Thursday, January 19, 2023

BERBESAR HATI

 

MORNING SPIRIT


"BERBESAR HATI"

Terkadang kita melakukan kesalahan dan dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakuinya. Ketika kita melakukan yang benar namun tetap dianggap salah dibutuhkan kebesaran hati untuk menerimanya.

1 Petrus 2:22-23 "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil."

Yesus Tuhan kita, tidak pernah melakukan yang salah karena Ia adalah Allah yang kudus. Namun ada begitu banyak orang yang membenci-Nya karena Ia melakukan kebenaran dan di tuduh berbuat kesalahan bahkan di intimidasi dengan cara - cara yang tidak manusiawi. 

Yesus memberikan teladan hidup tentang "berbesar hati" kepada kita.Ia tidak membenci apalagi  membalas, Ia hanya menyerahkannya kepada BapaNya untuk menghakimi mereka. 

Apa yang harus kita lakukan ketika  dipersalahkan padahal kita tidak berbuat salah?

Kiranya kita tidak cepat marah, benci dan grasak - grusuk, merencanakan pembalasan. Perlu kebesaran hati untuk menerima dan menyerahkannya kepada Bapa yang adalah Hakim yang adil.

Biarkan Tuhan yang membalaskannya walau hati kita merasa sangat tersakiti. Tuhan tahu memberkati orang yang benar dan menghukum orang yang bersalah. 

"Kebesaran hati dibutuhkan untuk pendewasaan iman dan karakter kita."


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Saturday, February 12, 2022

Apakah Anda Mendengarkan Allah?

 

Mereka berkata kepada Musa: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.” — Keluaran 20:19

“Apakah Anda Mendengarkan Allah?”, judul renungan kita hari ini. Chambers mengatakan bahwa apabila kita lebih suka mendengarkan suara hamba Tuhan, lebih suka mendengar kesaksian-kesaksian daripada mendengarkan Tuhan sendiri, hal itu sesungguhnya “menunjukkan betapa kurangnya kasih kita kepada Allah”.



Kita tidak dengan sadar mengingkari Allah, hanya karena kita tidak memperhatikan Dia. Allah telah memberikan perintah-Nya kepada kita, tetapi kita tidak memberikan perhatian, bukan karena ketidakpatuhan yang disengaja, tetapi karena kita tidak benar-benar mengasihi dan menghormati Dia. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15).

Ketika kita menyadari bahwa kita telah terus-menerus menunjukkan rasa tidak hormat kepada Allah, kita akan dipenuhi rasa malu dan terhina karena mengabaikan Dia.

“Engkaulah berbicara dengan kami, ... tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami ....” Kita menunjukkan betapa kurangnya kasih kita kepada Allah dengan lebih suka mendengarkan suara para hamba-Nya daripada mendengarkan Dia sendiri. Kita suka mendengarkan kesaksian-kesaksian pribadi, tetapi kita enggan mendengar Allah sendiri berbicara kepada kita.

Mengapa kita begitu takut bila Allah berbicara kepada kita? Karena kita tahu apabila Allah berbicara, kita harus melakukan hal yang diperintahkan-Nya, atau kita harus mengatakan kepada-Nya bahwa kita tidak mau taat. Namun, jika sekiranya hanya seorang hamba Allah yang berbicara kepada kita, kita merasa bahwa kepatuhan (kepada Tuhan) merupakan pilihan, bukan keharusan. Kita menanggapinya dengan berkata, “Wah, itu hanya gagasanmu sendiri, walaupun aku tidak menyangkal bahwa ucapanmu itu barangkali adalah kebenaran Allah.”

Adakah saya selalu merendahkan Allah dengan tidak mengindahkan-Nya, sedangkan Dia dengan kasih-Nya terus-menerus memperlakukan saya sebagai anak-Nya?

Pada akhirnya, ketika saya mendengar dia, hinaan yang saya timpakan atas diri-Nya berbalik kepada saya. Respons saya kemudian menjadi, “Tuhan, mengapa aku begitu tidak peka dan keras kepala?”

Hal inilah yang selalu terjadi ketika akhirnya kita mendengar Dia. Akan tetapi, kegembiraan sejati ketika akhirnya kita mendengarkan Dia, kegembiraan disertai rasa malu karena perlu waktu begitu lama untuk sadar.

Read more

Wednesday, February 9, 2022

MENDUA HATI

 MORNING SPIRIT


"MENDUA HATI"

Orang yang mendua hati disebutkan sebagai orang yang tidak punya ketetapan hati. Orang yang seperti ini adalah orang yang sulit fokus untuk mencapai sesuatu. 


Yakobus 1:8 "Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya."



Dalam kehidupan iman kristiani sangat dilarang keras sikap yang mendua hati. Alkitab mencatat bahwa tidak boleh ada ada Allah lain dihadapan-Nya seperti hukum pertama dari Dasa Titah:


"jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku. Keluaran 20:3


Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:24 


Hati kita harus lurus dan fokus hanya kepada Allah saja. Jangan andalkan apapun diluar Allah saat ada ujian hidup, saat masalah bertubi-tubi bahkan saat sekalipun berada di ujung tanduk. 

Ketika hati kita mulai mendua maka kita tidak akan bisa tenang. Tuhan tidak akan menjawab permohonan kita. Marilah kita membuang semua tawaran yang membuat hati kita mendua. 


"Allah sangat tahu apakah kita mendua hati atau tidak." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Apakah Anda Lelah Rohani?

 

Allah kekal ... tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu ... — Yesaya 40:28

Semua orang pernah mengalami kelelahan rohani. Dan, menurut Oswald Chambers, “Kelelahan rohani tidak pernah diakibatkan oleh dosa, melainkan oleh pelayanan”. Soalnya, “mengalami atau tidak mengalami kelelahan itu tergantung pada dari mana mendapatkan bekal/suplai kekuatan”. Menarik! Mari, selanjutnya kita ikuti di bawah ini.


Apakah Anda Lelah Rohani?

Kelelahan berarti tenaga utama kita terkuras habis. Kelelahan rohani tidak pernah diakibatkan oleh dosa, tetapi oleh pelayanan. Apakah Anda mengalami atau tidak mengalami kelelahan itu tergantung pada dari mana Anda mendapatkan bekal/suplai kekuatan. Yesus berkata kepada Petrus, “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:17), tetapi Dia tidak memberi apa pun kepada Petrus untuk memberi makan domba-domba itu.

Dalam proses dijadikan menjadi roti yang dipecah-pecah dan anggur yang dituangkan berarti Anda harus menjadi makanan bagi jiwa-jiwa lain sebelum mereka belajar untuk makan dari Allah. Mereka harus menguras Anda habis sampai tetes yang terakhir.

Akan tetapi, usahakanlah untuk mengisi kembali persediaan Anda, atau Anda akan dengan cepat benar-benar mengalami kelelahan/kehabisan tenaga. Sebelum orang lain belajar untuk menyerap kehidupan Tuhan Yesus secara langsung, mereka harus menyerap kehidupan-Nya melalui Anda. Anda harus secara harfiah menjadi sumber persediaan mereka, sampai mereka belajar menyerap makanan mereka dari Allah. Kita berutang kepada Allah untuk berusaha sebaik-baiknya untuk melayani domba-domba Allah seperti kita melayani Allah sendiri.

Sudahkah Anda mengalami kelelahan karena cara Anda melayani Allah? Jika demikian, perbaruilah dan kobarkanlah hasrat dan kasih sayang (afeksi) Anda. Selidikilah alasan Anda untuk melayani. Apakah Anda bersumber pada pengertian Anda sendiri atau berlandaskan penebusan Yesus Kristus?

Lihatlah kembali landasan kasih dan afeksi Anda serta ingatlah letak sumber kuasa Anda. Anda tidak berhak untuk mengeluh, “Ya Tuhan, aku begitu lelah.” Dia menyelamatkan dan menguduskan Anda untuk membuat Anda lelah.

Berlelahlah untuk Allah, tetapi ingatlah bahwa Dialah persediaan Anda. “Segala mata airku ada di dalammu.” (Mazmur 87:7)

Read more

Saturday, February 5, 2022

SALING MEMPERSALAHKAN

 MORNING SPIRIT


"SALING MEMPERSALAHKAN"

Sudah menjadi kebiasaan umum manusia itu sulit menerima kesalahan yang dia perbuat. Sehingga istilah "kambing hitam" seringkali bermunculan. 


Yakobus 5:9 "Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu."



Dalam komunitas anak-anak Tuhan atau para pelayan Tuhan, tak jarang hal bersungut dan saling menyalahkan pun sering terjadi. Setiap menghadapi kesulitan mereka tidak mengoreksi diri, melainkan langsung menyalahkan orang lain dan bersungut-sungut. Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain dari pada melihat keberadaan diri sendiri. Kita merasa paling benar dan orang lain yang selalu salah. Sangat disayangkan padahal mereka dikategorikan sudah bertobat, sudah lama melayani Tuhan tetapi selalu bersembunyi dibalik arogansinya.  

Ingatlah Hakim Agung siap menghukum mereka yang acapkali bersungut dan menyalahkan orang lain. Bertobatlah!!


"Bersungut-sungut dan suka menyalahkan orang lain adalah tanda ketidak dewasaan rohani/kekanak-kanakan." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Belum Waktunya

 Bacaan: HAGAI 1


"Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!" (Hagai 1:2)



Dinamika perkembangan diri remaja sangat unik, kadang mereka merasa diri mereka sudah dewasa dan tidak ingin dikekang. Tatkala saya menasihati mereka saya selalu berkata, "Dik, belum waktunya untuk melakukan ini dan itu"-ada beberapa dari mereka yang mengerti bahwa mereka perlu mengekang hasrat dan keinginan diri sendiri untuk bertindak bebas. Namun adakalanya saat diminta tanggung jawab apalagi untuk persoalan rohani yang berguna bagi hidup mereka, mereka juga bisa pandai beralasan, "Belum waktunya kami, itu tugas orang lain."


Setelah pulang dari pembuangan, bangsa Israel diingatkan kembali untuk membangun kembali rumah Tuhan (ay. 8). Ironisnya, bangsa Israel tidak mengindahkan perintah itu, malahan mereka masih sibuk untuk membangun rumahnya masing-masing (ay. 9) dan berkata bahwa belum saatnya membangun rumah Tuhan (ay. 2). Frasa "perhatikanlah keadaanmu!" (ay. 5, 7) menjadi teguran keras agar mereka peka untuk lebih memprioritaskan hubungan pribadi dengan Tuhan ketimbang persoalan mereka yang lain. Itulah yang membuat berkat Tuhan tidak tercurah bagi hidup mereka (ay. 9-10).


Tuhanlah yang tetap menjadi prioritas utama daripada urusan-urusan pribadi yang lain. Bangsa Israel jatuh karena lebih memikirkan kemapanan diri sendiri, kita pun juga akan seperti mereka jika tidak peka dengan perintah Tuhan. Dalam kehidupan pribadi, hubungan dengan Tuhan itu penting. Siapakah kita selama ini? Hendaknya orang mengenal kita lebih cinta Tuhan daripada cinta kemapanan diri sendiri.

Read more

Tuesday, February 1, 2022

Providensia Dei

 Bacaan: 1 RAJA-RAJA 17:7-16


"... dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu." (1 Raja-raja 17:13)



Puji Tuhan, dalam usianya yang ke-83, ibu saya masih sehat. Dalam suatu percakapan telepon kami, beliau bercerita betapa bahagia dirinya manakala masih sanggup berkeliling bersama dua sahabatnya untuk melakukan kunjungan kepada anggota jemaat usia lanjut atau mereka yang membutuhkan perhatian-sebagaimana yang selalu dilakukannya sejak muda dalam perannya sebagai diaken atau penatua gereja.


Providensia Dei-sebutan latin untuk penyediaan atau pemeliharaan Allah. Ada satu kebenaran yang senantiasa berlaku di dalamnya-yaitu pemeliharaan Allah pasti berjalan seiring dengan prioritas yang dikehendaki-Nya (bdk. Mat 6:33). Penerapan praktisnya ialah memberi itu selalu mendahului menerima. Pelajaran itulah yang diperoleh seorang janda di Sarfat. Tatkala ia mendahulukan yang Allah kehendaki-memberi yang dibutuhkan nabi-Nya-dirinya menerima aliran berkat, tepung dan minyaknya tersedia berkecukupan (ay. 16). Sebab rahasianya adalah di dalam memberi, kita pun menerima.


Di mata saya, ibu adalah sosok beriman yang mengalami pemeliharaan Allah secara luar biasa dalam hidupnya. Kesediaannya untuk melayani pekerjaan Tuhan dengan setia sejak masa mudanya, tanpa disadarinya, telah ikut menghadirkan berkat yang mencukupkan dirinya sendiri hingga usia lanjut. Namun bukan hanya beliau. Tanyakan pada siapa saja yang berani mendahulukan tindakan memberi daripada menuntut untuk diberi, mereka pasti menjadi saksi hidup pemeliharaan Allah.

Read more

Monday, January 31, 2022

KONSEKUENSI

 MORNING SPIRIT


"KONSEKUENSI"

Konsekuensi merujuk pada semua akibat atau hasil dari suatu perbuatan. Baik akibat atau hasil tersebut bersifat positif maupun negatif. Bagaimana dengan kehidupan kerohanian kita? 



Galatia 6: 8 "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."


Ada dua perbuatan yang sangat bertolak belakang. Perbuatan baik yang di kuasai oleh Roh dan perbuatan jahat yang dikuasai oleh kedagingan/Iblis. Setiap orang tentunya pernah melakukan yang yang baik dan yang jahat. Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa setiap perbuatan selalu ada konsekuensinya. Hidup ini sangat singkat untuk di jalani. Usia yang panjang belum jadi jaminan bahwa kita sudah menabur yang baik. Kita harus sungguh -sungguh menghindari untuk menabur yang jahat/kedagingan agar tidak menuai kebinasaan.


Hiduplah dengan perbuatan yang baik, berbicaralah dengan kata-kata yang memberkati, jangan suka menyakiti sesama karena konsekwensinya adalah kebinasaan. Saudaraku, sebelum bertindak berpikirlah bahwa selalu ada konsekwensi dari semua perbuatan yang kita lakukan, yang baik maupun yang jahat. 


"Setiap perbuatan selalu membutuhkan pertanggung jawaban." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Bersyukur Bisa Tidur

 Bacaan: MAZMUR 3

Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang Aku! (Mazmur 3:6)



Kata banyak orang, aktivitas tidur adalah hal yang menyenangkan apalagi setelah melakukan banyak kegiatan yang sifatnya menguras tenaga kita. Namun, ada beberapa orang yang dapat mengalami insomnia karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Ketika ada masalah, orang memang sulit untuk tidur sehingga tidak heran banyak orang hidupnya menjadi tidak maksimal karena mengabaikan tidur yang merupakan upaya hidup sehat.


Daud saat ini diserang oleh Absalom, anaknya sendiri (ay. 1) dan ia menganggap ini permasalahan yang sangat berat untuk dihadapinya (ay. 2-3, 7-8) sehingga harapan Daud tertuju hanya kepada Allah saja yang sanggup memberikan pertolongan. Walaupun menghadapi kondisi yang tertekan karena banyaknya musuh menyerang, Daud tetap bisa tidur dan percaya bahwa Tuhanlah yang akan menopang kehidupannya (ay. 6). Inilah iman Daud ketika dia menyadari masih ada Tuhan dalam hidupnya. Ketakutan Daud tidak seberapa dibanding dengan imannya akan kekuasaan Tuhan yang jauh lebih besar dari musuh-musuhnya.


Masalah boleh datang melanda kehidupan orang percaya, namun tetap ingatlah bahwa masih ada Tuhan yang sanggup menolong kita, mengapa kita harus membuat diri kita sakit karena kita terlalu memikirkannya dan kita tidak mengambil waktu tidur? Sia-sia untuk berbuat demikian karena sesungguhnya dengan tidur kita dapat merasa tenteram dan tenang dalam Allah meski banyak mengalami badai kehidupan.

Read more

Friday, January 28, 2022

Falsafah Petani

 Bacaan: HABAKUK 3



Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersora (Habakuk 3:17-18)



Berbagi kepada tetangga adalah ciri khas petani tradisional di daerah asal saya setiap kali mereka panen sesuatu (sayur, buah, cabai, dll.). Supaya tetangga mencicipi katanya. Sekalipun hasil panen mereka kurang baik (tidak balik modal) mereka tetap berbagi. Mereka juga tak pernah berhenti berjuang. Sekalipun gagal panen, mereka selalu bersemangat memulai masa tanam baru. Mereka selalu berpengharapan, bahkan ketika modal harus didapatkan dengan menjual sebagian aset sekalipun.


Falsafah serupa dihidupi oleh Nabi Habakuk. Meskipun pada masa itu keadilan muncul terbalik, Israel yang disebut-sebut sebagai bangsa pilihan harus mengalami pembuangan di Babel, ditindas oleh orang Kasdim, namun melalui doanya Habakuk menyatakan tekadnya untuk senantiasa bersukacita di dalam Tuhan. Ia tetap percaya bahwa Allah akan tetap menjadi Juru Selamat dan sumber kekuatan yang tak ada putusnya. Habakuk percaya pada pengharapan akan datangnya pemulihan bagi orang yang hidup oleh iman kepada Allah.


Iman sejati tidak akan pernah kehilangan asa. Kesulitan hidup bukan alasan kita kehilangan sukacita. Saat kita ragu akan keadilan dan kasih Allah, kita dapat bersikap seperti Habakuk yang mengingat kembali tindakan Allah pada masa lalu, akan penyertaan dan pertolongan-Nya yang diberikan tepat pada waktu-Nya. Habakuk merasakan kehadiran Allah mengubah sejarah, bahkan membuatnya menyadari bahwa ia harus bergantung bukan pada kondisi atau tanda-tanda yang tampak melainkan hanya kepada Allah yang mengatur menurut kuasa kedaulatan-Nya.

Read more

Thursday, January 27, 2022

Tidak Perlu CV

 Bacaan: FILIPI 3:2-16


... dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah. (Filipi 3:3)



Sewaktu melamar pekerjaan, seseorang pasti menyerahkan Curriculum Vitae (CV) ke perusahaan. CV tersebut berisi biodata diri, latar belakang pendidikan, dan pengalaman pekerjaan. Bukan rahasia lagi apabila perusahaan cenderung mempertimbangkan pelamar dengan latar pendidikan yang baik dan pengalaman kerja yang mumpuni.


Beruntung, untuk bekerja di ladang Tuhan, kita tidak perlu menyerahkan CV! Faktanya, Tuhan tidak ambil pusing terhadap setiap kelemahan kita ataupun tertarik pada semua keunggulan kita! Hal-hal lahiriah yang melekat dalam diri kita bukanlah tolok ukur yang dipakai Allah (ay. 3). Menariknya, dibandingkan pengenalan akan Kristus, Paulus bahkan mengibaratkan hal-hal lahiriah miliknya yang luar biasa di mata bangsanya, hanya sebagai sampah (ay. 8)!


Seberapa buruk latar belakang masa lalu kita, Tuhan tetap mampu mengubahkan dan lalu memakai kehidupan kita bagi kemuliaan-Nya. Perhatikan bahwa Gideon yang awalnya pengecut diubahkan menjadi pahlawan gagah perkasa. Musa yang sebelumnya terus menolak panggilan Tuhan berubah menjadi pemimpin panutan. Dan lagi, Paulus yang memulai kariernya sebagai penganiaya jemaat berakhir sebagai pemberita Injil yang radikal.


Apa yang terpenting bukan bagaimana kita memulai masa lalu, tetapi bagaimana kita mengakhiri kehidupan ini. Tidak perlu berkecil hati apabila kita memiliki latar belakang kehidupan yang buruk. Jangan pula bermegah pada apa pun keunggulan diri. Inilah yang perlu kita lakukan: "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku."

Read more

Wednesday, January 26, 2022

BERSERAH

 MORNING SPIRIT


"BERSERAH"

Hidup di dalam dunia ini memang tidak pernah berhenti untuk belajar dan bekerja. Belajar agar terus mengalami transformasi hidup dan bekerja agar bisa menikmati hidup. Dalam kesemuanya itu pastilah tidak ada yang bisa dikerjakan dengan sempurna. Oleh sebab itu ada baiknya kebenaran firman Tuhan ini menjadi pegangan kita. 

 


Mazmur 37:5 "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;"


Tentunya kita rindu untuk mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Namun kemanusiaan kita menyadarkan bahwa kita adalah makhluk yang terbatas. Kita diperhadapkan dengan banyaknya tantangan yang menghadang yang tentunya tidak semua bisa diselesaikan dengan baik. Berserah kepada Tuhan adalah solusi terbaik. Berserah bukan berarti menyerah. Berserah berarti kita secara aktif bekerja melakulan bagian kita. Yang tidak mampu kita kerjakan oleh karena keterbatasan kita sebagai manusia, kita serahkan kepada Tuhan untuk menyelesaikannya. 

Jadi jangan semua beban di pikul sendiri, serahkanlah kepada Tuhan yang bijak menyelesaikannya. 


"Tuhan sangat menghargai orang yang sudah berusaha secara maksimal dan membiarkan Tuhan untuk melengkapinya." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Menolak Air Syiloah

 Bacaan: YESAYA 8:1-10


"Oleh karena bangsa ini telah menolak air Syiloah yang mengalir lamban, dan telah tawar hati terhadap Rezin dan anak Remalya." (Yesaya 8:6)



Ahas, raja Yehuda, merasa sangat takut. Raja Aram dan raja Israel telah bersatu untuk memerangi Yerusalem. Dua kerajaan besar lainnya, Mesir dan Asyur juga menjadi ancaman bagi Yehuda. Saat itulah Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan kepadanya, agar ia mengandalkan Tuhan. Namun Ahas memilih untuk mengandalkan dirinya sendiri. Ia mengabaikan firman Tuhan. Ia lebih memilih percaya kepada para berhalanya, bahkan mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api. Ia pun mengikat perjanjian dengan raja Asyur. Ia rela membayar upeti dan tunduk kepada Asyur, asalkan Yehuda diselamatkan dari tangan raja Aram dan Israel (lih. 2Raj 16).


Melalui Yesaya, Tuhan menggambarkan sikap Raja Ahas itu sebagai tindakan menolak air Syiloah yang mengalir lamban. Syiloah (namanya dalam bahasa Ibrani, dalam bahasa Yunani disebut "Siloam") adalah kolam di Yerusalem yang menjadi sumber air suci yang digunakan untuk berbagai upacara di Bait Allah. Sebaliknya, Ahas memilih air sungai Efrat yang kuat dan besar, sebagai gambaran Asyur.


Ahas beranggapan bahwa hikmat dan kuasa manusia lebih hebat dari kuasa Allah. Ia mengira Asyur akan menjadi penyelamatnya. Padahal nantinya, Asyur sendiri menjadi ancaman baginya, serupa sungai besar yang meluap dan menenggelamkan mereka (ay. 7-8). Ahas memilih mengandalkan hikmat manusia, dan ia berakhir dengan kegagalan. Kiranya kita dapat memetik pelajaran dari kesalahannya.

Read more

Tuesday, January 25, 2022

KARENA ENGKAU YANG MENGATAKANNYA

 MORNING SPIRIT


"KARENA ENGKAU YANG MENGATAKANNYA"

Seseorang yang sangat mahir dibidangnya akan sangat sulit untuk menerima masukan dari orang lain. 



Lukas 5:5 "Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."


Simon berada dalam perasaan yang kacau balau. Ia sangat lelah, kecewa bahkan putus asa karena sudah sepanjang malam menjala ikan di tengah laut tapi tak seekorpun yang ia dapatkan. Dalam kondisi seperti ini, Tuhan tahu apa yang ia rasakan dan Tuhan memberikan perintah yang mungkin di luar nalarnya sebagai nelayan sudah sangat berpengalaman. Dalam kondisi hati yang dongkol, ia memberi penjelasan dan akhirnya mengatakan "karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."


Biasanya orang yang dalam keadaan kesal dan putus asa akan sulit untuk menerima firman Tuhan. Tapi ia justru mencoba untuk melakukan yang diperintahkan Gurunya. Saudaraku, ketaatan tidak akan pernah sia-sia. Secara akal bisa saja tidak mungkin tetapi bagi Tuhan Yesus adakah yang mustahil? Buktinya mereka berhasil dan menangkap ikan dengan jumlah yang besar sampai jala mulai koyak dan perahu hampir tenggelam. Mari belajar dari firman Tuhan ini. Jika Tuhan memerintahkannya bahkan di luar pemikiran kita, tetaplah taat melakukannya. Jangan pernah meragukan perintah Tuhan.


"Mujizat terjadi pada saat kita taat melakukan perintah TUHAN." GB


Pdt. Palty Napitupulu

Read more

Ah, Sempat-sempatnya!

 

Bacaan: LUKAS 18:9-14

Ah, Sempat-sempatnya!



"Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini." (Lukas 18:11)

Bunda Teresa pernah berkata, "Sehari yang kita lalui tanpa berbuat baik kepada sesama adalah hari yang tak layak untuk dihidupi." Ya, berbuat baik adalah salah satu kebajikan dan keluhuran yang utama dalam hidup manusia. Semua agama mengajarkannya. Semua pendidik menganjurkannya. Orang tua yang sehat menasihatkan kepada anak-anaknya. Bahkan hati nurani kebanyakan orang membisikkan pesannya.

Sebenarnya kaum Farisi adalah orang-orang yang tahu berbuat baik. Sangat tahu. Bahkan mereka melakukan kewajiban-kewajiban agama dengan rajin. Masalahnya, mereka melakukan kebaikan itu sambil menikmati kenyataan bahwa orang lain tidak melakukannya, atau, setidaknya, tidak melakukannya sebaik (menurut anggapan) mereka. Itulah yang di mata Tuhan Yesus merupakan kekeliruan besar!-sebagaimana tecermin dalam perumpamaan yang diceritakan-Nya. Lihatlah, sementara menghadap Tuhan pun si Farisi ini masih sempat menengok ke arah seorang pemungut cukai, lalu menonjolkan kebaikannya dibanding orang itu (ay. 11). Ah, sempat-sempatnya!

Seorang teman pernah berkelakar begini, "Orang pasti senang mendengar Anda berbuat baik, sepanjang itu tak melebihi dirinya." Dunia ini memang aneh. Berbuat baik pun dijadikan ajang pembuktian siapa yang lebih baik. Malahan ada yang berbuat baik dengan diiringi nafsu untuk membuat orang lain tampak jelek. Padahal Tuhan tak pernah memaksudkannya begitu. Berbuat baik yang sejati tak memerlukan pembenaran dari keburukan orang lain. Berbuat baik, titik. Tuhan melihatnya. Sesama merasakannya.

Read more

Monday, January 24, 2022

Gelisah karena Berkat

 


Bacaan: KEJADIAN 12:10-20


Gelisah karena Berkat

"Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup." (Kejadian 12:12)


Pada suatu kebaktian di gereja, Bapak Pendeta menunjukkan gambar seorang pria dengan tumpukan uang memenuhi kamarnya. Seorang teman lalu mengatakan, "Betapa bahagianya pria itu!" Tidak disangka, teman lain memberi pendapat yang sungguh berbeda. Ia berkata, "Pria itu mungkin susah tidur karena memikirkan uangnya!"


Mendapat berkat, siapa tidak mau? Faktanya, keberadaan berkat khususnya yang bersifat fisik atau materi, sering kali justru menggelisahkan hati dan pikiran manusia! Mari perhatikan kisah Abram! Abram mempunyai seorang istri cantik bernama Sarai. Amsal 18:22 menyebutkan istri sebagai "sesuatu yang baik", dalam arti adalah berkat. Menariknya, tercatat hati Abram pernah digelisahkan oleh "berkat" itu. Ketika timbul kelaparan dan mereka mengungsi ke Mesir, keberadaan istrinya yang cantik membuat Abram ketakutan dan terancam kematian. Itulah mengapa, Abram meminta Sarai supaya mengaku sebagai saudaranya (ay. 11-13). Apabila Sarai mengatakan dirinya saudara Abram, bukan tidak mungkin dirinya diambil orang lain sebagai istri, termasuk Firaun. Hal ini tentu bertentangan dengan rencana Tuhan yang hendak menjadikan Abram sebagai bangsa yang besar melalui Sarai. Beruntung, Tuhan turun tangan menyelamatkan rumah tangga Abram (ay. 17).


Kehidupan beberapa orang dapat berubah tidak tenang seketika dilimpahi oleh berkat. Hal tersebut terjadi karena mereka kini lebih terfokus kepada berkat, bukan Sang Pemberi Berkat. Tidak perlu gelisah apabila kita diberkati berlimpah-limpah. Sebaliknya, bersyukurlah kepada Tuhan dan yakinlah bahwa berkat disediakan untuk kebahagiaan, bukannya kemalangan!

Read more

Saturday, January 22, 2022

Kedodoran


Bacaan: 1 SAMUEL 17:12-39

Kedodoran

Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menangga (1 Samuel 17:39)


Karena ingin berlagak seperti ayahnya, anak kecil itu memasukkan kedua kakinya ke dalam sepatu si ayah. Kemudian ia melangkah sambil tersenyum lebar, namun tak lama kemudian senyuman itu berubah menjadi isak tangis. Mengapa? Ia terjatuh, karena sepatu itu sama sekali bukan ukurannya. Tidak cocok untuk kakinya. Terlampau besar. Alih-alih bisa berjalan dengan mantap, ia justru tersandung sendiri.


Pernahkah kita membayangkan andaikata Daud maju menghadapi Goliat dengan mengenakan baju perang kepunyaan Raja Saul? Andaikan Daud berpikir, "Kapan lagi raja mengijinkan aku memakainya?" Atau ia berpikir, "Setidaknya ini bukan baju perang biasa, ini lebih komplit, ini baju perang raja!" Maka, sesudah itu dipakainya untuk bertempur melawan Goliat. Saya membayangkan, Daud yang terjerembab akibat baju tempur yang kedodoran. Baju perang itu bukannya melindungi dirinya, melainkan menghalangi keleluasaannya untuk bergerak dan membahayakannya. Syukurlah kita membaca, "Kemudian ia menanggalkannya." (ay. 39)


Salah satu tekanan yang sering membuat kita tidak tahan adalah tekanan sosial. Berupa tuntutan agar kita tampil sesuai harapan masyarakat. Memenuhi ekspektasi yang dipatok oleh sekeliling kita. Akibatnya kita berusaha menyesuaikan diri dengan citra tertentu yang bukan diri kita, demi mendapat pengakuan. Padahal penampilan terbaik adalah ketika kita menjadi diri sendiri. Bukan meniru. Bukan bersembunyi di balik topeng penampilan orang lain. Tampil bukan sebagai diri sendiri justru mengerdilkan potensi yang Tuhan karuniakan kepada kita. Maka, hadapilah kehidupan ini dengan tetap menjadi diri sendiri!

Read more

Wednesday, October 9, 2019

Ketika Anak Terkena Skizofrenia 2

Memiliki anak yang berbeda dari anak-anak lainnya, bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika anak terkena skizofrenia, itu menjadi guncangan berat bagi para orang tua. Oleh karena itu di sini kita akan mengenal lebih jauh mengenai skizofrenia dan bagaimana untuk bisa menolong anak yang terkena skizofrenia.

Download Audio
Salah satu berita terburuk yang kadang mesti didengar oleh orang tua adalah bahwa anak yang dikasihinya terkena gangguan skizofrenia. Berikut akan dipaparkan beberapa hal tentang gangguan ini serta beberapa masukan untuk menghadapinya.
Apakah Skizofrenia?
Mungkin masih jelas di benak kita tentang film "The Beautiful Mind" yang dibintangi oleh Russel Crowe tentang kisah nyata seseorang bernama John Nash. Nash adalah seorang matematikawan yang jenius. Di usia yang sangat muda ia telah memperoleh gelar doktor dan mengajar di MIT(Massachusetts Institute of Technology), perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat. Namun karier yang begitu gemilang akhirnya terganggu dan runtuh oleh gangguan skizofrenia yang dideritanya.
Pada dasarnya istilah skizofrenia berarti keterpecahan atau keterbelahan pikiran. Disebut demikian sebab si penderita hidup dalam dua alam yaitu alam fantasi dan alam realitas yang nyata. Masalahnya adalah si penderita tidak selalu dapat membedakan kedua alam ini. Baginya alam fantasi merupakan alam nyata, senyata alam realitas yang kita semua hidupi. Pada akhirnya ia terpenjara di dalam dunianya sendiri.
Di dalam film itu—dan juga dalam kehidupannya—John Nash meyakini bahwa ia berada dalam sebuah kondisi yang mengancam jiwanya sebab ada begitu banyak orang yang memata-matainya. Akhirnya ia senantiasa hidup dalam ketakutan dan ini membuatnya selalu berjaga-jaga dan curiga. Di dalam kasus ini John Nash menderita gangguan skizofrenia jenis paranoia karena alam fantasinya bertemakan ancaman dan bahaya.
Gejala Gangguan
  1. Adakalanya penderita skizofrenia tidak menampakkan gejala kelainan yang mencolok pada masa pertumbuhannya. Namun pada umumnya pada masa pertumbuhannya penderita skizofrenia cenderung memerlihatkan gejala kelainan yang spesifik yakni kekurangterlibatan (uninvolved). Berikut akan dipaparkan beberapa perilaku yang kerap dikaitkan dengan kekurangterlibatan antara lain : tidak bersedia memberikan dirinya, takut direpotkan, tidak suka keramaian
  2. Tidak dapat menguasai emosi—marah, mengamuk, hiperaktif, hipersensitif terhadap lingkungan.
  3. Hipokondriak: mengeluhkan sakit penyakit kendati sebenarnya ia tidak menderita penyakit apa pun.
  4. Obsesif-Kompulsif: terpaku pada suatu pemikiran tertentu dan untuk menghilangkannya ia harus melakukan suatu perbuatan tertentu sehingga ia terjebak ke dalam siklus ritual yang tidak ada akhirnya.
  5. Delusi—pemikiran atau anggapan yang tidak berlandaskan realitas. Pada umumnya tema utama delusi ini adalah persecutory (dianiaya atau dicelakakan) dan grandiose (pandangan atau konsep diri yang berlebihan secara tidak realistik).
  6. Penuh kekacauan dan ketakutan—pikirannya begitu campur aduk dan kacau serta berjalan dengan kecepatan tinggi membuatnya sungguh tersiksa. Apalagi bila ditambah dengan rasa takut yang irasional, semua ini dengan cepat menciptakan sebuah kondisi yang sangat menyiksa.
  7. Penampakan wajah yang datar, hampa emosi (blunted affect)—seakan-akan ia adalah secarik kertas kosong.
  8. Ekspresi perasaan yang tidak tepat atau hilangnya ekspresi perasaan sama sekali.
  9. Bicaranya sukar dicerna atau malah lenyap sama sekali
  10. Terus berkutat pada pemikiran yang aneh, misalkan beranggapan bahwa seseorang tengah menyadap pikirannya atau bahwa ia adalah Juruselamat dunia.
  11. Terlepas dari realitas: melihat perubahan pada penampakan, suara, atau bau tertentu.
Data Tentang Skizofrenia
  • Pada tahun 1960, separuh dari penderita skizofrenia mencoba mengakhiri hidupnya, namun hanya 10% yang berhasil. Penyebabnya: merasa terperangkap dan tidak berdaya melepaskan diri.
  • Kebanyakan penderita yang berhasil mengakhiri hidupnya adalah laki-laki yang telah mengalami siklus sembuh-kambuh berkali-kali.
  • Sepertiga skizofrenik tidak mempan diobati.
  • Sebagian skizofrenik mengalami kemajuan setelah mencapai usia 40.
  • Permulaan penyakit muncul pada laki-laki antara usia 17-30 dan pada perempuan, antara 20-40.
Riwayat Perawatan
  • Untuk waktu yang lama, skizofrenia dianggap sebagai gangguan yang bersifat psikososial atau psikodinamik, sebagaimana dirumuskan oleh Sigmund Freud. Maksudnya, penyebab gangguan ini dianggap berasal dari masalah yang timbul pada pengasuhan anak oleh orang tuanya.
  • Pada awal abad 20, gangguan ini pertama didiagnosis sebagai gangguan fisik yang bersumber di otak oleh Emil Kraepelin, seorang psikiater di Munich University Hospital
  • Jasa Kraepelin yang besar lainnya adalah keberhasilannya membedakan dua jenis gangguan psikotik: manic-depressive nama lain dari bipolar disorder (yang dapat disembuhkan) dan skizofrenia (yang tidak dapat disembuhkan)
Sedikit Tentang Manic Depressive
  • Perubahan suasana hati yang ektrem: manik-depresif
  • Perbedaan dengan skizofrenia tidak selalu jelas
  • Kadang keduanya bersinggungan
  • Pada masa kecil ditandai dengan ledakan emosi kemarahan yang sangat besar
  • Obat pilihan: lithium (sejenis garam)
Mengapa Skizofrenia Sulit Sembuh?
  • Salah satu penyebabnya adalah dalam delusinya, ia melihat dokter atau konselor sebagai musuhnya, bukan penyakitnya itu sendiri !
  • Tidak cocok dengan obat
  • Kesulitan membedakannya dengan bipolar disorder
  • Penyebab: Kadar berlebihan dari dopamine—neurotransmitter di otak
  • Pengobatan: Menghentikan dan mengatur arus dopamine
  • Obat yang digunakan: Thorazine (chlorpomazine) dan Haldol, Risperdal (risperidone), Prolixin, Lithium, Olanzapine
Efek Sampingan Obat
  • ketegangan pada otot
  • insomnia, resah, pusing, haus
  • mengantuk, detak jantung yang cepat,
  • tekanan darah rendah, gangguan pada ginjal
  • serangan jantung (efek lithium)
Penanganan
  • Kita mesti membawa si penderita ke seorang dokter jiwa atau psikiater yang dapat memberinya obat. Tanpa bantuan obat si penderita cenderung terus berhalusinasi dan kadang memperlihatkan perilaku yang mengancam.
  • Setelah "sembuh" barulah kita dapat mengajaknya bertemu dengan seorang psikolog atau konselor untuk membantunya mengatasi stres yang dialaminya. Pada umumnya ia tidak memiliki kemampuan menanggung stres sehingga rentan kambuh sewaktu merasa tertekan.
  • Jika perilakunya tidak terkendali, alternatif terbaik adalah menempatkannya di rumah perawatan supaya ia dapat menerima pengobatan dan kita pun terlindungi darinya.
  • Pada akhirnya si penderita membutuhkan perawatan terus menerus sebab begitu obat berhenti, mulai kambuhlah ia kembali.
  • Jika kita merawatnya di rumah, kita memerlukan tenaga tambahan sebab tidak mudah hidup dengannya.
Mazmur 68:6-7 berkata, "Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di tempat kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara . . . ." Seperti anak yatim dan seorang janda, penderita skizofrenia hidup sendirian, sebatang kara. Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan tidak melupakannya. Allah adalah pelindung baginya dan Ia memberi tempat kepadanya pula.
Read more

Ketika Anak Terkena Skizofrenia 1

Memiliki anak yang berbeda dari anak-anak lainnya, bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika anak terkena skizofrenia, itu menjadi guncangan berat bagi para orang tua. Oleh karena itu di sini kita akan mengenal lebih jauh mengenai skizofrenia dan bagaimana untuk bisa menolong anak yang terkena skizofrenia.

Download Audio
Salah satu berita terburuk yang kadang mesti didengar oleh orang tua adalah bahwa anak yang dikasihinya terkena gangguan skizofrenia. Berikut akan dipaparkan beberapa hal tentang gangguan ini serta beberapa masukan untuk menghadapinya.
Apakah Skizofrenia?
Mungkin masih jelas di benak kita tentang film "The Beautiful Mind" yang dibintangi oleh Russel Crowe tentang kisah nyata seseorang bernama John Nash. Nash adalah seorang matematikawan yang jenius. Di usia yang sangat muda ia telah memperoleh gelar doktor dan mengajar di MIT(Massachusetts Institute of Technology), perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat. Namun karier yang begitu gemilang akhirnya terganggu dan runtuh oleh gangguan skizofrenia yang dideritanya.
Pada dasarnya istilah skizofrenia berarti keterpecahan atau keterbelahan pikiran. Disebut demikian sebab si penderita hidup dalam dua alam yaitu alam fantasi dan alam realitas yang nyata. Masalahnya adalah si penderita tidak selalu dapat membedakan kedua alam ini. Baginya alam fantasi merupakan alam nyata, senyata alam realitas yang kita semua hidupi. Pada akhirnya ia terpenjara di dalam dunianya sendiri.
Di dalam film itu—dan juga dalam kehidupannya—John Nash meyakini bahwa ia berada dalam sebuah kondisi yang mengancam jiwanya sebab ada begitu banyak orang yang memata-matainya. Akhirnya ia senantiasa hidup dalam ketakutan dan ini membuatnya selalu berjaga-jaga dan curiga. Di dalam kasus ini John Nash menderita gangguan skizofrenia jenis paranoia karena alam fantasinya bertemakan ancaman dan bahaya.
Gejala Gangguan
  1. Adakalanya penderita skizofrenia tidak menampakkan gejala kelainan yang mencolok pada masa pertumbuhannya. Namun pada umumnya pada masa pertumbuhannya penderita skizofrenia cenderung memerlihatkan gejala kelainan yang spesifik yakni kekurangterlibatan (uninvolved). Berikut akan dipaparkan beberapa perilaku yang kerap dikaitkan dengan kekurangterlibatan antara lain : tidak bersedia memberikan dirinya, takut direpotkan, tidak suka keramaian
  2. Tidak dapat menguasai emosi—marah, mengamuk, hiperaktif, hipersensitif terhadap lingkungan.
  3. Hipokondriak: mengeluhkan sakit penyakit kendati sebenarnya ia tidak menderita penyakit apa pun.
  4. Obsesif-Kompulsif: terpaku pada suatu pemikiran tertentu dan untuk menghilangkannya ia harus melakukan suatu perbuatan tertentu sehingga ia terjebak ke dalam siklus ritual yang tidak ada akhirnya.
  5. Delusi—pemikiran atau anggapan yang tidak berlandaskan realitas. Pada umumnya tema utama delusi ini adalah persecutory (dianiaya atau dicelakakan) dan grandiose (pandangan atau konsep diri yang berlebihan secara tidak realistik).
  6. Penuh kekacauan dan ketakutan—pikirannya begitu campur aduk dan kacau serta berjalan dengan kecepatan tinggi membuatnya sungguh tersiksa. Apalagi bila ditambah dengan rasa takut yang irasional, semua ini dengan cepat menciptakan sebuah kondisi yang sangat menyiksa.
  7. Penampakan wajah yang datar, hampa emosi (blunted affect)—seakan-akan ia adalah secarik kertas kosong.
  8. Ekspresi perasaan yang tidak tepat atau hilangnya ekspresi perasaan sama sekali.
  9. Bicaranya sukar dicerna atau malah lenyap sama sekali
  10. Terus berkutat pada pemikiran yang aneh, misalkan beranggapan bahwa seseorang tengah menyadap pikirannya atau bahwa ia adalah Juruselamat dunia.
  11. Terlepas dari realitas: melihat perubahan pada penampakan, suara, atau bau tertentu.
Data Tentang Skizofrenia
  • Pada tahun 1960, separuh dari penderita skizofrenia mencoba mengakhiri hidupnya, namun hanya 10% yang berhasil. Penyebabnya: merasa terperangkap dan tidak berdaya melepaskan diri.
  • Kebanyakan penderita yang berhasil mengakhiri hidupnya adalah laki-laki yang telah mengalami siklus sembuh-kambuh berkali-kali.
  • Sepertiga skizofrenik tidak mempan diobati.
  • Sebagian skizofrenik mengalami kemajuan setelah mencapai usia 40.
  • Permulaan penyakit muncul pada laki-laki antara usia 17-30 dan pada perempuan, antara 20-40.
Riwayat Perawatan
  • Untuk waktu yang lama, skizofrenia dianggap sebagai gangguan yang bersifat psikososial atau psikodinamik, sebagaimana dirumuskan oleh Sigmund Freud. Maksudnya, penyebab gangguan ini dianggap berasal dari masalah yang timbul pada pengasuhan anak oleh orang tuanya.
  • Pada awal abad 20, gangguan ini pertama didiagnosis sebagai gangguan fisik yang bersumber di otak oleh Emil Kraepelin, seorang psikiater di Munich University Hospital
  • Jasa Kraepelin yang besar lainnya adalah keberhasilannya membedakan dua jenis gangguan psikotik: manic-depressive nama lain dari bipolar disorder (yang dapat disembuhkan) dan skizofrenia (yang tidak dapat disembuhkan)
Sedikit Tentang Manic Depressive
  • Perubahan suasana hati yang ektrem: manik-depresif
  • Perbedaan dengan skizofrenia tidak selalu jelas
  • Kadang keduanya bersinggungan
  • Pada masa kecil ditandai dengan ledakan emosi kemarahan yang sangat besar
  • Obat pilihan: lithium (sejenis garam)
Mengapa Skizofrenia Sulit Sembuh?
  • Salah satu penyebabnya adalah dalam delusinya, ia melihat dokter atau konselor sebagai musuhnya, bukan penyakitnya itu sendiri !
  • Tidak cocok dengan obat
  • Kesulitan membedakannya dengan bipolar disorder
  • Penyebab: Kadar berlebihan dari dopamine—neurotransmitter di otak
  • Pengobatan: Menghentikan dan mengatur arus dopamine
  • Obat yang digunakan: Thorazine (chlorpomazine) dan Haldol, Risperdal (risperidone), Prolixin, Lithium, Olanzapine
Efek Sampingan Obat
  • ketegangan pada otot
  • insomnia, resah, pusing, haus
  • mengantuk, detak jantung yang cepat,
  • tekanan darah rendah, gangguan pada ginjal
  • serangan jantung (efek lithium)
Penanganan
  • Kita mesti membawa si penderita ke seorang dokter jiwa atau psikiater yang dapat memberinya obat. Tanpa bantuan obat si penderita cenderung terus berhalusinasi dan kadang memperlihatkan perilaku yang mengancam.
  • Setelah "sembuh" barulah kita dapat mengajaknya bertemu dengan seorang psikolog atau konselor untuk membantunya mengatasi stres yang dialaminya. Pada umumnya ia tidak memiliki kemampuan menanggung stres sehingga rentan kambuh sewaktu merasa tertekan.
  • Jika perilakunya tidak terkendali, alternatif terbaik adalah menempatkannya di rumah perawatan supaya ia dapat menerima pengobatan dan kita pun terlindungi darinya.
  • Pada akhirnya si penderita membutuhkan perawatan terus menerus sebab begitu obat berhenti, mulai kambuhlah ia kembali.
  • Jika kita merawatnya di rumah, kita memerlukan tenaga tambahan sebab tidak mudah hidup dengannya.
Mazmur 68:6-7 berkata, "Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di tempat kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara . . . ." Seperti anak yatim dan seorang janda, penderita skizofrenia hidup sendirian, sebatang kara. Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan tidak melupakannya. Allah adalah pelindung baginya dan Ia memberi tempat kepadanya pula.
Read more

Sunday, April 14, 2019

Tahap Pembentukan Relasi

TAHAP PEMBENTUKAN RELASI
Tahap awal konseling biasanya menjadi tahap paling sulit, baik bagi konselor maupun klien. Barangkali ini mengejutkan bagi sebagian orang. Tetapi demikianlah kenyataannya. Ketika itu, untuk pertama kalinya mereka saling bertemu dalam relasi yang dalam arti tertentu bisa dikatakan formal tetapi juga tidak formal; hangat, tapi juga jauh; dan bagi sejumlah orang, bersifat sementara dan tidak alamiah. Mereka harus mengusahakan suatu relasi yang dapat disepakati dan menciptakan suasana kondusif bagi mereka untuk menangani masalah-masalah. Kadang-kadang ini tidak mudah dan konseling mungkin saja gagal jika klien tidak dilibatkan secara tepat dalam kerja sama dengan konselor.
Di beberapa wilayah Asia, mencari suatu pertolongan psikologis dianggap sebagai hal yang relatif baru sehingga konseling terkadang dipandang dengan curiga. Klien tidak cukup tahu dan mungkin saja berusaha mendapatkan konseling tanpa mencari penjelasan sebelumnya. Mereka mungkin saja mengalaminya sebagai sebuah gagasan baru dan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Di atas semuanya itu, jarang sekali orang pergi menemui seseorang yang belum dikenal untuk membeberkan masalah-masalah pribadi.
Kadang-kadang klien mungkin saja memikirkan konselor sebagai seseorang dari kalangan profesi medis atau serikat agama tertentu. Mereka sudah terbiasa mencari pertolongan dari orang-orang ini dan barangkali tidak mengerti peranan para konselor. Ketika mempertimbangkan hal ini, mungkin mereka mengajukan sejumlah pertanyaan tentang konselor, latar belakangnya, pengalaman kerjanya, dan kehidupan pribadinya. Ho (1987) dalam "Family Therapy with Ethnic Minorities" menyarankan agar konselor tidak merasa enggan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan klien agar mereka bisa percaya pada konselor dan hubungan klien-konselor pun dapat berjalan baik. Pokok ini penting untuk diingat sebab para konselor cenderung mengambil sikap budaya Barat, terlebih karena kebanyakkan kepustakaan dan model pelatihan berasal dari Barat. Mereka bisa saja lupa menyesuaikan konteks.
Pada tahap awal konseling ini, konselor harus fokus pada usaha membentuk relasi dengan klien. Ini mencakup usaha melibatkan klien pada suatu kerja sama untuk memulai proses konseling sehingga sasaran-sasaran konseling dapat tercapai. Apa pun nama yang kita berikan pada relasi kerja sama itu, sasarannya adalah agar konselor bisa masuk dalam kehidupan klien untuk membantu dan mengarahkannya pada solusi efektif atas masalah-masalahnya. Inilah tugas konselor dalam pertemuan pertama.
Pesan favorit Jay Haley bagi para stafnya sebelum mereka bertemu dengan klien adalah "Berusahalah mengenal klien dan usahakan agar ia menyukai Anda." Ia yakin, bila pertemuan pertama dapat berjalan lancar dan jika klien dapat merasa senang dengan konselor, intervensi lebih jauh lagi akan dapat dilakukan. Minuchin menyatakan bahwa seorang konselor harus mendapatkan hak untuk bisa masuk ke dalam kehidupan klien dan harus berusaha menarik klien untuk bisa bekerja sama pada tahap awal. Ini menuntut keluwesan sehingga dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan sosok dan situasi klien. Jika klien sedih, konselor harus bersedia bersikap ramah dan memberi perhatian. Jika klien terbiasa memperlihatkan sikap resmi, konselor mungkin perlu bersikap rileks dan tidak formal untuk meredakan ketegangan. Jika klien bersikap bermusuhan, sebaiknya konselor berbicara lembut dan memberi tahu klien, "Saya siap mendengarkan Anda dan bersedia bekerja sama dengan Anda untuk memecahkan masalah apa pun yang Anda hadapi."
Agar dapat bekerja sama secara efektif dengan klien, konselor harus memperlihatkan sikap bahwa ia tertarik pada masalah klien dan sedang berusaha bekerja sama dengan klien. Seperti yang ditekankan Haley, adalah penting bagi klien untuk merasakan kehadiran konselor di sisinya. Ini dapat diwujudkan dengan memperlihatkan minat mendalam kepada klien.
    Orang datang tidak hanya datang untuk meminta pertolongan, tetapi juga untuk dikuatkan dalam sikap-sikap mereka dan agar muka mereka diselamatkan. Saya memperhatikan hal ini dan hampir dapat dipastikan bahwa saya akan berbicara dalam satu cara yang membuat mereka berpikir bahwa saya ada di sisi mereka (Haley, 1973).
Mempersatukan itu butuh waktu. Tidak seorang konselor pun boleh memburu-buru pasien untuk itu. Jika para klien dapat dilibatkan secara tepat, biasanya mereka akan menjadi lebih kooperatif.
  1. Tahap Pertama
    1. Kontak awal
    2. Tahap pertama konseling dimulai dengan berbagai bentuk kontak awal yang dilakukan klien terhadap biro. Sejumlah klien datang begitu saja tanpa membuat perjanjian terlebih dulu sebab mereka mengandaikan bahwa konselor bisa dijumpai kapan pun mereka membutuhkan pertolongan. Jika biro Anda terbuka untuk menerima klien yang datang tanpa perjanjian terlebih dulu, tentunya ada langkah- langkah untuk menerima klien-klien ini, misalnya menjelaskan apa yang dilakukan biro itu dan memperkirakan jenis bantuan yang dibutuhkan.
      Kebanyakan biro menerima klien melalui telepon untuk membuat janji pertemuan terlebih dulu. Kontak telepon ini harus ditangani secara tepat sehingga jauh sebelum pertemuan klien mengetahui apa yang diharapkan dari mereka. Biasanya klien akan dimintai sejumlah keterangan. Baik juga jika mereka bisa menerangkan secara ringkas bagaimana mereka mengetahui pelayanan biro itu dan jenis bantuan yang diperlukan. Akan baik juga jika konselor pada tahap ini menanyakan orang-orang dekat lainnya yang mungkin mengetahui masalah yang dihadapi klien. Keluarga langsung, jalinan kekerabatan, dan orang-orang lain yang terlibat dapat diundang untuk menghadiri pertemuan pertama. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati mengingat ada klien yang mungkin tidak menghendaki seorang anggota keluarga lainnya atau siapa pun juga, tahu tentang kontaknya dengan konselor. Klien-klien tertentu bahkan tidak menghendaki anggota keluarga lain itu terlibat dalam cara apa pun juga.
      Sangatlah penting bagi klien untuk mendapatkan informasi tentang biro tersebut dan barangkali juga biaya yang harus dibayar. Semakin banyak pusat konseling yang menarik bayaran dan hal ini harus dikatakan, mengingat praktik seperti ini sudah diterima secara umum. Yang paling penting di sini adalah berupaya sejauh mungkin untuk memberikan kesan bagi klien sehingga merasakan kontak telepon sebagai ungkapan selamat datang sehingga proses pembentukan relasi dapat dimulai dari tahap ini.
    3. Tahap sosial
    4. Karena kontak awal dengan biro tersebut belum tentu merupakan kontak dengan konselor, maka pertemuan pertama tentunya merupakan saat pertama di mana konselor dan klien saling berjumpa satu sama lain. Untuk alasan ini, konselor tidak boleh lupa untuk membuat klien merasa diterima dan senang. Haley (1987) menunjuk hal ini sebagai tahap sosial dari wawancara pertama. Ho (1987) mengingatkan bahwa keramahan hubungan antarpribadi, yang untuk sebagian besar merupakan gaya hidup orang Asia, tidak boleh diabaikan.
      Konselor harus menyapa klien dan berusaha membuatnya senang. Sebaiknya klien dipersilakan untuk menentukan di mana ia ingin duduk. Setelah ia memilih tempat duduknya, barulah Anda duduk. Tindakan ini dimaksudkan untuk membuat klien merasa rileks dan diterima. Jika ada satu bahan yang dapat dibicarakan secara umum, mulailah dengan pokok pembicaraan tersebut. Mungkin kita bisa mulai dengan membicarakan masalah lalu lintas. Karena konselor diharapkan mengetahui latar belakang klien, pengetahuan konselor tersebut dapat juga dijadikan titik awal, misalnya saja tentang sekolahnya atau tempat kerjanya. Jika klien berminat pada satu permainan atau olah raga tertentu, bicaralah tentang hal tersebut. Pendeknya, usahakan membuat ikatan dengan klien.
      Kemudian, topik percakapan dapat dialihkan pada tujuan klien dengan konseling tersebut. Cari tahu bagaimana ia mengetahui biro Anda dan apa yang sudah dikatakan orang padanya. Jika ternyata ia adalah klien rujukan, tanyakan siapa yang merujuknya dan mengapa. Berilah ia sedikit kesempatan untuk berbicara. Kadang-kadang klien mengandaikan konselor telah mengetahui latar belakangnya karena sudah ada kontak awal ketika membuat perjanjian pertemuan. Dalam kasus ini, konselor dapat segera menyinggung bahwa ia sudah tahu kebutuhan klien dan gembira dapat bertemu klien secara pribadi.
      Jika konselor melihat lebih dari satu orang dalam pertemuan pertama itu, ia dapat memulai dengan salah seorang dari antara mereka yang kelihatan siap untuk berbicara, kemudian beralih pada yang lain. Sekali klien mulai berbicara, konselor harus membuat parafrase, memantulkan perasaan-perasaannya, menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka, penajaman, dan peringkasan. Tujuannya adalah mempermudah klien untuk membuka diri dan menghayati apa yang sedang dibicarakan. Pertanyaan-pertanyaan tertutup harus dihindari dan dipakai hanya untuk memeriksa dengan tujuan memperjelas dan mencari informasi.
    5. Menata Pertemuan
    6. Jika seluruh anggota keluarga datang bersama-sama, konselor perlu mempermudah interaksi di antara para anggota keluarga itu. Memberi kesempatan pada setiap anggota untuk berbicara akan membantu keluarga tersebut untuk merasa dibutuhkan dalam pertemuan itu. Jika orang tua juga hadir, mereka harus diberi kesempatan bicara terlebih dulu. Ini wajar mengingat dalam kebudayaan Asia orang tua memandang diri mereka sebagai nakhoda keluarga dan mengenai hal ini kita perlu menghargainya. Apabila berhadapan dengan orang yang lebih tua, konselor yang berusia muda harus selalu memperlihatkan sikap penuh hormat dan rendah hati. Ia juga harus berbicara kepada mereka secara tepat dengan bahasa yang sungguh-sungguh mereka kenal. Jika berhadapan dengan pasangan suami-istri, setelah tahap sosial awal, konselor barangkali ingin berbicara dengan salah satu pihak yang memperlihatkan keengganan dalam mengungkapkan masalah yang membuat mereka melakukan konseling. Konselor harus selalu memimpin pertemuan tersebut. Ia tidak boleh membiarkan keluarga itu berdebat secara berkepanjangan. Sebaliknya, ia harus mengarahkan jalannya percakapan dan melakukan campur tangan kapan pun salah seorang terlihat menguasai pertemuan itu. Keterampilan yang harus selalu dipraktikkan adalah membuat ringkasan. Langkah ini adalah untuk memberi jeda dalam pertemuan itu, sehingga konselor akan dapat memberi kesempatan bicara pada pihak yang lain.
      Amatlah penting bagi konselor untuk dapat menghadirkan struktur pertemuan dan proses konseling sebagai satu kesatuan. Ia dapat mulai dengan memperkenalkan dirinya sendiri secara singkat. Ini akan membantu klien mengenal si konselor, entah ia seorang dokter, rohaniawan atau pekerja sosial. Terkadang ada lebih dari satu staf hadir dalam pertemuan itu; mungkin ia adalah satu-satunya orang yang paling tahu tentang biro itu dan apa itu konseling. Konselor dapat merencanakan apa yang harus ia katakan. Kepada seorang anak yang diikutsertakan dalam konseling, saya biasanya menanyakan apa yang dikatakan padanya tentang diri saya. Sejumlah orang tua membawa anak-anak menemui saya dan mengatakan pada mereka bahwa mereka datang untuk mengunjungi "Paman Antoni", tanpa menjelaskan lebih jauh lagi. Saya biasanya mulai dari situ dan memberi kesempatan pada orang tua untuk menjelaskan apa yang dikerjakan "Paman Antoni" dan secara singkat menjelaskan mengapa mereka diajak untuk menemui saya.
      Konselor dapat meneruskan pertemuan dengan menceritakan satu hal tentang biro itu dan apa saja pelayanan yang diberikan lalu membicarakan apa yang diharapkan klien dari pertemuan tersebut. Jelaskan bahwa langkah itu merupakan pertemuan konsultasi atau pertemuan penjajagan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan dan bagaimana klien dapat dibantu.
      Konselor juga harus memiliki kepekaan khusus jika ia tahu ada orang lain dalam pertemuan tersebut yang datang dengan perasaan terpaksa. Hal seperti ini biasanya terjadi dalam kasus konseling perkawinan di mana suami diminta untuk hadir di luar kehendaknya sendiri. Anak usia remaja juga bisa jadi dipaksa untuk hadir oleh orang tuanya yang yakin bahwa dialah "masalahnya".
      Konselor harus bersikap lebih ramah dan lemah lembut kepada orang- orang yang terpaksa ini dan harus berbicara dengan baik. Kadang- kadang konselor juga perlu memberi tahu orang itu bahwa tidak apa- apa untuk tetap diam jika ia memang ingin begitu. Kadang-kadang setelah berbicara sedikit, saya akan memutuskan untuk berbicara dengan orang yang bersikap enggan tersebut secara pribadi, sekadar memberi perhatian khusus kepadanya. Saya akan mengungkapkan penghargaan saya atas kedatangannya kendati ia tidak bersedia. Dan saya akan memberi tahu dia bahwa saya merasa senang jika ia dapat menceritakan pada saya apa yang ia ketahui tentang masalah itu.
      Lazimnya, pertemuan konseling di Barat berlangsung antara 45 menit sampai satu jam. Barangkali hal ini masih agak asing di Asia mengingat pembatasan waktu masih merupakan hal baru bagi klien. Konseling dalam suasana resmi masih relatif baru dan para konselor tidak dapat mengandaikan bahwa klien mengetahui kapan pertemuan tersebut harus berakhir. Konselor harus memberi tahu klien berapa lama pertemuan konseling itu akan berlangsung. Informasi ini dapat disampaikan ketika melakukan kontak telepon. Biasanya akan sangat baik jika membatasi waktu pertemuan yang tidak lebih dari satu setengah jam kecuali ada situasi-situasi gawat atau kecuali konselor mempunyai jadwal yang sangat longgar. Banyak juga orang yang menganggap bahwa beberapa hal dapat diselesaikan dalam waktu satu jam, meskipun pertemuan pertama mungkin membutuhkan lebih banyak waktu. Pada akhir pertemuan pertama, klien juga harus diberi tahu kapan pertemuan-pertemuan selanjutnya akan diadakan.
  2. Tahap Penggalian dan Pemahaman
  3. Berbicara tentang tahapan, konseling bergerak dari satu tahap ke tahap lainnya (Yeo, 1981). Setiap tahap mempunyai fokus tertentu, tetapi batasan setiap tahap tersebut tidak begitu tegas. Konseling merupakan satu situasi dinamis dan ketika konselor masuk dalam tahap pembentukan relasi, yang merupakan tahap awal dalam setiap konseling, ia juga sudah masuk dalam tahap penggalian dan pemahaman.
    Tahap tengah dalam konseling ini merupakan bagian integral dari pertemuan pertama. Tahap ini merupakan bagian dari proses pembentukan relasi dan berkaitan dengan tahap pemecahan masalah. Pada tahap ini konselor masuk sedikit lebih jauh dalam dunia klien dengan penggunaan pertanyaan-pertanyaan dan pemusatan yang tepat. Dalam tahap ini ia mengarahkan klien untuk membicarakan masalah yang ia ajukan beserta dengan latar belakangnya. Sasarannya adalah membimbing klien untuk merumuskan masalahnya dan kemudian melanjutkannya dengan pemecahan masalah.
    Harus jelas bahwa dalam tahap ini konselor harus mampu merumuskan masalah yang diajukan. Beberapa petunjuk dari Haley (1987) dapat kita simak. Pertama, ia menyarankan agar konselor tidak membuat tafsiran atau komentar apa pun yang membuat klien melihat masalahnya dari sudut pandang lain. Ia hanya dituntut untuk menerima apa yang dikatakan klien. Kedua, konselor tidak boleh memberi nasihat pada tahap ini, bahkan apabila ia diminta. Ketiga, ia harus memusatkan perhatiannya pada usaha mengumpulkan informasi dan pendapat- pendapat. Keempat, ia harus mengarahkan perhatiannya pada satu pokok penting dan tidak terpecah pada masalah-masalah lainnya.
    Pada titik ini, pusat perhatian harus diarahkan pada masalah yang diajukan. Setiap penelaahan terhadap masa lampau dan masalah-masalah lainnya, betapa pun menariknya, atau kelihatan penting di mata konselor, haruslah dihindari. Demikian juga konselor tidak perlu menangani konflik-konflik perkawinan apabila seorang anak dihadirkan sebagai "problem" atau "pasien yang ditunjuk". Sejumlah terapis keluarga memang sering kali membuat dugaan bahwa anak yang memiliki problematika biasanya merupakan gejala sebuah perkawinan yang bermasalah, tetapi konselor tetap saja harus menangani masalah yang diajukan. Masalah perkawinan dapat ditangani kemudian dalam pertemuan-pertemuan lain, atau pada saat pasangan suami-istri tersebut sudah siap untuk itu.
Read more