Monday, January 31, 2022

KONSEKUENSI

 MORNING SPIRIT


"KONSEKUENSI"

Konsekuensi merujuk pada semua akibat atau hasil dari suatu perbuatan. Baik akibat atau hasil tersebut bersifat positif maupun negatif. Bagaimana dengan kehidupan kerohanian kita? 



Galatia 6: 8 "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."


Ada dua perbuatan yang sangat bertolak belakang. Perbuatan baik yang di kuasai oleh Roh dan perbuatan jahat yang dikuasai oleh kedagingan/Iblis. Setiap orang tentunya pernah melakukan yang yang baik dan yang jahat. Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa setiap perbuatan selalu ada konsekuensinya. Hidup ini sangat singkat untuk di jalani. Usia yang panjang belum jadi jaminan bahwa kita sudah menabur yang baik. Kita harus sungguh -sungguh menghindari untuk menabur yang jahat/kedagingan agar tidak menuai kebinasaan.


Hiduplah dengan perbuatan yang baik, berbicaralah dengan kata-kata yang memberkati, jangan suka menyakiti sesama karena konsekwensinya adalah kebinasaan. Saudaraku, sebelum bertindak berpikirlah bahwa selalu ada konsekwensi dari semua perbuatan yang kita lakukan, yang baik maupun yang jahat. 


"Setiap perbuatan selalu membutuhkan pertanggung jawaban." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Bersyukur Bisa Tidur

 Bacaan: MAZMUR 3

Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang Aku! (Mazmur 3:6)



Kata banyak orang, aktivitas tidur adalah hal yang menyenangkan apalagi setelah melakukan banyak kegiatan yang sifatnya menguras tenaga kita. Namun, ada beberapa orang yang dapat mengalami insomnia karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Ketika ada masalah, orang memang sulit untuk tidur sehingga tidak heran banyak orang hidupnya menjadi tidak maksimal karena mengabaikan tidur yang merupakan upaya hidup sehat.


Daud saat ini diserang oleh Absalom, anaknya sendiri (ay. 1) dan ia menganggap ini permasalahan yang sangat berat untuk dihadapinya (ay. 2-3, 7-8) sehingga harapan Daud tertuju hanya kepada Allah saja yang sanggup memberikan pertolongan. Walaupun menghadapi kondisi yang tertekan karena banyaknya musuh menyerang, Daud tetap bisa tidur dan percaya bahwa Tuhanlah yang akan menopang kehidupannya (ay. 6). Inilah iman Daud ketika dia menyadari masih ada Tuhan dalam hidupnya. Ketakutan Daud tidak seberapa dibanding dengan imannya akan kekuasaan Tuhan yang jauh lebih besar dari musuh-musuhnya.


Masalah boleh datang melanda kehidupan orang percaya, namun tetap ingatlah bahwa masih ada Tuhan yang sanggup menolong kita, mengapa kita harus membuat diri kita sakit karena kita terlalu memikirkannya dan kita tidak mengambil waktu tidur? Sia-sia untuk berbuat demikian karena sesungguhnya dengan tidur kita dapat merasa tenteram dan tenang dalam Allah meski banyak mengalami badai kehidupan.

Read more

Friday, January 28, 2022

Falsafah Petani

 Bacaan: HABAKUK 3



Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersora (Habakuk 3:17-18)



Berbagi kepada tetangga adalah ciri khas petani tradisional di daerah asal saya setiap kali mereka panen sesuatu (sayur, buah, cabai, dll.). Supaya tetangga mencicipi katanya. Sekalipun hasil panen mereka kurang baik (tidak balik modal) mereka tetap berbagi. Mereka juga tak pernah berhenti berjuang. Sekalipun gagal panen, mereka selalu bersemangat memulai masa tanam baru. Mereka selalu berpengharapan, bahkan ketika modal harus didapatkan dengan menjual sebagian aset sekalipun.


Falsafah serupa dihidupi oleh Nabi Habakuk. Meskipun pada masa itu keadilan muncul terbalik, Israel yang disebut-sebut sebagai bangsa pilihan harus mengalami pembuangan di Babel, ditindas oleh orang Kasdim, namun melalui doanya Habakuk menyatakan tekadnya untuk senantiasa bersukacita di dalam Tuhan. Ia tetap percaya bahwa Allah akan tetap menjadi Juru Selamat dan sumber kekuatan yang tak ada putusnya. Habakuk percaya pada pengharapan akan datangnya pemulihan bagi orang yang hidup oleh iman kepada Allah.


Iman sejati tidak akan pernah kehilangan asa. Kesulitan hidup bukan alasan kita kehilangan sukacita. Saat kita ragu akan keadilan dan kasih Allah, kita dapat bersikap seperti Habakuk yang mengingat kembali tindakan Allah pada masa lalu, akan penyertaan dan pertolongan-Nya yang diberikan tepat pada waktu-Nya. Habakuk merasakan kehadiran Allah mengubah sejarah, bahkan membuatnya menyadari bahwa ia harus bergantung bukan pada kondisi atau tanda-tanda yang tampak melainkan hanya kepada Allah yang mengatur menurut kuasa kedaulatan-Nya.

Read more

Thursday, January 27, 2022

Tidak Perlu CV

 Bacaan: FILIPI 3:2-16


... dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah. (Filipi 3:3)



Sewaktu melamar pekerjaan, seseorang pasti menyerahkan Curriculum Vitae (CV) ke perusahaan. CV tersebut berisi biodata diri, latar belakang pendidikan, dan pengalaman pekerjaan. Bukan rahasia lagi apabila perusahaan cenderung mempertimbangkan pelamar dengan latar pendidikan yang baik dan pengalaman kerja yang mumpuni.


Beruntung, untuk bekerja di ladang Tuhan, kita tidak perlu menyerahkan CV! Faktanya, Tuhan tidak ambil pusing terhadap setiap kelemahan kita ataupun tertarik pada semua keunggulan kita! Hal-hal lahiriah yang melekat dalam diri kita bukanlah tolok ukur yang dipakai Allah (ay. 3). Menariknya, dibandingkan pengenalan akan Kristus, Paulus bahkan mengibaratkan hal-hal lahiriah miliknya yang luar biasa di mata bangsanya, hanya sebagai sampah (ay. 8)!


Seberapa buruk latar belakang masa lalu kita, Tuhan tetap mampu mengubahkan dan lalu memakai kehidupan kita bagi kemuliaan-Nya. Perhatikan bahwa Gideon yang awalnya pengecut diubahkan menjadi pahlawan gagah perkasa. Musa yang sebelumnya terus menolak panggilan Tuhan berubah menjadi pemimpin panutan. Dan lagi, Paulus yang memulai kariernya sebagai penganiaya jemaat berakhir sebagai pemberita Injil yang radikal.


Apa yang terpenting bukan bagaimana kita memulai masa lalu, tetapi bagaimana kita mengakhiri kehidupan ini. Tidak perlu berkecil hati apabila kita memiliki latar belakang kehidupan yang buruk. Jangan pula bermegah pada apa pun keunggulan diri. Inilah yang perlu kita lakukan: "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku."

Read more

Wednesday, January 26, 2022

BERSERAH

 MORNING SPIRIT


"BERSERAH"

Hidup di dalam dunia ini memang tidak pernah berhenti untuk belajar dan bekerja. Belajar agar terus mengalami transformasi hidup dan bekerja agar bisa menikmati hidup. Dalam kesemuanya itu pastilah tidak ada yang bisa dikerjakan dengan sempurna. Oleh sebab itu ada baiknya kebenaran firman Tuhan ini menjadi pegangan kita. 

 


Mazmur 37:5 "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;"


Tentunya kita rindu untuk mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Namun kemanusiaan kita menyadarkan bahwa kita adalah makhluk yang terbatas. Kita diperhadapkan dengan banyaknya tantangan yang menghadang yang tentunya tidak semua bisa diselesaikan dengan baik. Berserah kepada Tuhan adalah solusi terbaik. Berserah bukan berarti menyerah. Berserah berarti kita secara aktif bekerja melakulan bagian kita. Yang tidak mampu kita kerjakan oleh karena keterbatasan kita sebagai manusia, kita serahkan kepada Tuhan untuk menyelesaikannya. 

Jadi jangan semua beban di pikul sendiri, serahkanlah kepada Tuhan yang bijak menyelesaikannya. 


"Tuhan sangat menghargai orang yang sudah berusaha secara maksimal dan membiarkan Tuhan untuk melengkapinya." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Menolak Air Syiloah

 Bacaan: YESAYA 8:1-10


"Oleh karena bangsa ini telah menolak air Syiloah yang mengalir lamban, dan telah tawar hati terhadap Rezin dan anak Remalya." (Yesaya 8:6)



Ahas, raja Yehuda, merasa sangat takut. Raja Aram dan raja Israel telah bersatu untuk memerangi Yerusalem. Dua kerajaan besar lainnya, Mesir dan Asyur juga menjadi ancaman bagi Yehuda. Saat itulah Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan kepadanya, agar ia mengandalkan Tuhan. Namun Ahas memilih untuk mengandalkan dirinya sendiri. Ia mengabaikan firman Tuhan. Ia lebih memilih percaya kepada para berhalanya, bahkan mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api. Ia pun mengikat perjanjian dengan raja Asyur. Ia rela membayar upeti dan tunduk kepada Asyur, asalkan Yehuda diselamatkan dari tangan raja Aram dan Israel (lih. 2Raj 16).


Melalui Yesaya, Tuhan menggambarkan sikap Raja Ahas itu sebagai tindakan menolak air Syiloah yang mengalir lamban. Syiloah (namanya dalam bahasa Ibrani, dalam bahasa Yunani disebut "Siloam") adalah kolam di Yerusalem yang menjadi sumber air suci yang digunakan untuk berbagai upacara di Bait Allah. Sebaliknya, Ahas memilih air sungai Efrat yang kuat dan besar, sebagai gambaran Asyur.


Ahas beranggapan bahwa hikmat dan kuasa manusia lebih hebat dari kuasa Allah. Ia mengira Asyur akan menjadi penyelamatnya. Padahal nantinya, Asyur sendiri menjadi ancaman baginya, serupa sungai besar yang meluap dan menenggelamkan mereka (ay. 7-8). Ahas memilih mengandalkan hikmat manusia, dan ia berakhir dengan kegagalan. Kiranya kita dapat memetik pelajaran dari kesalahannya.

Read more

Tuesday, January 25, 2022

KARENA ENGKAU YANG MENGATAKANNYA

 MORNING SPIRIT


"KARENA ENGKAU YANG MENGATAKANNYA"

Seseorang yang sangat mahir dibidangnya akan sangat sulit untuk menerima masukan dari orang lain. 



Lukas 5:5 "Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."


Simon berada dalam perasaan yang kacau balau. Ia sangat lelah, kecewa bahkan putus asa karena sudah sepanjang malam menjala ikan di tengah laut tapi tak seekorpun yang ia dapatkan. Dalam kondisi seperti ini, Tuhan tahu apa yang ia rasakan dan Tuhan memberikan perintah yang mungkin di luar nalarnya sebagai nelayan sudah sangat berpengalaman. Dalam kondisi hati yang dongkol, ia memberi penjelasan dan akhirnya mengatakan "karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."


Biasanya orang yang dalam keadaan kesal dan putus asa akan sulit untuk menerima firman Tuhan. Tapi ia justru mencoba untuk melakukan yang diperintahkan Gurunya. Saudaraku, ketaatan tidak akan pernah sia-sia. Secara akal bisa saja tidak mungkin tetapi bagi Tuhan Yesus adakah yang mustahil? Buktinya mereka berhasil dan menangkap ikan dengan jumlah yang besar sampai jala mulai koyak dan perahu hampir tenggelam. Mari belajar dari firman Tuhan ini. Jika Tuhan memerintahkannya bahkan di luar pemikiran kita, tetaplah taat melakukannya. Jangan pernah meragukan perintah Tuhan.


"Mujizat terjadi pada saat kita taat melakukan perintah TUHAN." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Ah, Sempat-sempatnya!

 

Bacaan: LUKAS 18:9-14

Ah, Sempat-sempatnya!



"Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini." (Lukas 18:11)

Bunda Teresa pernah berkata, "Sehari yang kita lalui tanpa berbuat baik kepada sesama adalah hari yang tak layak untuk dihidupi." Ya, berbuat baik adalah salah satu kebajikan dan keluhuran yang utama dalam hidup manusia. Semua agama mengajarkannya. Semua pendidik menganjurkannya. Orang tua yang sehat menasihatkan kepada anak-anaknya. Bahkan hati nurani kebanyakan orang membisikkan pesannya.

Sebenarnya kaum Farisi adalah orang-orang yang tahu berbuat baik. Sangat tahu. Bahkan mereka melakukan kewajiban-kewajiban agama dengan rajin. Masalahnya, mereka melakukan kebaikan itu sambil menikmati kenyataan bahwa orang lain tidak melakukannya, atau, setidaknya, tidak melakukannya sebaik (menurut anggapan) mereka. Itulah yang di mata Tuhan Yesus merupakan kekeliruan besar!-sebagaimana tecermin dalam perumpamaan yang diceritakan-Nya. Lihatlah, sementara menghadap Tuhan pun si Farisi ini masih sempat menengok ke arah seorang pemungut cukai, lalu menonjolkan kebaikannya dibanding orang itu (ay. 11). Ah, sempat-sempatnya!

Seorang teman pernah berkelakar begini, "Orang pasti senang mendengar Anda berbuat baik, sepanjang itu tak melebihi dirinya." Dunia ini memang aneh. Berbuat baik pun dijadikan ajang pembuktian siapa yang lebih baik. Malahan ada yang berbuat baik dengan diiringi nafsu untuk membuat orang lain tampak jelek. Padahal Tuhan tak pernah memaksudkannya begitu. Berbuat baik yang sejati tak memerlukan pembenaran dari keburukan orang lain. Berbuat baik, titik. Tuhan melihatnya. Sesama merasakannya.

Read more

Monday, January 24, 2022

Gelisah karena Berkat

 


Bacaan: KEJADIAN 12:10-20


Gelisah karena Berkat

"Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup." (Kejadian 12:12)


Pada suatu kebaktian di gereja, Bapak Pendeta menunjukkan gambar seorang pria dengan tumpukan uang memenuhi kamarnya. Seorang teman lalu mengatakan, "Betapa bahagianya pria itu!" Tidak disangka, teman lain memberi pendapat yang sungguh berbeda. Ia berkata, "Pria itu mungkin susah tidur karena memikirkan uangnya!"


Mendapat berkat, siapa tidak mau? Faktanya, keberadaan berkat khususnya yang bersifat fisik atau materi, sering kali justru menggelisahkan hati dan pikiran manusia! Mari perhatikan kisah Abram! Abram mempunyai seorang istri cantik bernama Sarai. Amsal 18:22 menyebutkan istri sebagai "sesuatu yang baik", dalam arti adalah berkat. Menariknya, tercatat hati Abram pernah digelisahkan oleh "berkat" itu. Ketika timbul kelaparan dan mereka mengungsi ke Mesir, keberadaan istrinya yang cantik membuat Abram ketakutan dan terancam kematian. Itulah mengapa, Abram meminta Sarai supaya mengaku sebagai saudaranya (ay. 11-13). Apabila Sarai mengatakan dirinya saudara Abram, bukan tidak mungkin dirinya diambil orang lain sebagai istri, termasuk Firaun. Hal ini tentu bertentangan dengan rencana Tuhan yang hendak menjadikan Abram sebagai bangsa yang besar melalui Sarai. Beruntung, Tuhan turun tangan menyelamatkan rumah tangga Abram (ay. 17).


Kehidupan beberapa orang dapat berubah tidak tenang seketika dilimpahi oleh berkat. Hal tersebut terjadi karena mereka kini lebih terfokus kepada berkat, bukan Sang Pemberi Berkat. Tidak perlu gelisah apabila kita diberkati berlimpah-limpah. Sebaliknya, bersyukurlah kepada Tuhan dan yakinlah bahwa berkat disediakan untuk kebahagiaan, bukannya kemalangan!

Read more

Saturday, January 22, 2022

Kedodoran


Bacaan: 1 SAMUEL 17:12-39

Kedodoran

Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menangga (1 Samuel 17:39)


Karena ingin berlagak seperti ayahnya, anak kecil itu memasukkan kedua kakinya ke dalam sepatu si ayah. Kemudian ia melangkah sambil tersenyum lebar, namun tak lama kemudian senyuman itu berubah menjadi isak tangis. Mengapa? Ia terjatuh, karena sepatu itu sama sekali bukan ukurannya. Tidak cocok untuk kakinya. Terlampau besar. Alih-alih bisa berjalan dengan mantap, ia justru tersandung sendiri.


Pernahkah kita membayangkan andaikata Daud maju menghadapi Goliat dengan mengenakan baju perang kepunyaan Raja Saul? Andaikan Daud berpikir, "Kapan lagi raja mengijinkan aku memakainya?" Atau ia berpikir, "Setidaknya ini bukan baju perang biasa, ini lebih komplit, ini baju perang raja!" Maka, sesudah itu dipakainya untuk bertempur melawan Goliat. Saya membayangkan, Daud yang terjerembab akibat baju tempur yang kedodoran. Baju perang itu bukannya melindungi dirinya, melainkan menghalangi keleluasaannya untuk bergerak dan membahayakannya. Syukurlah kita membaca, "Kemudian ia menanggalkannya." (ay. 39)


Salah satu tekanan yang sering membuat kita tidak tahan adalah tekanan sosial. Berupa tuntutan agar kita tampil sesuai harapan masyarakat. Memenuhi ekspektasi yang dipatok oleh sekeliling kita. Akibatnya kita berusaha menyesuaikan diri dengan citra tertentu yang bukan diri kita, demi mendapat pengakuan. Padahal penampilan terbaik adalah ketika kita menjadi diri sendiri. Bukan meniru. Bukan bersembunyi di balik topeng penampilan orang lain. Tampil bukan sebagai diri sendiri justru mengerdilkan potensi yang Tuhan karuniakan kepada kita. Maka, hadapilah kehidupan ini dengan tetap menjadi diri sendiri!

Read more