Thursday, January 19, 2023

BERBESAR HATI

 

MORNING SPIRIT


"BERBESAR HATI"

Terkadang kita melakukan kesalahan dan dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakuinya. Ketika kita melakukan yang benar namun tetap dianggap salah dibutuhkan kebesaran hati untuk menerimanya.

1 Petrus 2:22-23 "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil."

Yesus Tuhan kita, tidak pernah melakukan yang salah karena Ia adalah Allah yang kudus. Namun ada begitu banyak orang yang membenci-Nya karena Ia melakukan kebenaran dan di tuduh berbuat kesalahan bahkan di intimidasi dengan cara - cara yang tidak manusiawi. 

Yesus memberikan teladan hidup tentang "berbesar hati" kepada kita.Ia tidak membenci apalagi  membalas, Ia hanya menyerahkannya kepada BapaNya untuk menghakimi mereka. 

Apa yang harus kita lakukan ketika  dipersalahkan padahal kita tidak berbuat salah?

Kiranya kita tidak cepat marah, benci dan grasak - grusuk, merencanakan pembalasan. Perlu kebesaran hati untuk menerima dan menyerahkannya kepada Bapa yang adalah Hakim yang adil.

Biarkan Tuhan yang membalaskannya walau hati kita merasa sangat tersakiti. Tuhan tahu memberkati orang yang benar dan menghukum orang yang bersalah. 

"Kebesaran hati dibutuhkan untuk pendewasaan iman dan karakter kita."


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Saturday, February 12, 2022

Apakah Anda Mendengarkan Allah?

 

Mereka berkata kepada Musa: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.” — Keluaran 20:19

“Apakah Anda Mendengarkan Allah?”, judul renungan kita hari ini. Chambers mengatakan bahwa apabila kita lebih suka mendengarkan suara hamba Tuhan, lebih suka mendengar kesaksian-kesaksian daripada mendengarkan Tuhan sendiri, hal itu sesungguhnya “menunjukkan betapa kurangnya kasih kita kepada Allah”.



Kita tidak dengan sadar mengingkari Allah, hanya karena kita tidak memperhatikan Dia. Allah telah memberikan perintah-Nya kepada kita, tetapi kita tidak memberikan perhatian, bukan karena ketidakpatuhan yang disengaja, tetapi karena kita tidak benar-benar mengasihi dan menghormati Dia. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15).

Ketika kita menyadari bahwa kita telah terus-menerus menunjukkan rasa tidak hormat kepada Allah, kita akan dipenuhi rasa malu dan terhina karena mengabaikan Dia.

“Engkaulah berbicara dengan kami, ... tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami ....” Kita menunjukkan betapa kurangnya kasih kita kepada Allah dengan lebih suka mendengarkan suara para hamba-Nya daripada mendengarkan Dia sendiri. Kita suka mendengarkan kesaksian-kesaksian pribadi, tetapi kita enggan mendengar Allah sendiri berbicara kepada kita.

Mengapa kita begitu takut bila Allah berbicara kepada kita? Karena kita tahu apabila Allah berbicara, kita harus melakukan hal yang diperintahkan-Nya, atau kita harus mengatakan kepada-Nya bahwa kita tidak mau taat. Namun, jika sekiranya hanya seorang hamba Allah yang berbicara kepada kita, kita merasa bahwa kepatuhan (kepada Tuhan) merupakan pilihan, bukan keharusan. Kita menanggapinya dengan berkata, “Wah, itu hanya gagasanmu sendiri, walaupun aku tidak menyangkal bahwa ucapanmu itu barangkali adalah kebenaran Allah.”

Adakah saya selalu merendahkan Allah dengan tidak mengindahkan-Nya, sedangkan Dia dengan kasih-Nya terus-menerus memperlakukan saya sebagai anak-Nya?

Pada akhirnya, ketika saya mendengar dia, hinaan yang saya timpakan atas diri-Nya berbalik kepada saya. Respons saya kemudian menjadi, “Tuhan, mengapa aku begitu tidak peka dan keras kepala?”

Hal inilah yang selalu terjadi ketika akhirnya kita mendengar Dia. Akan tetapi, kegembiraan sejati ketika akhirnya kita mendengarkan Dia, kegembiraan disertai rasa malu karena perlu waktu begitu lama untuk sadar.

Read more

Wednesday, February 9, 2022

MENDUA HATI

 MORNING SPIRIT


"MENDUA HATI"

Orang yang mendua hati disebutkan sebagai orang yang tidak punya ketetapan hati. Orang yang seperti ini adalah orang yang sulit fokus untuk mencapai sesuatu. 


Yakobus 1:8 "Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya."



Dalam kehidupan iman kristiani sangat dilarang keras sikap yang mendua hati. Alkitab mencatat bahwa tidak boleh ada ada Allah lain dihadapan-Nya seperti hukum pertama dari Dasa Titah:


"jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku. Keluaran 20:3


Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:24 


Hati kita harus lurus dan fokus hanya kepada Allah saja. Jangan andalkan apapun diluar Allah saat ada ujian hidup, saat masalah bertubi-tubi bahkan saat sekalipun berada di ujung tanduk. 

Ketika hati kita mulai mendua maka kita tidak akan bisa tenang. Tuhan tidak akan menjawab permohonan kita. Marilah kita membuang semua tawaran yang membuat hati kita mendua. 


"Allah sangat tahu apakah kita mendua hati atau tidak." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Apakah Anda Lelah Rohani?

 

Allah kekal ... tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu ... — Yesaya 40:28

Semua orang pernah mengalami kelelahan rohani. Dan, menurut Oswald Chambers, “Kelelahan rohani tidak pernah diakibatkan oleh dosa, melainkan oleh pelayanan”. Soalnya, “mengalami atau tidak mengalami kelelahan itu tergantung pada dari mana mendapatkan bekal/suplai kekuatan”. Menarik! Mari, selanjutnya kita ikuti di bawah ini.


Apakah Anda Lelah Rohani?

Kelelahan berarti tenaga utama kita terkuras habis. Kelelahan rohani tidak pernah diakibatkan oleh dosa, tetapi oleh pelayanan. Apakah Anda mengalami atau tidak mengalami kelelahan itu tergantung pada dari mana Anda mendapatkan bekal/suplai kekuatan. Yesus berkata kepada Petrus, “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:17), tetapi Dia tidak memberi apa pun kepada Petrus untuk memberi makan domba-domba itu.

Dalam proses dijadikan menjadi roti yang dipecah-pecah dan anggur yang dituangkan berarti Anda harus menjadi makanan bagi jiwa-jiwa lain sebelum mereka belajar untuk makan dari Allah. Mereka harus menguras Anda habis sampai tetes yang terakhir.

Akan tetapi, usahakanlah untuk mengisi kembali persediaan Anda, atau Anda akan dengan cepat benar-benar mengalami kelelahan/kehabisan tenaga. Sebelum orang lain belajar untuk menyerap kehidupan Tuhan Yesus secara langsung, mereka harus menyerap kehidupan-Nya melalui Anda. Anda harus secara harfiah menjadi sumber persediaan mereka, sampai mereka belajar menyerap makanan mereka dari Allah. Kita berutang kepada Allah untuk berusaha sebaik-baiknya untuk melayani domba-domba Allah seperti kita melayani Allah sendiri.

Sudahkah Anda mengalami kelelahan karena cara Anda melayani Allah? Jika demikian, perbaruilah dan kobarkanlah hasrat dan kasih sayang (afeksi) Anda. Selidikilah alasan Anda untuk melayani. Apakah Anda bersumber pada pengertian Anda sendiri atau berlandaskan penebusan Yesus Kristus?

Lihatlah kembali landasan kasih dan afeksi Anda serta ingatlah letak sumber kuasa Anda. Anda tidak berhak untuk mengeluh, “Ya Tuhan, aku begitu lelah.” Dia menyelamatkan dan menguduskan Anda untuk membuat Anda lelah.

Berlelahlah untuk Allah, tetapi ingatlah bahwa Dialah persediaan Anda. “Segala mata airku ada di dalammu.” (Mazmur 87:7)

Read more

Saturday, February 5, 2022

SALING MEMPERSALAHKAN

 MORNING SPIRIT


"SALING MEMPERSALAHKAN"

Sudah menjadi kebiasaan umum manusia itu sulit menerima kesalahan yang dia perbuat. Sehingga istilah "kambing hitam" seringkali bermunculan. 


Yakobus 5:9 "Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu."



Dalam komunitas anak-anak Tuhan atau para pelayan Tuhan, tak jarang hal bersungut dan saling menyalahkan pun sering terjadi. Setiap menghadapi kesulitan mereka tidak mengoreksi diri, melainkan langsung menyalahkan orang lain dan bersungut-sungut. Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain dari pada melihat keberadaan diri sendiri. Kita merasa paling benar dan orang lain yang selalu salah. Sangat disayangkan padahal mereka dikategorikan sudah bertobat, sudah lama melayani Tuhan tetapi selalu bersembunyi dibalik arogansinya.  

Ingatlah Hakim Agung siap menghukum mereka yang acapkali bersungut dan menyalahkan orang lain. Bertobatlah!!


"Bersungut-sungut dan suka menyalahkan orang lain adalah tanda ketidak dewasaan rohani/kekanak-kanakan." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Belum Waktunya

 Bacaan: HAGAI 1


"Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!" (Hagai 1:2)



Dinamika perkembangan diri remaja sangat unik, kadang mereka merasa diri mereka sudah dewasa dan tidak ingin dikekang. Tatkala saya menasihati mereka saya selalu berkata, "Dik, belum waktunya untuk melakukan ini dan itu"-ada beberapa dari mereka yang mengerti bahwa mereka perlu mengekang hasrat dan keinginan diri sendiri untuk bertindak bebas. Namun adakalanya saat diminta tanggung jawab apalagi untuk persoalan rohani yang berguna bagi hidup mereka, mereka juga bisa pandai beralasan, "Belum waktunya kami, itu tugas orang lain."


Setelah pulang dari pembuangan, bangsa Israel diingatkan kembali untuk membangun kembali rumah Tuhan (ay. 8). Ironisnya, bangsa Israel tidak mengindahkan perintah itu, malahan mereka masih sibuk untuk membangun rumahnya masing-masing (ay. 9) dan berkata bahwa belum saatnya membangun rumah Tuhan (ay. 2). Frasa "perhatikanlah keadaanmu!" (ay. 5, 7) menjadi teguran keras agar mereka peka untuk lebih memprioritaskan hubungan pribadi dengan Tuhan ketimbang persoalan mereka yang lain. Itulah yang membuat berkat Tuhan tidak tercurah bagi hidup mereka (ay. 9-10).


Tuhanlah yang tetap menjadi prioritas utama daripada urusan-urusan pribadi yang lain. Bangsa Israel jatuh karena lebih memikirkan kemapanan diri sendiri, kita pun juga akan seperti mereka jika tidak peka dengan perintah Tuhan. Dalam kehidupan pribadi, hubungan dengan Tuhan itu penting. Siapakah kita selama ini? Hendaknya orang mengenal kita lebih cinta Tuhan daripada cinta kemapanan diri sendiri.

Read more

Tuesday, February 1, 2022

Providensia Dei

 Bacaan: 1 RAJA-RAJA 17:7-16


"... dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu." (1 Raja-raja 17:13)



Puji Tuhan, dalam usianya yang ke-83, ibu saya masih sehat. Dalam suatu percakapan telepon kami, beliau bercerita betapa bahagia dirinya manakala masih sanggup berkeliling bersama dua sahabatnya untuk melakukan kunjungan kepada anggota jemaat usia lanjut atau mereka yang membutuhkan perhatian-sebagaimana yang selalu dilakukannya sejak muda dalam perannya sebagai diaken atau penatua gereja.


Providensia Dei-sebutan latin untuk penyediaan atau pemeliharaan Allah. Ada satu kebenaran yang senantiasa berlaku di dalamnya-yaitu pemeliharaan Allah pasti berjalan seiring dengan prioritas yang dikehendaki-Nya (bdk. Mat 6:33). Penerapan praktisnya ialah memberi itu selalu mendahului menerima. Pelajaran itulah yang diperoleh seorang janda di Sarfat. Tatkala ia mendahulukan yang Allah kehendaki-memberi yang dibutuhkan nabi-Nya-dirinya menerima aliran berkat, tepung dan minyaknya tersedia berkecukupan (ay. 16). Sebab rahasianya adalah di dalam memberi, kita pun menerima.


Di mata saya, ibu adalah sosok beriman yang mengalami pemeliharaan Allah secara luar biasa dalam hidupnya. Kesediaannya untuk melayani pekerjaan Tuhan dengan setia sejak masa mudanya, tanpa disadarinya, telah ikut menghadirkan berkat yang mencukupkan dirinya sendiri hingga usia lanjut. Namun bukan hanya beliau. Tanyakan pada siapa saja yang berani mendahulukan tindakan memberi daripada menuntut untuk diberi, mereka pasti menjadi saksi hidup pemeliharaan Allah.

Read more

Monday, January 31, 2022

KONSEKUENSI

 MORNING SPIRIT


"KONSEKUENSI"

Konsekuensi merujuk pada semua akibat atau hasil dari suatu perbuatan. Baik akibat atau hasil tersebut bersifat positif maupun negatif. Bagaimana dengan kehidupan kerohanian kita? 



Galatia 6: 8 "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."


Ada dua perbuatan yang sangat bertolak belakang. Perbuatan baik yang di kuasai oleh Roh dan perbuatan jahat yang dikuasai oleh kedagingan/Iblis. Setiap orang tentunya pernah melakukan yang yang baik dan yang jahat. Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa setiap perbuatan selalu ada konsekuensinya. Hidup ini sangat singkat untuk di jalani. Usia yang panjang belum jadi jaminan bahwa kita sudah menabur yang baik. Kita harus sungguh -sungguh menghindari untuk menabur yang jahat/kedagingan agar tidak menuai kebinasaan.


Hiduplah dengan perbuatan yang baik, berbicaralah dengan kata-kata yang memberkati, jangan suka menyakiti sesama karena konsekwensinya adalah kebinasaan. Saudaraku, sebelum bertindak berpikirlah bahwa selalu ada konsekwensi dari semua perbuatan yang kita lakukan, yang baik maupun yang jahat. 


"Setiap perbuatan selalu membutuhkan pertanggung jawaban." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Bersyukur Bisa Tidur

 Bacaan: MAZMUR 3

Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang Aku! (Mazmur 3:6)



Kata banyak orang, aktivitas tidur adalah hal yang menyenangkan apalagi setelah melakukan banyak kegiatan yang sifatnya menguras tenaga kita. Namun, ada beberapa orang yang dapat mengalami insomnia karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Ketika ada masalah, orang memang sulit untuk tidur sehingga tidak heran banyak orang hidupnya menjadi tidak maksimal karena mengabaikan tidur yang merupakan upaya hidup sehat.


Daud saat ini diserang oleh Absalom, anaknya sendiri (ay. 1) dan ia menganggap ini permasalahan yang sangat berat untuk dihadapinya (ay. 2-3, 7-8) sehingga harapan Daud tertuju hanya kepada Allah saja yang sanggup memberikan pertolongan. Walaupun menghadapi kondisi yang tertekan karena banyaknya musuh menyerang, Daud tetap bisa tidur dan percaya bahwa Tuhanlah yang akan menopang kehidupannya (ay. 6). Inilah iman Daud ketika dia menyadari masih ada Tuhan dalam hidupnya. Ketakutan Daud tidak seberapa dibanding dengan imannya akan kekuasaan Tuhan yang jauh lebih besar dari musuh-musuhnya.


Masalah boleh datang melanda kehidupan orang percaya, namun tetap ingatlah bahwa masih ada Tuhan yang sanggup menolong kita, mengapa kita harus membuat diri kita sakit karena kita terlalu memikirkannya dan kita tidak mengambil waktu tidur? Sia-sia untuk berbuat demikian karena sesungguhnya dengan tidur kita dapat merasa tenteram dan tenang dalam Allah meski banyak mengalami badai kehidupan.

Read more

Friday, January 28, 2022

Falsafah Petani

 Bacaan: HABAKUK 3



Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersora (Habakuk 3:17-18)



Berbagi kepada tetangga adalah ciri khas petani tradisional di daerah asal saya setiap kali mereka panen sesuatu (sayur, buah, cabai, dll.). Supaya tetangga mencicipi katanya. Sekalipun hasil panen mereka kurang baik (tidak balik modal) mereka tetap berbagi. Mereka juga tak pernah berhenti berjuang. Sekalipun gagal panen, mereka selalu bersemangat memulai masa tanam baru. Mereka selalu berpengharapan, bahkan ketika modal harus didapatkan dengan menjual sebagian aset sekalipun.


Falsafah serupa dihidupi oleh Nabi Habakuk. Meskipun pada masa itu keadilan muncul terbalik, Israel yang disebut-sebut sebagai bangsa pilihan harus mengalami pembuangan di Babel, ditindas oleh orang Kasdim, namun melalui doanya Habakuk menyatakan tekadnya untuk senantiasa bersukacita di dalam Tuhan. Ia tetap percaya bahwa Allah akan tetap menjadi Juru Selamat dan sumber kekuatan yang tak ada putusnya. Habakuk percaya pada pengharapan akan datangnya pemulihan bagi orang yang hidup oleh iman kepada Allah.


Iman sejati tidak akan pernah kehilangan asa. Kesulitan hidup bukan alasan kita kehilangan sukacita. Saat kita ragu akan keadilan dan kasih Allah, kita dapat bersikap seperti Habakuk yang mengingat kembali tindakan Allah pada masa lalu, akan penyertaan dan pertolongan-Nya yang diberikan tepat pada waktu-Nya. Habakuk merasakan kehadiran Allah mengubah sejarah, bahkan membuatnya menyadari bahwa ia harus bergantung bukan pada kondisi atau tanda-tanda yang tampak melainkan hanya kepada Allah yang mengatur menurut kuasa kedaulatan-Nya.

Read more

Thursday, January 27, 2022

Tidak Perlu CV

 Bacaan: FILIPI 3:2-16


... dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah. (Filipi 3:3)



Sewaktu melamar pekerjaan, seseorang pasti menyerahkan Curriculum Vitae (CV) ke perusahaan. CV tersebut berisi biodata diri, latar belakang pendidikan, dan pengalaman pekerjaan. Bukan rahasia lagi apabila perusahaan cenderung mempertimbangkan pelamar dengan latar pendidikan yang baik dan pengalaman kerja yang mumpuni.


Beruntung, untuk bekerja di ladang Tuhan, kita tidak perlu menyerahkan CV! Faktanya, Tuhan tidak ambil pusing terhadap setiap kelemahan kita ataupun tertarik pada semua keunggulan kita! Hal-hal lahiriah yang melekat dalam diri kita bukanlah tolok ukur yang dipakai Allah (ay. 3). Menariknya, dibandingkan pengenalan akan Kristus, Paulus bahkan mengibaratkan hal-hal lahiriah miliknya yang luar biasa di mata bangsanya, hanya sebagai sampah (ay. 8)!


Seberapa buruk latar belakang masa lalu kita, Tuhan tetap mampu mengubahkan dan lalu memakai kehidupan kita bagi kemuliaan-Nya. Perhatikan bahwa Gideon yang awalnya pengecut diubahkan menjadi pahlawan gagah perkasa. Musa yang sebelumnya terus menolak panggilan Tuhan berubah menjadi pemimpin panutan. Dan lagi, Paulus yang memulai kariernya sebagai penganiaya jemaat berakhir sebagai pemberita Injil yang radikal.


Apa yang terpenting bukan bagaimana kita memulai masa lalu, tetapi bagaimana kita mengakhiri kehidupan ini. Tidak perlu berkecil hati apabila kita memiliki latar belakang kehidupan yang buruk. Jangan pula bermegah pada apa pun keunggulan diri. Inilah yang perlu kita lakukan: "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku."

Read more

Wednesday, January 26, 2022

BERSERAH

 MORNING SPIRIT


"BERSERAH"

Hidup di dalam dunia ini memang tidak pernah berhenti untuk belajar dan bekerja. Belajar agar terus mengalami transformasi hidup dan bekerja agar bisa menikmati hidup. Dalam kesemuanya itu pastilah tidak ada yang bisa dikerjakan dengan sempurna. Oleh sebab itu ada baiknya kebenaran firman Tuhan ini menjadi pegangan kita. 

 


Mazmur 37:5 "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;"


Tentunya kita rindu untuk mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Namun kemanusiaan kita menyadarkan bahwa kita adalah makhluk yang terbatas. Kita diperhadapkan dengan banyaknya tantangan yang menghadang yang tentunya tidak semua bisa diselesaikan dengan baik. Berserah kepada Tuhan adalah solusi terbaik. Berserah bukan berarti menyerah. Berserah berarti kita secara aktif bekerja melakulan bagian kita. Yang tidak mampu kita kerjakan oleh karena keterbatasan kita sebagai manusia, kita serahkan kepada Tuhan untuk menyelesaikannya. 

Jadi jangan semua beban di pikul sendiri, serahkanlah kepada Tuhan yang bijak menyelesaikannya. 


"Tuhan sangat menghargai orang yang sudah berusaha secara maksimal dan membiarkan Tuhan untuk melengkapinya." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Menolak Air Syiloah

 Bacaan: YESAYA 8:1-10


"Oleh karena bangsa ini telah menolak air Syiloah yang mengalir lamban, dan telah tawar hati terhadap Rezin dan anak Remalya." (Yesaya 8:6)



Ahas, raja Yehuda, merasa sangat takut. Raja Aram dan raja Israel telah bersatu untuk memerangi Yerusalem. Dua kerajaan besar lainnya, Mesir dan Asyur juga menjadi ancaman bagi Yehuda. Saat itulah Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan kepadanya, agar ia mengandalkan Tuhan. Namun Ahas memilih untuk mengandalkan dirinya sendiri. Ia mengabaikan firman Tuhan. Ia lebih memilih percaya kepada para berhalanya, bahkan mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api. Ia pun mengikat perjanjian dengan raja Asyur. Ia rela membayar upeti dan tunduk kepada Asyur, asalkan Yehuda diselamatkan dari tangan raja Aram dan Israel (lih. 2Raj 16).


Melalui Yesaya, Tuhan menggambarkan sikap Raja Ahas itu sebagai tindakan menolak air Syiloah yang mengalir lamban. Syiloah (namanya dalam bahasa Ibrani, dalam bahasa Yunani disebut "Siloam") adalah kolam di Yerusalem yang menjadi sumber air suci yang digunakan untuk berbagai upacara di Bait Allah. Sebaliknya, Ahas memilih air sungai Efrat yang kuat dan besar, sebagai gambaran Asyur.


Ahas beranggapan bahwa hikmat dan kuasa manusia lebih hebat dari kuasa Allah. Ia mengira Asyur akan menjadi penyelamatnya. Padahal nantinya, Asyur sendiri menjadi ancaman baginya, serupa sungai besar yang meluap dan menenggelamkan mereka (ay. 7-8). Ahas memilih mengandalkan hikmat manusia, dan ia berakhir dengan kegagalan. Kiranya kita dapat memetik pelajaran dari kesalahannya.

Read more