Wednesday, March 27, 2019

Pekerjaan dan Pelayanan

Ada orang yang membedakan pekerjaan dan pelayanan, seakan-akan pelayanan adalah sesuatu yang mulia sedangkan pekerjaan tidak. Orang-orang ini berpendapat bahwa pelayanan adalah melakukan sesuatu untuk Tuhan sedangkan pekerjaan adalah melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Apakah memang benar bahwa Alkitab membedakan keduanya?

Download Audio
Ada orang yang membedakan pekerjaan dan pelayanan seakan-akan pelayanan adalah sesuatu yang mulia sedangkan pekerjaan tidak. Orang-orang ini berpendapat bahwa pelayanan adalah melakukan sesuatu untuk Tuhan sedangkan pekerjaan adalah melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Apakah memang benar bahwa Alkitab membedakan keduanya? Marilah kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan tentang pelayanan.
  1. Sesungguhnya di dalam Alkitab tidak ada definisi pelayanan itu sendiri; sebaliknya, Firman Tuhan memanggil kita untuk melakukan semuanya untuk Tuhan, "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah Bapa kita. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (Kolose 3:17, 23).
    Berdasarkan ayat-ayat ini, dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya Tuhan tidak memisah-misahkan jenis pekerjaan seolah-olah ada yang lebih mulia dari yang lainnya. Kita dipanggil untuk melakukan segalanya dalam nama dan untuk Tuhan Yesus. Inilah definisi pelayanan yang seluas-luasnya. Jadi, siapa pun yang melakukan tugasnya seperti untuk Tuhan, sesungguhnya ia telah melayani Tuhan, sebab ia melakukannya bagi Tuhan.
  2. Berdasarkan definisi pelayanan dari Kolose ini, dapat pula kita simpulkan bahwa bagi Tuhan terpenting bukanlah apa yang dilakukan melainkan bagaimana dilakukannya. Firman Tuhan dengan jelas memerintahkan kita untuk melakukannya dengan "segenap hatimu" dan dengan sikap bersyukur. Ini adalah bentuk pelayanan kita kepada-Nya. Sebaliknya, apa pun itu yang kita kerjakan-bahkan hal yang terkait dengan pekerjaan gerejawi-bila kita melakukannya tidak dengan segenap hati dan tidak dengan sikap bersyukur, itu bukanlah pelayanan.
  3. Kendati demikian Tuhan memisahkan sebagian orang untuk melayani-Nya secara khusus. Di Perjanjian Lama Tuhan memilih bani Lewi sebagai pelayan-Nya yang secara khusus melakukan tugas imamat sedangkan di Perjanjian Baru kita mengenal para Rasul yang dipanggil untuk pelayanan Firman dan doa (Kisah Para Rasul 6:3-4). Pemisahan ini adalah untuk menolong para Rasul untuk lebih dapat "memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." Jadi, para pelayan khusus ini memang dipanggil untuk meninggalkan pekerjaan lainnya agar dapat memusatkan pikiran dan segala tenaga mereka untuk pekerjaan Tuhan.
  4. Sungguhpun demikian sejarah menunjukkan bahwa Tuhan tidak membatasi diri dan pekerjaan-Nya hanya pada pelayan khusus ini. Di Perjanjian Lama kita mengenal begitu banyak nabi yang dipakai Tuhan, seperti Yesaya, Yeremia, Mikha, Elia, Elisa, dan lainnya. Di Perjanjian Baru kita pun mengenal Paulus, Akwila dan Priskila, yang juga adalah pembuat dan penjual tenda. Kedua belas murid pun sesungguhnya bukanlah bagian dari pelayan dari bani Lewi; mereka adalah orang biasa yang dipanggil untuk meneruskan pekerjaan Tuhan Yesus.
    Dari sini kita pun dapat melihat sebuah pola: Apabila pelayan khusus Tuhan tidak menjalankan fungsinya, maka Tuhan segera memakai kelompok awam untuk melakukan pekerjaan-Nya. Itu sebabnya di dalam Alkitab tertulis jauh lebih banyak nabi daripada imam; dan dari kedua belas murid Tuhan, tidak ada satu pun yang berasal dari kelompok imam. Singkat kata, Tuhan memanggil dan memakai siapa pun yang bersedia dipakai-Nya.
  5. Sebagai kesimpulan, yang menjadikan seseorang pelayan atau bukan pelayan Kristus adalah hatinya, bukan jenis pekerjaannya. Jadi, pertanyaannya adalah, apakah ia memiliki sikap sebagai pelayan ataukah tidak? Kendati pekerjaannya tampak rohani, namun apabila ia tidak memiliki sikap sebagai pelayan, ia bukanlah seorang pelayan Tuhan. Dan, yang menjadikan suatu pekerjaan sebagai pelayanan bukanlah apa yang dikerjakannya, melainkan bagaimanakah dan untuk siapakah ia melakukannya.
    Oleh sebab itu, bersukacitalah dan bersyukur atas apa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita. Jangan merasa ada yang kurang bila kita belum terlibat dalam tindakan-tindakan yang kerap diasosiasikan dengan pelayanan. Ingat, salah satu contoh pelayanan yang pernah diceritakan Tuhan dalam perumpamaan-Nya adalah kisah orang Samaria yang baik hati. Ia bukan imam dan Lewi, bahkan ia pun bukan seorang Israel. Ia hanyalah seorang Samaria yang baik hati dan bersikap melayani. Dalam hal ini, ia telah melayani Tuhan.
Load disqus comments

0 komentar