukan. Akan baik juga jika konselor pada tahap ini menanyakan orang-orang dekat lainnya yang mungkin mengetahui masalah yang dihadapi klien. Keluarga langsung, jalinan kekerabatan, dan orang-orang lain yang terlibat dapat diundang untuk menghadiri pertemuan pertama. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati mengingat ada klien yang mungkin tidak menghendaki seorang anggota keluarga lainnya atau siapa pun juga, tahu tentang kontaknya dengan konselor. Klien-klien tertentu bahkan tidak menghendaki anggota keluarga lain itu terlibat dalam cara apa pun juga.
      Sangatlah penting bagi klien untuk mendapatkan informasi tentang biro tersebut dan barangkali juga biaya yang harus dibayar. Semakin banyak pusat konseling yang menarik bayaran dan hal ini harus dikatakan, mengingat praktik seperti ini sudah diterima secara umum. Yang paling penting di sini adalah berupaya sejauh mungkin untuk memberikan kesan bagi klien sehingga merasakan kontak telepon sebagai ungkapan selamat datang sehingga proses pembentukan relasi dapat dimulai dari tahap ini.
    3. Tahap sosial
    4. Karena kontak awal dengan biro tersebut belum tentu merupakan kontak dengan konselor, maka pertemuan pertama tentunya merupakan saat pertama di mana konselor dan klien saling berjumpa satu sama lain. Untuk alasan ini, konselor tidak boleh lupa untuk membuat klien merasa diterima dan senang. Haley (1987) menunjuk hal ini sebagai tahap sosial dari wawancara pertama. Ho (1987) mengingatkan bahwa keramahan hubungan antarpribadi, yang untuk sebagian besar merupakan gaya hidup orang Asia, tidak boleh diabaikan.
      Konselor harus menyapa klien dan berusaha membuatnya senang. Sebaiknya klien dipersilakan untuk menentukan di mana ia ingin duduk. Setelah ia memilih tempat duduknya, barulah Anda duduk. Tindakan ini dimaksudkan untuk membuat klien merasa rileks dan diterima. Jika ada satu bahan yang dapat dibicarakan secara umum, mulailah dengan pokok pembicaraan tersebut. Mungkin kita bisa mulai dengan membicarakan masalah lalu lintas. Karena konselor diharapkan mengetahui latar belakang klien, pengetahuan konselor tersebut dapat juga dijadikan titik awal, misalnya saja tentang sekolahnya atau tempat kerjanya. Jika klien berminat pada satu permainan atau olah raga tertentu, bicaralah tentang hal tersebut. Pendeknya, usahakan membuat ikatan dengan klien.
      Kemudian, topik percakapan dapat dialihkan pada tujuan klien dengan konseling tersebut. Cari tahu bagaimana ia mengetahui biro Anda dan apa yang sudah dikatakan orang padanya. Jika ternyata ia adalah klien rujukan, tanyakan siapa yang merujuknya dan mengapa. Berilah ia sedikit kesempatan untuk berbicara. Kadang-kadang klien mengandaikan konselor telah mengetahui latar belakangnya karena sudah ada kontak awal ketika membuat perjanjian pertemuan. Dalam kasus ini, konselor dapat segera menyinggung bahwa ia sudah tahu kebutuhan klien dan gembira dapat bertemu klien secara pribadi.
      Jika konselor melihat lebih dari satu orang dalam pertemuan pertama itu, ia dapat memulai dengan salah seorang dari antara mereka yang kelihatan siap untuk berbicara, kemudian beralih pada yang lain. Sekali klien mulai berbicara, konselor harus membuat parafrase, memantulkan perasaan-perasaannya, menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka, penajaman, dan peringkasan. Tujuannya adalah mempermudah klien untuk membuka diri dan menghayati apa yang sedang dibicarakan. Pertanyaan-pertanyaan tertutup harus dihindari dan dipakai hanya untuk memeriksa dengan tujuan memperjelas dan mencari informasi.
    5. Menata Pertemuan
    6. Jika seluruh anggota keluarga datang bersama-sama, konselor perlu mempermudah interaksi di antara para anggota keluarga itu. Memberi kesempatan pada setiap anggota untuk berbicara akan membantu keluarga tersebut untuk merasa dibutuhkan dalam pertemuan itu. Jika orang tua juga hadir, mereka harus diberi kesempatan bicara terlebih dulu. Ini wajar mengingat dalam kebudayaan Asia orang tua memandang diri mereka sebagai nakhoda keluarga dan mengenai hal ini kita perlu menghargainya. Apabila berhadapan dengan orang yang lebih tua, konselor yang berusia muda harus selalu memperlihatkan sikap penuh hormat dan rendah hati. Ia juga harus berbicara kepada mereka secara tepat dengan bahasa yang sungguh-sungguh mereka kenal. Jika berhadapan dengan pasangan suami-istri, setelah tahap sosial awal, konselor barangkali ingin berbicara dengan salah satu pihak yang memperlihatkan keengganan dalam mengungkapkan masalah yang membuat mereka melakukan konseling. Konselor harus selalu memimpin pertemuan tersebut. Ia tidak boleh membiarkan keluarga itu berdebat secara berkepanjangan. Sebaliknya, ia harus mengarahkan jalannya percakapan dan melakukan campur tangan kapan pun salah seorang terlihat menguasai pertemuan itu. Keterampilan yang harus selalu dipraktikkan adalah membuat ringkasan. Langkah ini adalah untuk memberi jeda dalam pertemuan itu, sehingga konselor akan dapat memberi kesempatan bicara pada pihak yang lain.
      Amatlah penting bagi konselor untuk dapat menghadirkan struktur pertemuan dan proses konseling sebagai satu kesatuan. Ia dapat mulai dengan memperkenalkan dirinya sendiri secara singkat. Ini akan membantu klien mengenal si konselor, entah ia seorang dokter, rohaniawan atau pekerja sosial. Terkadang ada lebih dari satu staf hadir dalam pertemuan itu; mungkin ia adalah satu-satunya orang yang paling tahu tentang biro itu dan apa itu konseling. Konselor dapat merencanakan apa yang harus ia katakan. Kepada seorang anak yang diikutsertakan dalam konseling, saya biasanya menanyakan apa yang dikatakan padanya tentang diri saya. Sejumlah orang tua membawa anak-anak menemui saya dan mengatakan pada mereka bahwa mereka datang untuk mengunjungi "Paman Antoni", tanpa menjelaskan lebih jauh lagi. Saya biasanya mulai dari situ dan memberi kesempatan pada orang tua untuk menjelaskan apa yang dikerjakan "Paman Antoni" dan secara singkat menjelaskan mengapa mereka diajak untuk menemui saya.
      Konselor dapat meneruskan pertemuan dengan menceritakan satu hal tentang biro itu dan apa saja pelayanan yang diberikan lalu membicarakan apa yang diharapkan klien dari pertemuan tersebut. Jelaskan bahwa langkah itu merupakan pertemuan konsultasi atau pertemuan penjajagan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan dan bagaimana klien dapat dibantu.
      Konselor juga harus memiliki kepekaan khusus jika ia tahu ada orang lain dalam pertemuan tersebut yang datang dengan perasaan terpaksa. Hal seperti ini biasanya terjadi dalam kasus konseling perkawinan di mana suami diminta untuk hadir di luar kehendaknya sendiri. Anak usia remaja juga bisa jadi dipaksa untuk hadir oleh orang tuanya yang yakin bahwa dialah "masalahnya".
      Konselor harus bersikap lebih ramah dan lemah lembut kepada orang- orang yang terpaksa ini dan harus berbicara dengan baik. Kadang- kadang konselor juga perlu memberi tahu orang itu bahwa tidak apa- apa untuk tetap diam jika ia memang ingin begitu. Kadang-kadang setelah berbicara sedikit, saya akan memutuskan untuk berbicara dengan orang yang bersikap enggan tersebut secara pribadi, sekadar memberi perhatian khusus kepadanya. Saya akan mengungkapkan penghargaan saya atas kedatangannya kendati ia tidak bersedia. Dan saya akan memberi tahu dia bahwa saya merasa senang jika ia dapat menceritakan pada saya apa yang ia ketahui tentang masalah itu.
      Lazimnya, pertemuan konseling di Barat berlangsung antara 45 menit sampai satu jam. Barangkali hal ini masih agak asing di Asia mengingat pembatasan waktu masih merupakan hal baru bagi klien. Konseling dalam suasana resmi masih relatif baru dan para konselor tidak dapat mengandaikan bahwa klien mengetahui kapan pertemuan tersebut harus berakhir. Konselor harus memberi tahu klien berapa lama pertemuan konseling itu akan berlangsung. Informasi ini dapat disampaikan ketika melakukan kontak telepon. Biasanya akan sangat baik jika membatasi waktu pertemuan yang tidak lebih dari satu setengah jam kecuali ada situasi-situasi gawat atau kecuali konselor mempunyai jadwal yang sangat longgar. Banyak juga orang yang menganggap bahwa beberapa hal dapat diselesaikan dalam waktu satu jam, meskipun pertemuan pertama mungkin membutuhkan lebih banyak waktu. Pada akhir pertemuan pertama, klien juga harus diberi tahu kapan pertemuan-pertemuan selanjutnya akan diadakan.
  2. Tahap Penggalian dan Pemahaman
  3. Berbicara tentang tahapan, konseling bergerak dari satu tahap ke tahap lainnya (Yeo, 1981). Setiap tahap mempunyai fokus tertentu, tetapi batasan setiap tahap tersebut tidak begitu tegas. Konseling merupakan satu situasi dinamis dan ketika konselor masuk dalam tahap pembentukan relasi, yang merupakan tahap awal dalam setiap konseling, ia juga sudah masuk dalam tahap penggalian dan pemahaman.
    Tahap tengah dalam konseling ini merupakan bagian integral dari pertemuan pertama. Tahap ini merupakan bagian dari proses pembentukan relasi dan berkaitan dengan tahap pemecahan masalah. Pada tahap ini konselor masuk sedikit lebih jauh dalam dunia klien dengan penggunaan pertanyaan-pertanyaan dan pemusatan yang tepat. Dalam tahap ini ia mengarahkan klien untuk membicarakan masalah yang ia ajukan beserta dengan latar belakangnya. Sasarannya adalah membimbing klien untuk merumuskan masalahnya dan kemudian melanjutkannya dengan pemecahan masalah.
    Harus jelas bahwa dalam tahap ini konselor harus mampu merumuskan masalah yang diajukan. Beberapa petunjuk dari Haley (1987) dapat kita simak. Pertama, ia menyarankan agar konselor tidak membuat tafsiran atau komentar apa pun yang membuat klien melihat masalahnya dari sudut pandang lain. Ia hanya dituntut untuk menerima apa yang dikatakan klien. Kedua, konselor tidak boleh memberi nasihat pada tahap ini, bahkan apabila ia diminta. Ketiga, ia harus memusatkan perhatiannya pada usaha mengumpulkan informasi dan pendapat- pendapat. Keempat, ia harus mengarahkan perhatiannya pada satu pokok penting dan tidak terpecah pada masalah-masalah lainnya.
    Pada titik ini, pusat perhatian harus diarahkan pada masalah yang diajukan. Setiap penelaahan terhadap masa lampau dan masalah-masalah lainnya, betapa pun menariknya, atau kelihatan penting di mata konselor, haruslah dihindari. Demikian juga konselor tidak perlu menangani konflik-konflik perkawinan apabila seorang anak dihadirkan sebagai "problem" atau "pasien yang ditunjuk". Sejumlah terapis keluarga memang sering kali membuat dugaan bahwa anak yang memiliki problematika biasanya merupakan gejala sebuah perkawinan yang bermasalah, tetapi konselor tetap saja harus menangani masalah yang diajukan. Masalah perkawinan dapat ditangani kemudian dalam pertemuan-pertemuan lain, atau pada saat pasangan suami-istri tersebut sudah siap untuk itu.
Read more

Peran Konseling Awam: Memilih Pasangan Hidup dan Pergumulannya

Memilih pasangan hidup merupakan hal yang sarat dengan pertanggung jawaban iman. Memasuki fase adolescent/ remaja, sejak seorang mulai merasakan ketertarikan terhadap lawan jenisnya ia sudah harus mulai mempertanggung jawabkan imannya. Dengan bimbingan yang sehat ia akan memulai petualangan hidupnya dengan prinsip mencari yang "seiman." Kemudian ia mulai belajar mengenali apakah ketertarikan tersebut semata-mata manifestasi dari "sexual instict" atau kebutuhan "psycho-social" yang sehat dari seorang individu dengan identitas atau jati diri yang sehat pula. Nah, jikalau ia sukses melewati fase ini, ia akan memasuki fase pertanggung jawaban iman yang berbeda lagi. Ia akan mengalami betapa modal "seiman dan kepribadian yang sehat" tidak dengan sendirinya - dapat menghasilkan komunikasi yang efektif yang menstimulir pertumbuhan masing-masing. Mereka harus mampu menjadi pencipta dan pemelihara sistim yang sehat dan kondusif. Begitulah seterusnya, dalam setiap fase kehidupan ini, remaja berhadapan dengan pertanggung jawaban iman yang berbeda-beda. Mereka membutuhkan bimbingan dan bahkan mungkin pelayanan konseling yang khusus. Sebagai contoh, perhatikan kasus di bawah ini.
Rena sudah benar-benar jatuh cinta. Setelah dua tahun mengenal dan "pacaran" dengan Bram, rasanya hati ini sudah penuh terisi sehingga tak ada lagi ruang keragu-raguan, tak ada lagi pertanyaan "apakah Bram betul-betul orang yang disediakan Tuhan baginya." Yang ada tinggal semangat mempersiapkan hari H yang sudah terbayang-bayang dimata. Memakai pakaian pengantin, upacara kebaktian pemberkatan di gereja, dan pesta yang dihadiri keluarga dan teman-teman dekat. Ah ... sungguh membahagiakan, tetapi kapan itu terjadi, Rena sendiri belum tahu.
Memang selama ini pacarannya selalu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Mereka bercumbuan, jalan ke sana ke mari, dan makan kesukaan masing-masing. Tiap minggu bisa bertemu dua tiga kali dan tak ada bosannya. Memang setiap kali ditanya orang tua, Rena sadar bahwa Bram memang belum pernah mau diajak berbicara tentang rencana ke depan. Bahkan Bram tidak pernah menyatakan dengan kata-kata, cintanya. Bram orang yang baik, lemah lembut, suka bercanda, dan seorang pekerja yang ulet. Cuma, dia bukan orang yang tertarik dengan hal-hal rohani, meskipun ia seorang Kristen dan setiap minggu ke gereja.
Nah, sekarang coba bayangkan jikalau Rena menjadi klien anda. Mungkin beberapa prinsip di bawah ini dapat Anda pertimbangkan:
  1. Menyadarkan Rena akan sistim yang tidak kondusif yang sudah terbentuk.
  2. Sistim memang sering kali merupakan "subtle enemy/musuh yang tersembunyi." Disebut "subtle" karena umumnya manusia tidak menyadari mengapa ia dan orang-orang dalam lingkaran kecil hidupnya bertingkah laku sedemikian. Mereka cuma merasakan dampak atau akibatnya. Suatu sistim disebut "tidak kondusif" oleh karena dalam sistim tersebut fungsi-fungsi tertentu dalam peran yang mereka pakai sudah melemah atau hilang. Sebagai contoh, kasus Rena dan Bram diatas. Dalam sistim yang mereka miliki, Bram memainkan peran persis seperti anak-anak yang bermain "petak umpet." Bram sudah dapat diterima untuk berada dalam "tempat persembunyian yang tidak terusik," dan Rena tidak lagi "take it seriously/memikirkan secara serius karena it is a play/cuma permainan." Rena sudah belajar menerima dan beradaptasi bahkan ditengah realita kebutuhan primernya yang tak terpenuhi, dia dapat "menikmati hidup."
    Rena harus disadarkan bahwa dalam sistim yang tidak kondusif ini ia akan dirugikan. Seharusnya ia gelisah oleh karena Bram tak pernah "secara verbal" mengatakan cintanya, dan seharusnya dia kuatir mengapa Bram tidak mau diajak berbicara mengenai masa depan mereka. Tetapi realitanya kegelisahan dan kekuatiran tersebut dapat dengan begitu mudah dilupakan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dirinya? Nah, itulah yang seharusnya Rena sadari.
  3. Menyadarkan Rena akan keunikan kepribadiannya sendiri.
  4. Meskipun setiap individu bisa mempersalahkan sistim, tetapi sebenarnya penentu utamanya adalah dirinya sendiri. Mengapa Rena tidak memunyai drive yang cukup untuk mencari kejelasan posisi dan hubungan pribadinya dengan Bram? Apakah ia takut kalau dirasakan "menekan dan memaksa" (oleh karena risiko yang dampaknya "unpredictable/tidak dapat diprediksi") atau ia sebenarnya pribadi yang tidak berprinsip? Apakah ia mencintai Bram oleh karena alasan-alasan yang prinsipiil, atau cintanya pada Bram semata-mata kerja dari instinctnya?1) Apakah ia orang Kristen yang sudah mengenal dan mengimani prinsip dan tujuan pernikahan Kristen, atau ia hanyalah seorang Kristen KTP yang tidak mengerti dan tidak mempedulikan keseriusan karya Kristus dengan dampaknya dalam setiap aspek kehidupan, termasuk pernikahan.
    Nah, kepribadian manusia pada akhirnya adalah penentu dari segalanya. Kondisi dan masalah diluar dirinya hanyalah faktor-faktor pencetus, dan itu bukanlah penentu kehidupan. Seorang individu bisa mempunyai suami yang jahat, tidak setia dan tidak bertanggung jawab dan ia dapat meresponi kondisi yang buruk tersebut dengan menciptakan sistim kehidupan yang mempunyai dampak perubahan dalam diri suami karena dalam diri individu tersebut ada faktor bawaan yang baik. Sebaliknya, seorang individu yang beruntung bisa menikah dengan suami yang sangat saleh, berintegritas tinggi dan penuh dedikasi pertanggung jawaban dan toch kehidupan rumah tangganya berantakan karena ia adalah individu dengan faktor bawaan yang jelek.
    1Cinta yang didasarkan pada alasan yang prinsipiil adalah cinta yang dibangun di atas alasan yang dapat dipertanggungjawabkan (mis: seiman, tumbuh atau cukup dewasa secara rohani, pribadi yang berintegritas berarti jujur dalam kebenaran, pribadi yang peka dan peduli, pribadi yang rajin dan bertanggung-jawab, dsb). Sedangkan cinta yang semata-mata kerja dari instink adalah cinta yang timbul oleh karena pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang tidak prinsipiil (mis: rasa senang, rasa cocok, rasa happy karena dapat mengisi kebersamaan dengan pemenuhan selera yang sama). Memang salah satu komponen terpenting dari cinta adalah "intimacy." Tetapi intimacy yang sejati, yang membangun kecocokan haruslah intimacy yang didasarkan atas alasan-alasan yang prinsipiil.
    Salah satu pertanyaan terpenting dalam setiap sesi konseling adalah "siapakah sebenarnya klien ini?" Berarti dalam pertanyaan tersebut, akan muncul pertanyaanpertanyaan lain seperti misalnya: bagaimana pola pikirnya, kerja emosinya, dan sikapnya ditengah realita kehidupan yang ia hadapi? Mengapa demikian? Apa sebenarnya yang dibutuhkannya dan apakah kebutuhan tersebut wajar? Jadi, apa sebenarnya tujuan atau objektif dari pelayanan konseling ini?
  5. Menyadarkan Rena akan keseriusan pernikahan Kristen.
  6. Memang mayoritas manusia, termasuk umat Kristen menikah tanpa menyadari keseriusannya. Allah yang hidup adalah Allah yang berinisiatif menciptakan manusia dan menghendaki, melalui pernikahan, melahirkan anak-anak yang akan dipersiapkan untuk menjadi rekan-rekan kerja-Nya dalam menggarap seluruh aspek kehidupan ini. Kejatuhan dalam dosa tidak menggagalkan seluruh rencana Allah tersebut, sehingga Ia memberikan anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus, supaya melalui kematian dan kebangkitan-Nya, mengembalikan kita semua kepada posisi semula. Berarti pernikahan dan keluarga menjadi mitra kerja Allah yang paling utama. Melalui pernikahan, setiap individu Kristen dipanggil untuk tumbuh menjadi serupa dengan gambar Anak Allah Yesus Kristus (Roma 8:29), sehingga mereka siap menjadi rekan-rekan kerja Allah dalam mendidik anak-anak yang percayakan Allah kepada mereka, dan meresponi panggilan Allah sesuai dengan talenta dan "spiritual giftlkarunia rohani" masing-masing.
    Objektif pernikahan Kristen sungguh sangat serius, dan Rena harus memahami dan mulai belajar menghidupinya. Memahami keseriusan objek pernikahan, adalah indikator adanya kehadiran karakteristik Kristiani dalam masa-masa pacaran. Kearah itulah bimbingan konseling anda kepada Rena.
Tuhan memberkati selalu.
Read more

Peran Konseling Awam: Istimewa

Haruskah saya menjadi orang yang istimewa supaya saya dicintai suami saya? Pertanyaan ini seringkali dilontarkan orang dalam berbagai bentuk keluhan yang berbeda-beda. Pada saat seseorang menghadapi suami yang berjinah, dan mengkhianati cintanya, seringkali perasaan tidak berharga, tertolak dapat muncul begitu saja. Ditengah kemarahan dan keputusasaan yang seperti ini banyak individu mencoba menemukan alasan kesalahan dan kekurangan pada dirinya sendiri. Pikiran mereka bergerak dalam kontrol defense mechanism rationalisasi, sehingga ia dapat berkata: "kalau suami saya menginginkan wanita lain, pasti sebabnya oleh karena saya tidak dapat memenuhi apa yang dibutuhkannya. Saya memang penuh kekurangan, sehingga wajarlah kalau saya dicampakkan. Apakah saya harus menjadi orang yang istimewa supaya perlakuan ini tidak terulang lagi? "
Hidup seringkali memang tidak adil, dan ditengah ketidakadilan seperti ini kasus-kasus seperti dibawah ini menjadi berita sehari-hari yang kita dengar.
Ana (bukan nama sesungguhnya) adalah seorang wanita cantik yang lahir dari keluarga Kristen yang sejak remaja sudah terlibat dengan kegiatan gerejani. Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, Ana sudah terlatih memikul berbagai tanggung jawab. Tidak heran jikalau studinya berjalan dengan lancar dan saat ini karirnya terus menanjak.
Pada usia 26 tahun Ana berkenalan dengan seorang pria pendatang baru di gerejanya. Anton setahun lebih tua dari Ana, anak seorang kaya yang mewarisi perusahaan ayahnya yang sedang booming. Sayang Anton belum dibaptis karena kedua orang tuanya non-Kristen Anton mengaku kepada Ana bahwa dia pernah dua kali pacaran dan gagal.
Melihat tanda-tanda yang baik, Ana yakin Anton adalah jodoh yang Tuhan sediakan baginya. Dua tahun kemudian mereka menikah dan diberkati di gereja. Mereka memasuki kehidupan pernikahan dengan sangat baik. Anton mulai mau ikut paduan suara bersama Ana dan katekisasi untuk menerima baptisan. Sayang sekali katekisasi belum selesai, Anton terpaksa seringkali keluar Jawa mengurusi tambang batubara yang baru dibeli ayahnya. Nah perubahan mulai terjadi. Bulan kedua Anton sudah jarang menelepon kerumah. Meskipun setiap bulan ia pulang untuk tiga hari dirumah, ia kelihatan ogah-ogahan dan gelisah. Ternyata Anton punya simpanan dan dari pengakuannya sendiri, Anton memang sering ke tempat pelacuran sejak muda.
Hubungan dengan Ana memburuk. Ditengah pertengkaran Anton mengatakan bosan dengan Ana dan merasa keliru sudah menikah dengan dia. Memang dia tidak akan menceraikan Ana, tetapi apa artinya bagi Ana jikalau dia dinilai dan diperlakukan seperti itu?
Sebagai teman, Ana mencari anda untuk konseling. Untuk itulah beberapa tips dibawah ini dapat anda pertimbangkan.
  1. Hidup manusia memang kompleks, jangan buru-buru membela Ana dan meminta dia untuk memahami kelemahan suaminya. Fokuslah pada Ana karena klien anda adalah Ana. Memang konselor harus memiliki prinsip-prinsip kebenaran yang akan menjadi tolok ukur untuk menilai dan mengarahkan percakapan konselingnya. Pihak lain kita harus sadar bahwa simplifikasi masalah selalu penuh resiko. Pertama, dengan simplifikasi kita bisa kehilangan peran sebagai konselor dan menggantikannya dengan peran orang tua yang protektif dan sedang membela anak kita. Akibatnya kita terjerat dalam keinginan untuk menghukum yang salah dan kita memainkan counter transference terhadap Ana yang tanpa sengaja sudah mentransfer kebutuhan akan orang tua pelindung kepada konselor. Kedua, kita lupa bahwa apapun masalah yang dialami dan diceriterakan, semuanya itu hanyalah Ienomena yang ada. Isi ceritera Ana bukanlah masalah yang utama. Realita hidup (dalam hal ini: suami yang selingkuh) seringkali merupakan hal yang tak terhindarkan yang berfungsi sebagai faktor pencetus masalah (precipitating factor) saja. Masalah yang sesungguhnya adalah "bagaimana Ana meresponi realita tersebut." Apakah Ana melihat, menafsir dan bereaksi secara sehat dan dewasa, atau Ana bereaksi instinctual, emotional, naif dan kekanak-kanakan?
    Biasanya, masalah akan menjadi semakin kompleks jikalau si klien itu sendiri bermasalah. Coba bayangkan jikalau klien adalah individu yang matang dan bijaksana, yang memang sejak mula sudah mampu membina komunikasi dialogis yang efektif dengan suaminya. Kemungkinan menjadi sangat kecil, kalau masalah itu akan timbul. Anton kemungkinan tidak mau mengambil pekerjaan diluar Jawa meninggalkan keluarganya dan hanya bertemu sebulan sekali. Rasanya tidak mungkin perasaan bosan terhadap Ana akan dibiarkan hidup, dan Ana sendiri tidak perlu menuntut diri menjadi orang yang istimewa dihadapan Anton. Bahkan hampir mustahil Anton diluar pengetahuan istrinya berani berselingkuh dengan wanita lain. Sayang sekali itu bukan realita yang ada. Hubungan yang dewasa dan saling mengasihi belum mereka miliki. Akibatnya kelemahan lama dari Anton muncul lagi dan masalah demi masalah otomatis hadir dalam kehidupan mereka. Jadi tidak seharusnya konselor terjerat dan memfokuskan dirinya pada fenomena masalah yang dikeluhkan Ana. Fokus perhatian konselor harus pada diri klien yaitu Ana itu sendiri. Siapakah dia dan bagaimana pola pikir dan kerja reaksi emosinya. Bagaimana dia menafsirkan masalah yang dihadapinya dan mengapa demikian? Apakah reaksi dan sikapnya itu efektif ?
  2. Hidup pernikahan selalu membentuk sistem, sebab itu jangan berpikir dialektis seolah-olah jikalau Ana dapat lebih menyenangkan Anton, semua masalah dapat diselesaikan dengan baik.
    Memang secara praktis Anton bisa mengemukakan berbagai kekecewaan oleh karena "kekurangankekurangan" yang dirasakan ada pada Ana. Konselor harus betul-betul memahami bahwa natur dari kebutuhan manusia yang ... pada dirinya sendiri tak pernah dapat terpenuhi secara tuntas (apalagi kalau kepribadiannya bermasalah). Kalau manusia mau menuruti segala kebutuhan yang muncul secara instinctual maka ia tidak akan pernah dipuaskan. Ia akan selalu menemukan alasan bahwa istrinya masih kurang ini dan kurang itu. Oleh sebab itu, ditengah pemenuhan kewajiban yang "wajar" sebagai seorang istri (bersih, rapi, dan rela melayani dan memikul tanggung jawab domestik), Ana tak perlu menjadi wanita yang istimewa demi supaya dapat menjadi istri yang baik bagi Anton. Oleh sebab itu, setelah memahami poin I, yang terpenting bagi Ana sebenarnya adalah pengembangan rohaninya sendiri.
    Kasus Ana sebenarnya mirip seperti kasus wanita yang dikatakan oleh Petrus dalam suratnya (I Pet. 3:1-5). Seperti wanita itu, Ana menikah dengan individu yang belum mengenal Kristus secara pribadi, bahkan yang sudah mengembangkan dosa berani melawan kebenaran Allah. Nah untuk kasus seperti ini, rasul Petrus mengingatkan wanita tersebut untuk menjadi istri yang saleh yang menghiasi dirinya dengan perhiasan batiniah yang berasal darn roh lemah lembut dan tenteram. Begitu juga dengan Ana. Karena hanya dengan itulah, kehadiran Kristus akan nyata dalam diri Ana, dan Anton terpaksa harus berhadapan muka dengan Kristus sendiri. Hasilnya 100% terserah pada tanggung-jawab Anton sendiri. Anton dapat menolak kebenaran Allah yang hadir didepannya, dan terus berkanjang dalam dosa-dosanya, atau ia bisa juga sebaliknya yaitu mengalami pertobatan yang sejati.
  3. Tak perlu Ana menjadi istimewa dihadapan Anton, tetapi ia harus menghargai "hak istimewa" yang Tuhan sudah berikan padanya.
    Pernikahan, apapun juga alasan dan kelemahan persiapannya, adalah realita yang diijinkan Tuhan. Tidak heran jikalau untuk semua pernikahan, Tuhan berfirman "apa yang sudah disatukan Allah..." (Mat. 19:6). Dalam konteks pemahaman kasih setia Allah inilah, setiap anak Tuhan seharusnya menyadari dan mensyukuri "hak istimewa" yang Tuhan sudah berikan padanya. Ditengah kelemahan anak-anak Tuhan, Paulus mengatakan, "bagaimana engkau tahu kalau engkau tidak dipanggil untuk menyelamatkan pasanganmu?" (I Kor. 7:16). Inilah hak istimewa yang Tuhan sediakan bagi setiap anakNya. Sebagai konselor, anda harus mengingatkan Ana untuk "work out/mengerjakan" anugerah ini yaitu dengan menyadari dan memainkan peran/role yang baru dihadapan suaminya. Bukan lagi peran awam yang cuma hidup menyesuaikan diri atau menghadirkan sistem keadilan/fairness dari apa yang seharusnya bagi suami-istri, tetapi peran yang baru yaitu peran sebagai hamba Tuhan dengan misi Ilahi untuk menolong suaminya. Ana harus dapat mempunyai persepsi yang baru terhadap suaminya yang malang karena tak berdaya dalam jerat dosa-dosanya. Ana harus mulai mengembangkan perasaan iba dan belas kasihan seperti Kristus melihat orang-orang berdosa (Fil. 2:5). Itulah hak istimewa yang Tuhan sudah anugerahkan kepadanya.
    Tuhan memberkati mereka yang percaya bahwa jerih payah dihadapan Tuhan tidak sia-sia (I Kor. 15:58).
Read more

Peran Konseling Awam: Sakit Parah/Terminal dan Depresi

Reaksi alami bagi individu-individu dengan sakit tak tersembuhkan adalah depresi. Para ahli psikologi umumnya percaya bahwa depresi juga merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang dipilih individu di tengah posisi dan kondisi kritis yang tak terhindarkan. Dengan mekanisme ini individu tersebut masih dapat memiliki "sense of life - perasaan hidup," sehingga ia dapat mengeluh, menangis, marah, meratap dan mempunyai setitik pengharapan. Ia memilih posisi "cry for help/ketidakberdayaan," yang mengundang belas kasihan dari dirinya sendiri, sesama manusia, dan dari Allah. Tanpa mekanisme pertahanan tubuh ini, individu hanya mempunyai satu kemungkinan yaitu bunuh diri. Tidak heran jikalau peran konselor dalam kasus-kasus depresi jenis ini adalah listening dan empathy/mendengar dan ikut merasakan penderitaannya. Ia tidak membutuhkan nasihat dan ia tahu bahwa konselor tidak dapat menyembuhkan penyakitnya. Oleh sebab itu, yang ia butuhkan adalah perasaan dimengerti dan ditemani oleh seorang yang ia harapkan, rela mendengar seluruh isi hati dan perasaannya.
Kasus: ibu Melati (bukan nama sebenarnya) pernah sungguh-sungguh bersyukur kepada Tuhan. Dua tahun yang lalu ia menjalani operasi kanker payudara dengan sukses. Setelah itu kemana-mana ia memberikan kesaksian dan hidupnya banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan rohani, bahkan ia mempersembahkan dirinya untuk menjadi hamba Tuhan. Sayang sekali kebahagiaannya berakhir tiga bulan yang lalu. Ia harus menjalani operasi lagi dan dokter menemukan penyebaran kanker ke seluruh tubuhnya. Kondisinya dari hari ke hari semakin memburuk. Setiap beberapa jam ia harus mendapatkan suntikan untuk mengurangi rasa sakitnya. Dokter sudah mengatakan bahwa pengobatannya sudah maksimal.
Di tengah kondisi yang sangat menyedihkan ini, ibu Melati sering kali minta didoakan supaya Tuhan mengambil dirinya lebih cepat. Meskipun demikian, ia juga meminta teman-teman dari persekutuan lain untuk mencarikan hamba-hamba Tuhan yang dapat memanjatkan doa kesembuhan.
Menurut suaminya, ibu Melati sangat mengkuatirkan anak tunggalnya yang sedang menginjak remaja. Di samping itu, ia sering kali menangis dan tidak mau diajak bicara. Ia merasa tugas hidupnya belum selesai, mengapa Tuhan membiarkan dia menderita sakit separah ini.
Nah, dalam menghadapi ibu Melati dengan kondisi seperti ini, beberapa prinsip di bawah ini mungkin perlu mendapat perhatian yang khusus:
Kenali tipe dan kondisi depresinva.
Ada beberapa macam jenis depresi. Secara garis besar, konselor dapat menilai, yaitu jikalau sebelum ia sakit memang sudah ada gejala-gejala depresi (mis: sulit tidur, lelah, merasa tidak berguna, sulit konsentrasi, dan putus asa), ada kemungkinan dia memang menderita "Major Depression Disorder". Akan tetapi, kalau gejala depresinya baru muncul setelah ia menderita sakit, kemungkinan ia hanyalah penderita "Adjustment Disorder with Mixed Anxiety and Depressive Mood". Jenis depresi yang seperti ini biasanya dialami individu oleh karena adanya stressor/pemicu seperti kematian orang yang dicintai, kegagalan cinta, kehancuran usaha, sakit terminal, dsb.. Konselor dapat mengenali bagaimana dan berapa lama gejala-gejala depresinya dialami oleh individu tersebut. Kalau durasinya kurang dari 6 bulan, kondisinya dapat digolongkan akut. Akan tetapi, kalau lebih dari 6 bulan, kondisinya termasuk kronis.
Meskipun demikian konselor harus sadar, apa pun jenis depresinya, konselor jangan coba-coba menanganinya sendiri. Konselor harus memakai referral seorang psikiater supaya dapat mengatasi gejala depresinya. Baru, setelah individu tersebut "membaik (gejala-gejala depresinya mulai hilang)" konselor boleh melayani dia dengan pelayanan konselingnya. Selama gejala depresinya masih ada, tugas konselor hanyalah "available" hadir di sisinya pada saat dibutuhkan. Konselor tidak seharusnya memberikan nasihat apa-apa kecuali hanya "empathic listening" (menjadi pendengar segala keluhannya dengan jiwa yang empati yaitu menempatkan diri di tempatnya dan belajar ikut merasakan apa yang dirasakannya).
Ibu Melati membutuhkan orang-orang yang mengasihinya yang bisa menangis bersamanya, yang sabar tanpa memotong, mendengar segala sesuatu yang dikeluhkannya. Meskipun demikian, konselor harus waspada, apakah kehadirannya dikehendaki oleh ibu Melati. Di sinilah seni dan skill hadir bersama-sama. Bagaimana konselor mulai membangun rapport sehingga komunikasi dapat terjalin dengan baik, merupakan seni pendekatan yang sering kali membutuhkan perpaduan yang pas antara kemampuan berkomunikasi, keramah-tamahan, ketulusan, dan kewibawaan. Kemudian setelah itu dibutuhkan skill pelayanan konseling itu sendiri, yang ... dalam konteks seperti ini, sangat tinggi. Dari kesaksian dan pengakuan banyak konselor professional, pelayanan konseling pada klien penderita terminal illness (apalagi ditambah dengan gejala depresi) adalah salah satu pelayanan konseling yang paling sulit. Sering kali untuk menemukan kata yang tepat dalam konteks ini begitu sulitnya sampai banyak konselor bengong, bingung, kikuk tidak tahu mesti mengatakan apa. Kadang-kadang empati begitu cepat berubah menjadi simpati sehingga konselor hanyut dan emotional. Itulah sebabnya, konselor harus terus-menerus berdoa minta ketenangan, pikiran yang jernih, pertolongan, dan bijaksana surgawi.
Jangan "Playing God".
Salah satu godaan terbesar dari konselor untuk klien terminal illness adalah "playing God." Sering kali konselor merasakan seolah-olah kehadirannya sebagai konselor tidak mempunyai faedah apa-apa jikalau ia tidak dapat melakukan sesuatu yang dapat mengubah kondisi dari klien.
Memang klien depresi oleh karena faktor pencetusnya terminal illness, tetapi tugas konselor bukanlah tugas seorang dokter yang berupaya mengatasi sumber masalah tersebut yaitu sakit yang dideritanya. Akan tetapi, kita harus waspada bahwa fokus pada menyembuhkan sakit-penyakit klien justru melemahkan perannya sebagai konselor yang Tuhan sudah anugerahkan. Suatu peran yang kemungkinan besar justru jauh lebih penting daripada kesembuhan ajaib dari klien. Mengapa demikian?
Pertama, karena melalui konseling inilah klien menemukan kesadaran dirinya, yang membuat klien dapat berdiri sebagai manusia yang dewasa sadar dan utuh di hadapan Tuhan sehingga dapat meresponi realita yang dihadapinya dengan iman yang benar. Sembilan puluh sembilan persen penderita terminal illness akan segera menghadapi kematian. Jangan sampai mereka menghadapi kematian dalam kondisi pikiran dan emosi yang terjerat dengan hal-hal yang sekunder yaitu keinginan semata-mata untuk mengalami kesembuhan ajaib. Meskipun pengharapan sembuh itu penting sekali, tetapi jangan sampai klien menghadapi realita kematian dengan iman rapuh dan tidak siap.
Kedua, karena melalui konseling, klien dapat bergumul dengan Tuhan secara sadar dan dengan bekal yang semakin baik. Di dalam Tuhan tidak pernah ada realita yang kebetulan. Kalau Tuhan mengizinkan, pasti ada maksud-Nya. Oleh sebab itu, coba bayangkan jikalau teologia klien begitu kacau dan kekanak-kanakan. Seluruh rencana Allah (yang sudah mengizinkan dirinya masuk dalam penderitaan itu) akan terhambat oleh karena klien buta rohani dan tidak pernah mengerti maksud dan rencana Allah untuk dirinya. Itulah sebabnya, banyak orang beriman penderita terminal illness meninggal dengan kesaksian yang minimal. Itu pun terjadi karena belas kasihan dan intervensi dari Tuhan sehingga mereka masih bisa menyaksikan sesuatu yang baik yaitu menghadapi maut dengan menyerah dan pasrah sehingga meninggal dengan tenang. Akan tetapi, jikalau kita memahami betul-betul cara kerja Allah, kita akan mengerti bahwa itu sebenarnya bukan kemenangan irnan yang dewasa. Dan sebabnya, sekali lagi, antara lain oleh karena kegagalan pelayanan konseling, di mana individu-individu dengan terminal illness ini sebenarnya dapat memasuki masa-masa yang begitu kaya dengan "anugerah rohani" (Fil 3:10), tetapi tidak dapat menangkap kekayaan rohani tersebut.

Konseling merupakan tangan Allah yang terulur untuk mereka yang ada dalam kegelapan dan ketidakberdayaan. Marilah kita wujudkan pelayanan konseling sebagai kehadiran Roh Penghibur dan Roh Pendamping yang menyertai perjalanan pergumulan orang-orang percaya mencapai kernenangan imannya.
Read more

Peran Konseling Awam: Emosi dan Pikiran

Ahli-ahli psikologi pada umumnya berpendapat bahwa emosi cenderung bekerja lebih dahulu sebelum otak manusia berpikir secara rasionil. Tetapi mengherankan sekali betapa Alkitab selalu menekankan secara terbalik, yaitu otak seharusnya bekerja lebih dahulu sehingga dapat mengontrol kerja emosi manusia. Rupanya, Alkitab ingin menegaskan bahwa manusia sebagai peta dan gambar Allah adalah mahluk yang hidupnya tidak seharusnya dikontrol oleh kerja emosi dan instink yang bergerak secara mekanis. Manusia harus dalam kesadaran, mengatur seluruh kehidupannya. Untuk itu, hal yang paling dapat dipertanggung-jawabkan adalah kerja otak besar yang disebut cerebrum yang menjadi pusat kesadaran manusia. Manusia adalah thinking beinglmahluk yang berpikir. Pikiranlah yang seharusnya mengontrol emosi.
Alkitab juga menyaksikan bahwa pikiran manusia ternyata tidak pernah independent. Otak manusia tidak berpikir secara otomatis. Ternyata, ada beberapa sumber yang menggerakkan pikiran manusia, dan sumber yang paling dapat dipakai secara bertanggung-jawab hanyalah si aku yang sejati (ego manusia yang sesungguhnya) yaitu roh, yang bagi orang percaya, adalah bagian inti hidup yang sudah dilahir-barukan oleh Roh Kudus. Alkitab menegaskan bahwa sekali roh manusia sudah diperbaharui, ia akan mempunyai modal untuk terusmenerus dituntun oleh Roh Kudus sehingga dapat mengenal dan membina hubungan yang sangat pribadi dengan Allah sebagai anak dan Bapak (Roma 8: 15-16). Hati nuraninya akan menjadi tahta Roh Kudus sehingga dapat menghadirkan suara Roh Kudus (Ibrani 9: 14).
Meskipun demikian, manifestasi kerja roh manusia melalui hati nurani tidak selalu berjalan dengan mulus. Pikiran lama hasil pengalaman hidup dan pikiran baru karya Roh Kudus ternyata terus-menerus berebut kekuasaan. Sehingga, pikiran yang lebih kuat dan lebih konsistenlah yang seringkali menjadi identitas manusia. Alkitab mengatakan bahwa, "what man think in his heart, so ia he/ apa yang manusia pikirkan dalam hatinya, adalah identitas dirinya" (Amsal 23: 7).
Jadi, bicara soal pikiran ternyata Alkitab tidak hanya bicara tentang kerja otak secara biologis. Itulah sebabnya setiap individu harus bertanggung-jawab atas apa yang dipikirkan (pola-pola neurons di otak yang dipakai dan dikembangkan) karena disanalah si aku yang sejati dari manusia (roh manusia) dapat dikenali peran dan penyingkapan dirinya. Seringkali proses memakai dan mengembangkan pikiran' dipengaruhi oleh berbagai unsur yang lain. Kadang-kadang dipengaruhi oleh struktur kepribadiannya (life structure) dimana kebutuhan-kebutuhan primer sangat menentukan dan kadang-kadang pula dipengaruhi oleh perasaan dan kerja emosinya. Pada saat perasaan seseorang sedang kecewa, kerja-emosinya menurun, ia akan kehilangan gairah dan biasanya berpikir negatif, tidak rasionil dan tidak objektif. Pada saat itu, meskipun ia dapat memakai otaknya untuk berpikir yang rasionil dan objektif, kekuatan untuk itu melemah. Sehingga bisa dikatakan, bahwa perasaan dan emosi seringkali menentukan pikiran manusia.
Meskipun demikian realita ini tidak mutlak, karena seharusnya dalam kesadaran, manusia dapat membuka jendela-jendela hati yang tertutup. Manusia dapat belajar mendisiplin diri, dan mencegah hanyutnya perasaan yang mempengaruhi pikirannya. Ia dapat melatih diri sehingga ia dapat mengenali kerja emosinya sendiri dan mencegah peran emosi yang negatif. Setiap manusia (apalagi sebagai orang-orang yang sudah dilahirkan baru oleh Roh Kudus), dapat mengontrol kerja emosinya dan memperbaharui pikirannya sehingga seluruh kehidupannya dituntun oleh Roh Kudus. Dengan demikian, nyatalah bahwa manusia adalah mahluk yang dapat terus-menerus memperbaharui pikirannya sehingga seluruh hidup ini adalah ibadah kepada Tuhan (Roma 12: 1-2). ltulah proses perjalanan dan pergumulan iman orang percaya. Ia tidak boleh membiarkan dirinya menjadi individu yang hidupnya diatur dan dikontrol oleh kerja emosinya. Kegagalan dalam hal ini hampir selalu menjadi sumber kegagalan orang percaya untuk hidup dalam kebenaran. Sebagai contoh, marilah kita perhatikan kasus dibawah ini (dengan nama samaran).
1Jean Piaget sebut sebagai proses dari assosiasi-disequilibrium ke akomodasi.
Memasuki tahun yang kesembilan pernikahannya, Dewi merasakan hubungan dengan John suaminya sudah mulai hambar. Ia sadar bahwa seluruh kebutuhan emosinya sudah terpenuhi dalam hubungan dengan kedua anaknya sehingga ia tidak terlalu mengharapkan kedekatan dengan John. Apalagi setelah ia tahu bahwa John diam-diam seringkali melacur Mula-mula ia merasakan pedih dan sakit hati, tetapi lama kelamaan ia beradaptasi dan dapat menerima realita tersebut. Baginya itu masih OK, asal suaminya tidak memperistri perempuan-perempuan itu.
Ia tahu bahwa John memang individu sangat sibuk dengan pekerjaannya yang semakin maju. Seringkali John berminggu-minggu dalam setiap bulannya diutus perusahaan untuk men gurus pabrik yang ada di China, dan Dewi yakin bahwa disana pasti ada wanita-wanita yang memuaskan kebutuhan seksualnya. Yah, sekali lagi ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu memang kebiasaan setiap laki-laki. Dewi bisa melupakan kepedihan hatinya dengan berbagal kegiatan, baik dirumah dengan anak-anaknya maupun di gereja.
Kondisi seperti ini bisa bertahan cukup lama, sampai suatu hari Dewi betul-betul shock mendengar bahwa John memang sudah lama mempunyai WIL dan mengaku bahwa selama ini dia sebenarnya sudah kehilangan cintanya pada Dewi. John mengatakan bahwa dengan Yani, wanita idamannya ini ia sudah hidup layaknya suami-istri selama tiga tahun. Meskipun demikian, John meyakinkan Dewi bahwa ia sudah salah dan in gin memperbaiki kehidupan pernikahannya lagi. Mendengar pengakuan John, Dewi tiba-tiba merasa sangat marah, dan kerja emosinya tak dapat dikontrol lagi. Ia merasa sangat terhina kemudian dengan histeris ia menjerif jerit dan membawa kedua anaknya kembali kerumah orang tuanya. Selama sebulan kemarahannya tidak mereda. Upaya John untuk meminta maaf terus ditolak oleh Dewi, bahkan pada akhirnya Dewi mengajukan gugatan cerai. Dewi betul-betul tidak dapat memaafkan suaminya.
Menghadapi kasus diatas, beberapa prinsip dibawah ini mungkin dapat dipertimbangkan, yaitu:
  1. Menolong klien (Dewi) untuk mulai memiliki selfawareness/kesadaran diri, atas apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Apa sebenarnya realita yang ia sedang hadapi dan mengapa ia bereaksi sedemikian untuk menghadapi realita tersebut. Apakah reaksi dan respon tersebut memang tepat. Mengapa demikian?
    Pertama, Dewi perlu menyadari betapa sejak awal pernikahannya, ia ikut andil menciptakan sistim yang kurang sehat, apalagi setelah kelahiran anak-anaknya. Ia bersikap bahwa pernikahan tak perlu dikerjakan. Ia bahkan menuruti dorongan perasaan dan instinknya sendiri yang memang menikmati hubungan pribadi dengan anak-anaknya sehingga kebutuhan untuk dekat dengan John suaminya semakin redup. Dewi perlu menyadari bahwa setiap pernikahan harus dikerjakan, dan hubungan cinta-kasih antara suami-istri merupakan hubungan yang eksklusif/ sangat pribadi yang direncanakan Allah untuk menstimulir pertumbuhan masing-masing. Pernikahan Kristen tidak seharusnya dibiarkan berjalan secara alami, tetapi harus dalam kesadaran dan kesengajaan dibangun bersamasama suami dan istri.
    Kedua, Dewi harus menyadari perlunya pengenalan akan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan bahwa perjinahan adalah dosa dan itu tidak boleh dihadapi dengan mekanisme pertahanan diri saja. Apalagi jikalau defense mechanism tersebut justru menghasilkan kondisi makin melemahnya prinsip kebenaran firman Tuhan dalam hidupnya. Selama ini Dewi sudah memakai defense mechanism repressionlmenekan perasaan, reaction forma tion/bersikap seolah-olah tidak ada masalah, dan bahkan rationalizationlmencoba menjelaskan kepada dirinya sendiri bahwa perjinahan suaminya adalah hal yang wajar karena semua laki-laki sama saja.
    Dewi sudah membohongi dirinya sendiri oleh karena didalam lubuk hatinya ia mendambakan cinta dan kesetiaan suaminya. Bahkan dambaan tersebut merupakan kebutuhan yang sangat primer yang selama menikah tidak diijinkan hidup dan berkembang dalam dirinya. Mengapa demikian? Mungkin oleh karena Dewi takut dikecewakan, mungkin juga karena hasil pengamatan dan penilaiannya bahwa suaminya bukan tipe pribadi yang dapat diharapkan untuk memberikan kedua kebutuhan primer tersebut, tetapi ... mungkin juga oleh karena alasan-alasan yang lain lagi.
    Ketiga, Dewi perlu menyadari bahwa sepuluh orang yang berjinah mempunyai sepuluh macam keunikan perjinahan. Tidak seharusnya Dewi menyama-ratakan setiap perjinahan. Oleh sebab itu, ia perlu bertanya pada dirinya sendiri "mengapa suaminya berjinah, apakah ia memang tipe pribadi penjinah yang akan terus-menerus mempunyai dorongan untuk berjinah (meskipun istrinya baik dan memenuhi kebutuhan seksnya). Atau ia sebenarnya tidak ingin berjinah, tetapi oleh karena sebab-sebab tertentu ia kemudian melakukannya dan terjerat didalamnya. Atau ... ia berjinah oleh karena alasan lain lagi. Nah, Dewi perlu memahami John suaminya. Mengapa ia berjinah dan mengapa ia mengikatkan dirinya dengan Yani dan mengapa ia mengatakan penyesalannya bahkan berjanji tidak akan meneruskan perjinahan tersebut. Mengapa? Apakah alasannya patut dipertimbangkan dan dihargai?
    Keempat, Dewi juga perlu menyadari mengapa reaksinya kali ini histeris dan fatalistik (menggugat cerai)? Siapa sebenarnya dirinya, dan apa yang telah terjadi dalam jiwanya? Apakah betul sikapnya lahir dari prinsip yang dapat dipertanggung-jawabkan atau ini hanyalah reaksi emosinya saja.
  2. Menolong klien (Dewi) memikirkan penyelesaian persoalannya dengan balk, sesuai dengan prinsip iman Kristen bahwa "apa yang sudah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Mat. 19: 6). Untuk itu:
    Pertama, Dewi perlu membereskan hubungan pribadinya dengan Tuhan. Siapa sebenarnya Tuhan Yesus bagi dirinya, dan sampai dimana sebenarnya peran spiritualitas dalam kehidupannya. Apakah keselamatan itu merupakan realita yang dihidupi (intrinsik), atau ia hanyalah individu yang beragama Kristen (ektrinsik). Konselor perlu menempatkan masalah Dewi dalam konteks rohani, karena hanya kehidupan spiritualitas intrinsik yang dapat memberi harapan untuk campur tangannya Tuhan dalam masalah tersebut. Diluar itu, kasus seperti yang dihadapi Dewi adalah kasus yang hopeless. Individu seperti Dewi hanya akan rela memikirkan ulang hubungannya dengan John jikalau ia mempunyai kehidupan rohani yang intrinsik, yang baginya Tuhan betul-betul Tuhan yang hidup.
    Untuk itu konselor sendiri haruslah seorang yang sudah lahir baru dan memiliki kehidupan rohani yang dewasa dan intrinsik pula. Konseling bagi konselor Kristen adalah pembangunan tubuh Kristus. Konseling bukan hanya pemberian nasehat, tetapi spiritual gift/anugerah rohani untuk anak Tuhan yang memang terpanggil dalam pelayanan konseling. Itulah sebabnya masalah Dewi harus dapat ditempatkan dalam konteks masalah dari "satu anggota tubuh yang lumpuh dan tidak berfungsi" sehingga tugas konseling adalah mengembalikan fungsinya sesuai dengan spiritual giftnya. Doakan Dewi, ingatkan dia supaya dia dapat melihat masalah dalam hidupnya dalam konteks kehidupan tubuh Kristus yaitu gereja Tuhan yang hadir dimuka bumi. Dengan demikian Dewi bisa mematikan keinginannya untuk memuaskan perasaan dan pikirannya sendiri yang seolah-olah berhak untuk menghancurkan kehidupan pernikahannya oleh karena merasa sudah tidak tahan lagi. Jadi, emosi dan perasaan subjektif tidak boleh menjadi penentu tindakan orang percaya. Orang percaya hanya boleh dituntun oleh prinsip kebenaran firman Allah.
    Kedua, dengan demikian Dewi harus belajar untuk mengampuni secara tidak terbatas (Mat. 18: 21-22). Ia tidak boleh memikirkan perceraian, kecuali John memang seorang yang tidak takut Firman (t Pet .-T 1) dan berinisiatif untuk menceraikan dia (I Kor. 7: 15).
Read more

Peran Konseling Awam di Tengah Krisis

Oleh: Dr. Yakub B. Susabda
Sejak merdeka, Indonesia belum pernah mengalami krisis seberat seperti yang dihadapi sekarang ini. Akhir-akhir ini setiap hari ratusan kelompok diskusi diadakan, dan berbagai teori dilancarkan untuk menjelaskan musibah yang sedang melanda negara dan bangsa yang besar ini. Mungkin istilah “musibah” itu sendiri merupakan istilah yang kurang tepat dipakai. Karena yang sedang terjadi sebenarnya suatu konsekuensi logis dari proses sejarah yang telah berjalan kurang lebih dua dasawarsa terakhir ini. Dimulai dengan ilusi menjadi macan Asia yang membuka peluang besar bagi korupsi-kolusi dan nepotisme. Sampai dengan terciptanya sistim kehidupan yang membawa seluruh bangsa ini ke pinggir jurang kehancuran. Benarlah yang dikatakan oleh nabi Hosea, “sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting-beliung,” (8:7). Apa yang ditabur orang itulah juga yang akan dituainya (Gal 6:7).
Memang gejolak di permukaan mulai terlihat pada pertengahan tahun yang lalu dengan kenaikan suku bunga simpanan di bank-bank dan merosotnya nilai tukar rupiah dari Rp. 2.400 per dollar AS menjadi sekitar Rp. 4000, kemudian 6000, dan terus meroket sampai beberapa saat yang lalu pernah mencapai 16.000 rupiah per dollar AS. Kepanikan mulai dirasakan, tetapi banyak yang masih menganggap “angin puyuh ini” pasti akan berlalu dalam satu dua bulan lagi, sebab “fundamen perekonomian Indonesia kuat dan sehat. Tenang-tenang saja, kita lain dari Thailand, lain dari Meksiko.” Maklum, defence mechanisme” pseudorasionalisasi” ini dapat dipakai karena kita semua sedang menunggu hasil Sidang Umum MPR 11 Maret 1998. “Everything will be all right.” Tahu-tahu (seperti bagian besar penumpang kapal Titanic yang sedang terlelap dan terbuai dalam kenikmatan hidup), seluruh bangsa ini tiba-tiba bergerak tanpa arah. Bangsa yang makanan utamanya tempe dan tahu, tiba-tiba tidak bisa makan tempe dan tahu karena hampir seluruh kebutuhan kedelai harus diimpor dari luar negeri. Tiba-tiba kita melihat kumpulan rakyat yang harus berbaris ngantri pembagian sembako. Suatu negara dengan pertumbuhan ekonomi 7,2% per tahun mendadak menjadi minus 4-6 % per tahun. Negara pengekspor minyak, gas, timah, nikel, batu bara, tembaga, hasil bumi, hasil hutan, kayu lapis, ikan, tekstil, sepatu, mendadak menjadi negara yang menerima sumbangan negara-negara lain yang jauh lebih kecil dan lebih miskin daripadanya. Sampai pinjaman IMF pun diulur-tarik dan ditunda-tunda karena krisis moneter sudah berubah menjadi krisis ekonomi, krisis politik, krisis kepercayaan, krisis sosial, dan moral dan krisis dalam segala bidang.
Mahasiswa/i di kampus-kampus mulai berdemonstrasi menuntut reformasi dalam segala hal. Diikuti dengan peristiwa penembakan dan pembunuhan mahasiswa-mahasiswa Trisakti dan turunnya ribuan rakyat ke pusat-pusat pertokoan untuk menjarah, merusak, membakar, menganiaya dan membunuh. Lebih dari 13 pasar, 2479 ruko, 40 mal, 1604 toko di ibu kota dijarah dan dihancurkan, dan hampir 500 orang yang mati dalam kerusuhan tersebut. Dan turunlah Soeharto dari jabatannya sebagai Presiden, naiknya Habibie, turunnya beberapa menteri kabinet Pembangunan yang baru dibentuk, pengangkatan kabinet Reformasi Pembangunan, perubahan penjabat-penjabat teras atas ABRI, munculnya kelompok-kelompok ekstrim, bangkitnya partai-partai baru, tuntutan mahasiswa/i untuk persidangan istimewa MPR, tekanan pada Habibie untuk mengakui bahwa pemerintahannya hanyalah pemerintahan sementara, dsb dsb. Setiap hari, pagi-siang-malam kita terus dibombardir dengan 1001 macam informasi tentang krisis. Mental apatis dan pesimistis mulai terbentuk dari kalangan atas sampai rakyat kecil di seluruh pelosok tanah air. Wajah-wajah cerah ceria dari anak-anak sekolah sudah hilang, begitu juga spirit sukacita dalam ibadat-ibadat di gereja-gereja. Yang dapat dipahami hanyalah spirit penantian yang tidak-menentu. Perasaan uprooted (ketercabutan), insecure (tidak aman), confuse (kebingungan), anger (kemarahan), hated (kebencian), mistrust (ketidakpercayaan terhadap sesama), lonely, apatis, seolah-olah bercampur-aduk menjadi satu. Di tengah kondisi yang sangat tidak menentu ini, apa sebenarnya peran iman Kristen? Dan apa peran dari konseling Kristen bagi mereka yang mempertanyakan keadilan dan kasih Allah? Bagaimana kita dapat membimbing mereka yang kebingungan arah dan kebingungan peran? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini beberapa prinsip konseling ”awam non-professional” perlu diperhatikan, yaitu, a.l.: Menolong mengenali apa yang sedang terjadi dalam dirinya dan mengingatkan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab yang diperlukan.
Seringkali di tengah kondisi yang mencemaskan, menakutkan, tidak menentu dan ditengah pengalaman yang menyakitkan karena ketidak-adilan hidup, banyak orang membutuhkan saudara seiman yang bisa mengerti dan mendengar keluhan-keluhan hati yang seringkali tak terucapkan.
I’m hurting terribly. Please listen to me and take me seriously. Saya sedang sangat terluka. Dengarkanlah aku dan terimalah aku dengan ketulusan hatimu.
Jangan mempersalahkan dan tak perlu meng-kuliahi dia. Dengarkan saja keluhan-keluhannya, dan jadilah teman bicaranya yang sejati, yang . . . (melalui refleksi atau respon yang meng-clearkan apa yang diucapkan) dia menemukan apa yang sesungguhnya mau diucapkan. Dengan demikian dia akan mulai menemukan dirinya sendiri (melalui restrukturisasi kata-kata yang telah diucapkan) dan menyadari apa yang sedang terjadi dan apa yang menjadi responnya terhadap pengalaman tersebut. Kesadarannya akan muncul, dan dia akan mulai mengerti “mengapa di tengah kondisi krisis ini ia berpikir dengan pola pikir seperti itu dan bereaksi dengan reaksi emosi sedemikian.” Lalu terbukalah kesempatan untuk mempertimbangkan dengan akal sehatnya, “apakah reaksi, cara berpikir, sikap, dan tingkah lakunya dapat dipertanggung-jawabkan dan dibenarkan?”
Memang, mungkin di tengah krisis yang melanda seluruh bangsa ini, banyak orang, termasuk di antaranya orang-orang Kristen, yang bereaksi, dan mempunyai cara berpikir, sikap, dan tingkah-laku yang sulit dipertanggung-jawabkan. Iman Kristen yang seharusnya dapat teruji di tengah krisis, seringkali justru menghasilkan batu sandungan. Beberapa di antaranya adalah:
  1. Berkembangnya spirit racial-prejudice/prasangka negatif terhadap suku lain.
    Eric Hoffer dalam bukunya, The True Believer, pernah mengatakan bahwa: “dalam jiwa manusia, ada kecenderungan untuk menilai sebuah ras, sebuah bangsa, atau kelompok manapun yang tampak lain, berdasarkan anggota mereka yang paling brengsek.” Kecenderungan dari natur dosa ini bisa berkembang dengan subur di tengah krisis yang mengkambing-hitamkan kelompok etnis tertentu di Indonesia. Realitanya memang kelompok tersebut yang menjadi target utama penjarahan, perusakan, pembakaran dan penganiayaan di pertengahan Mei yang baru lalu. Selebaran-selebaran gelap yang ditemukan antara lain berbunyi, “Jika perjuangan mahasiwa ingin direstui, usirlah Cina dari negeri ini“ (Kompas, 1 Juni 1998). Demonstrasi anti-Cina in bisa membekali umat Kristen keturunan Tionghoa dengan prejudice yang sangat menduka-citakan Roh Kudus. Konseling mempunyai peran yang sangat besar. Targetnya bukan hanya dalam mengingatkan mereka akan kebenaran realita yang sesungguhnya (di mana penjarah dan para perusak bukanlah bangsa Indonesia pada umumnya yang cinta damai), tetapi yang terutama adalah mengembalikan kepada ajaran Injil Yesus Kristus di mana racial prejudice adalah dosa penolakan karya-Nya yang sudah merobohkan tembok-tembok pemisah antar bangsa (Roma 10:12, Gal 3:28, Kol 3:11).
  2. Melemahnya orientasi hidup yang utuh/wholistic. Dalam kumpulan doanya, Peter Marshall sebagai White House Chaplain, pernah berkata kepada Tuhan,
    "As we come together in prayer, O God, we know that there is nothing in our hearts, in our minds, or in our past that we can hide from Thee, for our lives are all of one peace in Thy sight not partitioned as we like to think. Therefore, deliver us from the error of seeking and expecting Thy guidance in our public lives while we close the door to Thee in our private living." "Pada saat kami datang menghampiri hadiratMu dalam doa, O Allahku, kami tahu tak ada satu halpun yang tersembunyi bagiMu, karena memang di hadapanMu seluruh kehidupan kami adalah satu keutuhan, bukan kepingan-kepingan terpisah seperti yang kami suka pikirkan. Oleh sebab itu, bebaskanlah kami dari kekhilafan untuk mengharapkan tuntunanMu hanya dalam kehidupan berbangsa tetapi lupa bahwa kami juga membutuhkan pertolonganMu dalam kehidupan pribadi kami." (“The Prayer of Peter Marshall,” NY” Guidepost, 1954, p. 129)
    Pada saat itu Peter Marshall sedang memimpin doa para Senator yang selama berminggu-minggu bergumul dengan masalah pelik yang menentukan hubungan antara Amerika dengan negara-negara sekutunya di Eropa. Seluruh pikiran dan perasaan para Senator dipenuhi dengan masalah tersebut dan Peter Marshall melihat bahayanya. Yaitu bahaya berpikir dengan orientasi yang tidak utuh lagi. Memang Allah memanggil mereka untuk mempertanggung-jawabkan iman mereka sesuai dengan profesi mereka sebagai politikus-politikus. Tetapi Allah juga pada saat yang sama memanggil mereka mempertanggung-jawabkan iman mereka dalam aspek-aspek kehidupan mereka yang lain. Baik itu dalam hubungan dengan gereja, keluarga, anak-anak dsb. Mereka adalah manusia yang selalu dalam keutuhannya berdiri di hadapan Allah.
    Begitu juga dengan orang-orang Kristen di tengah krisis. Bahaya yang besar di tengah krisis adalah berpikir dengan orientasi tidak utuh. Di tengah krisis seluruh hati, pikiran, perasaan, sikap, dan tingkah-laku semata-mata hanya difokuskan pada satu hal yaitu “krisis tersebut.” Akibatnya aspek-aspek hidup yang lain terbengkalai. Orang-tua tidak lagi mengajar anak-anak mereka. Keluarga tidak lagi dibina. Bahkan seluruh isi doa hanya tertuju pada penyelesaian krisis tersebut.
    Bahaya disintegrasi orientasi hidup ini melumpuhkan kehidupan iman orang percaya. Peran konselor menjadi penting sekali. Bukan hanya dalam mengingatkan orang-orang percaya akan kepentingan dari setiap aspek kehidupan dalam keutuhannya, tetapi juga dalam re-scheduling pembagian waktu, tenaga, pikiran, dan energi dalam aspek-aspek tersebut. Paulus mengatakan, “ . . . semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu” (Fil 4:8). Setiap hal yang perlu dipikirkan, haruslah dipikirkan.
  3. Lenyapnya kesadaran berbangsa dan bernegara.
    Bagi mereka yang selama ini disebut “non-pribumi,” krisis kali ini bisa menjadi pukulan yang mematikan kesadaran berbangsa dan bernegara yang selama ini kondisinya sudah lemah terabaikan. Perasaan diperlakukan tidak adil yang selama ini telah membentuk spirit “asing di tanah airnya sendiri” sekarang bisa berkembang menjadi kesadaran diri yang kuat bahwa memang mereka “bukan orang Indonesia.” Krisis kepercayaan akan bertambah-parah, dan mereka bisa menjadi salah satu sumber kolusi yang makin parah di negara ini.
    Dalam hal ini, peranan konselor Kristen penting sekali. Pertama, mengingatkan mereka bahwa spirit hedonisme dan “style of life” yang selama ini dinikmati belum tentu hak mereka sendiri. Oleh sebab itu, kalau harta benda mereka sekarang berkurang, tidak selalu berarti bahwa mereka berhak untuk mendapatkannya kembali. Berarti, mereka perlu belajar menata hidup dengan “style of life” yang baru, yang dibangun atas keringat dan pertandingan hidup yang fair dengan sesamanya. Apa yang dihasilkan kelak adalah apa yang dipercayakan Allah kepadanya. Allah hanya mempercayakan kekayaan kepada siapa yang memang sanggup menjadi penatalayan-Nya. Kedua, menolong mereka memahami prinsip-prinsip kebenaran firman Allah tentang hak, tanggung-jawab dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Kewajiban membayar pajak, menghormati pemerintah, dan mendukung dalam doa merupakan pertanggung-jawaban iman yang tak boleh diabaikan (Mat 22:21, Roma 13:1-7, I Pet 2:13-15). Terlepas dari kemungkinan bahwa jabatan Presiden sekarang ini hanya sementara, tetap prinsip Kristiani berlaku bahwa, “selama ia menduduki kursi ke-Presidenan, dialah hamba Allah.” Karena, “tidak ada pemerintahan yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13:1). Oleh sebab itu, umat Kristen harus mendukung hal-hal yang baik dan mendoakan Habibie sebagai Presiden saat ini. Termasuk dalam: (a) ikut mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah, pemerintah dan aparat negara, (b) ikut mengembalikan roda kehidupan masyarakat dengan kembali bekerja dengan semangat dan gairah yang tinggi, (c) ikut menciptakan suasana saling mempercayai dengan tidak menyebarkan gossips dengan kebenaran separoh yang tidak membangun, dan (d) ikut menciptakan sistim kerja yang bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Peran konseling Kristen, di tengah krisis yang melanda segala lapisan masyarakat Indonesia sekarang ini, besar sekali. Dan peran tersebut tak mungkin hanya dipegang oleh hamba-hamba Tuhan dan konselor-konselor Kristen yang professional. Jumlah individu yang menantikan pertolongan tak terhitung. Di antara anak-anak Tuhan, orang-orang Kristen saja, jumlah tersebut bisa mencapai ratusan ribu orang. Siapa yang akan menolong mereka?
Artikel Parakaleo ini adalah panggilan Allah untuk setiap pembaca. Sayup-sayup kita mendengar suara Tuhan yang berkata, “siapakah yang akan Kuutus, Siapakah yang mau dan rela pergi untuk Aku?” (Yes 6:8). Andalah orangnya. Jangan ragu-ragu. Jawablah seperti Yesaya yang berkata. “ini aku, utuslah aku” (ayat 8). Karena kita semua terikat sebagai anggota tubuh Kristus. Oleh sebab itu, “jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita” (I Kor 12:26). Hendaklah kamu saling membagikan pergumulan, saling mengaku dosa, saling mengajar dan saling mendoakan (Kol 3:16, Yak 5:16).
Dan, khusus bagi mereka yang melalui pergumulan dan pelayanan konseling ini menemukan dirinya terpanggil untuk menjadi professional konselor, silahkan dengan tidak ragu-ragu lagi menghubungi kami. Program Magister Konseling STTRII dengan alamat yang sama dengan buletin ini. Tuhan memberkati Anda!
Read more